Senin, 10 Juni 2019



Memaafkan


Setiap manusia di dunia ini, tak luput dari kesalahan. Baik itu kesalahan yang disengaja ataupun tidak disengaja. Tanpa atau dengan disadari, terkadang kita membuat orang lain sakit hati, terkadang pula orang lain lah yang membuat kita sakit hati. Tak jarang sakit hati itu pun menimbulkan dendam yang tidak pernah padam.

Sulit rasanya untuk meminta maaf atas kesalahan yang kita perbuat kepada orang lain. Terkadang kita dikalahkan oleh rasa ego kita dengan berkata “kalau minta maaf berarti kita kalah”. Sesulit kita meminta maaf kepada orang lain, sesulit itu pun kita untuk memaafkan kesalahan orang lain terhadap kita. Padahal kita pun juga tak luput dari berbuat salah kepada orang lain. Lalu mengapa kita masih sulit memaafkan? 
قَوْلٌ مَعْرُوفٌ وَمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِنْ صَدَقَةٍ يَتْبَعُهَا أَذًى ۗ وَاللَّهُ غَنِيٌّ حَلِيم
Artinya : Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun (Q.S Al-Baqarah : 263)
Berdasarkan ayat diatas, orang yang memberikan maaf nya atas kesalahan orang lain lebih baik dibanding sedekahnya orang yang diiringi dengan ucapan yang menyakitkan penerima sedekah. Kita sebagai orang beriman diminta oleh Allah SWT untuk memberi kan maaf dan memberi kan nasihat agar mereka kembali kejalan yang lurus.
Saat orang lain menyakiti hati kita, sangat sulit rasanya untuk tidak membalas perbuatanya. Tentu pernah terbesit keinginan untuk balas dendam. Namun islam mengajarkan agar setiap orang beriman senantiasa sabar, oleh sebab itu jangan lah kita membalas kejahatan yang kita terima dari orang lain dengan kejahatan pula.
وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۚ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ
Artinya : Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. (QS. Fushilat: 34)
Seringkali kita menganggap bahwa memaafkan orang lain adalah sikap yang lemah. Padahal justru sebaliknya. Orang yang menahan amarahnya sesungguhnya ia adalah orang yang kuat. Ia mampu menahan amarah atas kejahatan orang lain terhadapnya dengan tidak membalas nya, padahal ia mampu untuk membalasnya.
Rasulullah bersabda:
لَيْسَ الشَّدِيْدُ باِلصُّرْعَةِ إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
“Orang yang kuat bukan yang banyak mengalahkan orang dengan kekuatannya. Orang yang kuat hanyalah yang mampu menahan dirinya di saat marah.” (HR. Al-Bukhari no. 6114)
Setiap amal perbuatan itu mendapat balasan sesuai dengan jenis amal perbuatannya, sebagaimana kita mengampuni dosa orang yang berdosa kepada kita, maka Allah mengampuni pula dosa-dosa kita. Dan sebagaimana kita memaafkan, maka Allah pun memaafkan kita pula. Allah SWT berfirman :
وَلَا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۖ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Artinya : Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (Q.S An-Nur : 22)
Dengan tidak memaafkan, apakah hati kita akan menjafi tenang? Tidak. Tentu saja hati kita akan dipenuhi oleh rasa kebencian, menimbulkan penyakit hatj yakni dendam. Allah SWT berfirman :
وَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَتْهُمْ رِجْسًا إِلَىٰ رِجْسِهِمْ وَمَاتُوا وَهُمْ كَافِرُونَ
Artinya : Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, disamping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir (Q.S At-Taubah : 125)
Penyakit hati yang ada pada diri kita tersebut dapat membawa kita pada kekafiran dan mati dalam keadaan kafir. Orang yang di dalam hati nya masih tersimpan dendam tidak akan dibukakan untuknya pintu surga. Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda, 

“Pintu-pintu surga itu dibuka pada hari Senin dan Kamis, lalu diampunkanlah bagi setiap hamba yang tidak menyekutukan sesuatu dengan Allah, kecuali seseorang yang antara dirinya dan saudaranya itu ada rasa dendam, lalu dikatakanlah, ‘Nantikanlah dulu kedua orang ini sehingga keduanya berdamai kembali. Nantikanlah kedua orang ini sehingga keduanya berdamai kembali’,” (HR. Muslim).
Untuk apa kita membalas kejahatan dengan kejahatan? Sedangkan dengan tidak membalasnya dapat mendatangkan pahala? Rasulullah bersabda
 “Apabila ada seseorang yang mencacimu atau menjelek-jelekanmu dengan aib yang ia ketahui ada padamu, maka janganlah kamu balas memburukkannya dengan aib yang kamu ketahui ada padanya. Maka pahalanya untuk dirimu dan dosanya untuk dia,” (HR. Al Muhamili dalam Amalinya no 354, Hasan)
Selain memaafkan kesalahan orang lain terdap kita, maka kita pun juga harus meminta maaf atas kesalahan kita terhadap orang lain. Sebab setiap manusia tak luput dari kesalahan. Janganlah kita menunda-nunda meminta maaf sebab kita tidak tahu kapan ajal akan menjemput.
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallambersabda,
 “Orang yang pernah menzhalimi saudaranya dalam hal apapun, maka hari ini ia wajib meminta perbuatannya tersebut dihalalkan oleh saudaranya, sebelum datang hari dimana tidak ada ada dinar dan dirham. Karena jika orang tersebut memiliki amal shalih, amalnya tersebut akan dikurangi untuk melunasi kezhalimannya. Namun jika ia tidak memiliki amal shalih, maka ditambahkan kepadanya dosa-dosa dari orang yang ia zhalimi” (HR. Bukhari no.2449)
Hal yang menyebabkan kita sulit untuk meminta maaf ataupun memaafkan tak lain adalah kita merasa bahwa diri kita lah yang paling benar. Sikap itu menjadikan kita merendahkan orang lain dan menganggap bahwasanya diri sendiri lah yang benar serta yang lain adalah salah. Janganlah demikian. Kita juga harus senantiasa mengintrospeksi diri, sebab manusia tak pernah luput daru dosa. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman,
فَلا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى
..Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (Qs. An-Najm:32)
Islam mengajarkan kepada kita bukan dengan memiliki sifat “merasa”, melainkan berlomba-lomba dalam kebaikan. Oleh sebab itu mulailah introspeksi diri kita serta saling maaf memaafkan antar sesama.
Diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash, beliau berkata, 
“Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya, ‘Siapakah orang yang paling utama?’ Beliau menjawab, ‘Setiap orang yang bersih hatinya dan benar ucapannya.’ Para sahabat berkata, ‘Orang yang benar ucapannya telah kami pahami maksudnya. Lantas apakah yang dimaksud dengan orang yang bersih hatinya?’ Rasulullah menjawab, ‘Dia adalah orang yang bertakwa (takut) kepada Allah, yang suci hatinya, tidak ada dosa dan kedurhakaan di dalamnya serta tidak ada pula dendam dan hasad.'” (Dikeluarkan oleh Ibnu Majah 4216 dan Thabarani, dan dishahihkan oleh Imam Albani di dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah)


Kamis, 09 Mei 2019

                                                 Membaca Al quran



Terkadang kita terlalu malas untuk membaca al-quran. Bahkan al-quran itu masih tertata rapi di rak kita, menandakan jarang sekali kita membukanya. Padahal banyak sekali kemuliaan yang didapat dengan membaca al-quran.
Al quran merupakan kitab suci umat islam yang diturunkan kepada Nabi Muhammmad SAW. Al Qur’an diturunkan secara beransur-ansur dalam masa 22 tahun 2 bulan 22 hari.

Allah SWT berfirman :
وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً ۚ كَذَٰلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ ۖ وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيلًا


Artinya : Berkatalah orang-orang yang kafir: "Mengapa Al Quran itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?"; demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil (teratur dan benar) (Q.S Al-Furqan : 32)
Berdasarkan ayat tersebut, dapat diketahui bahwa turun nya al-quran secara berangsur-angsur adalah untuk menguatkan dan menetapkan hati Rasulullah SAW dalam berdakwah menyampaikan kebenaran kemudian agar memudahkan pelafalan al quran dengan benar. Hikmah lainnya mengapa al quran diturunkan secara berangsur-angsur adalah mengikuti peristiwa-peristiwa yang terjadi pada saat itu. Allah SWT berfirman:

وَقُرْآناً فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَى مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنزِيلاً ﴿١٠٦﴾
Artinya : Dan Al Quran itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian. 
(Q.S Al Isra : 106)


Seringkali kita melupakan waktu untuk membaca al quran. Kita terlalu sibuk dengan urusan dunia sehingga lupa dengan al quran. Padahal dengan membaca al quran kita akan memperoleh banyak sekali nikmat. Sebagai umat yang beriman, hendaknya kita membaca al-quran dengan benar dan memahaminya dengan sepenuh hati kita. Allah SWT berfirman:

الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلَاوَتِهِ أُولَٰئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِ ۗ وَمَنْ يَكْفُرْ بِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ



Artinya : Orang-orang yang telah Kami berikan Al Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya. Dan barangsiapa yang ingkar kepadanya, maka mereka itulah orang-orang yang rugi. (Q.S Al-Baqarah : 121)

Al-quran merupakan pedoman hidup umat manusia. Di dalam al-quran terdapat panduan untuk menjalani  kehidupan di dunia. Rasulullah Saw, bersabda:
“Aku telah meninggalkan pada kamu sekalian dua perkara yang kamu tidak akan sesat selama kamu berpegang teguh kepada keduanya, yaitu kitab Allah (Al-Qur’an) dan sunnah (hadits) Nabi-Nya.” (HR.Malik)

Allah SWT berfirman :
ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ
Artinya : Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa (Q.S Al-baqarah : 2)

Allah SWT berfirman :
هَٰذَا بَلَاغٌ لِلنَّاسِ وَلِيُنْذَرُوا بِهِ وَلِيَعْلَمُوا أَنَّمَا هُوَ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ وَلِيَذَّكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ
Artinya : (Al Quran) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengan-Nya, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran (Q.S Ibrahim : 52)

Apabila kita berpegang teguh kepada al-quran maka kita akan keluar daripada kebodohan menuju kepada pengetahuan. Allah SWT berfiman :
الر ۚ كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَىٰ صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ
Artinya : Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. (Q.S Ibrahim : 1)

Seringkali manusia membaca al quran dengan tergesa-gesa karena ingin cepat menghafalnya. Padahal hal tersebut dilarang oleh Allah SWT. Allah SWT berfirman :

لَا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ
Artinya : Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Quran karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya (Q.S Al-Qiyamah : 16)

Saat malam hari, seringkali kita menghabiskan waktu untuk hal yang kurang bermanfaat seperti menonton acara televisi yang hanya mengandung maksiat. Padahal waktu malam hari tersebut bisa kita gunakan untuk membaca al-quran.
Abu Musa Al Asy’ary radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya aku benar-benar mengetahui suara kelompok orang-orang keturunan Asy’ary dengan bacaan Al Quran, jika mereka memasuki waktu malam dan aku mengenal rumah-rumah mereka dari suara-suara mereka membaca Al Quran pada waktu malam, meskipun sebenarnya aku belum melihat rumah-rumah mereka ketika mereka berdiam (disana) pada siang hari…” (HR. Muslim).

Allah memerintahkan hamba Nya untuk bangun di malah hari dalam keadaan yang sunyi untuk mengerjakan salat dan membaca al quran secara perlahan. Allah SWT berfirman :

يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ (١)قُمِ اللَّيْلَ إِلا قَلِيلا (٢)نِصْفَهُ أَوِ انْقُصْ مِنْهُ قَلِيلا (٣)أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلا (٤)
Artinya : (1) Wahai orang yang berselimut. (2) Bangunlah di malam hari, kecuali sedikit. (3)Seperduanya atau kurangilah daripadanya sedikit. (4) Atau tambah daripadanya, dan bacalah al Quran dengan perlahan-lahan. (Q.S Al Muzzamil : 1-4)

Membaca al-quran tidak hanya sekedar membaca saja, tetapi juga mentaddaburinya. Maksud dari taddabur yakni memahami makna, merenungi dan mengamalkan ayat-ayat al-quran.
Allah SWT berfirman :
كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ
 Artinya : Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran. (Q.S As-shad : 29)

Mereka yang hanya membaca al-quran saja tanpa mentaddaburinya dikatakan memiliki hati yang terkunci sehingga kebenaran yang tekandung dalam ayat al-quran tak bisa masuk kedalam hatinya. Allah SWT berfirman :

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا
Artinya : Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci? (Q.S Muhammad : 24)

Dengan membaca setiap huruf dalam al-quran kita telah mendapat 10 kebaikan. Sungguh nikmat yang telah kita dapatkan hanya dengan membaca al-quran.
“Barang siapa yang membaca satu huruf dari Al-Qur’an maka baginya kebaikan sepuluh kali lipat, aku tidak mengatakan Alif Lam Mim satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, Mim satu huruf.” (Shahih HR.Tirmidzi)
Seorang mukmin yang membaca al-quran dimisalkan dengan buah utrujah yang harum dan manis,
“Perumpamaan seorang mukmin yang membaca Al Qur’an seperti buah utrujah yang memiliki wangi yang sedap dan rasa yang manis. Sedangkan perumpamaan seorang mukmin yang tidak membaca Al Qur’an ibarat buah tamar (kurma) yang tidak memiliki bau namun rasanya manis. Adapun perumpamaan seorang munafiq yang membaca Al Qur’an ibarat buah roihanah yang memiliki wangi yang sedap tapi rasanya pahit. Dan perumpamaan seorang munafiq yang tidak membaca Al Qur’an ibarat buah handzholah yang tidak memiliki bau dan rasanya pahit”. (HR. Muslim, 1896)

Oleh sebab itu,  hendaklah kita meluangkan waktu kita untuk membaca al-quran. Dengan membaca al-quran kita akan memperoleh ketentraman hati, pahala yang berlimpah, mendapat petunjuk untuk setiap permasalahan dan keutamaan lainnya. Lantas masihkah kita malas untuk membaca Al-quran??


Rabu, 10 April 2019

Semangat Menuntut Ilmu

Semangat dalam menuntut ilmu. Sebagian dari kita masih di berikan kesempatan untuk mengenyam pendidikan hingga ke bangku perkuliahan, sedangkan sebagaian nya lagi harus berupaya keras agar dapat merasakanya, bahkan tak jarang harus mengikhlas kannya. Namun ternyata, keberuntungan yang didapat oleh mereka yang mampu merasakan nikmatnya menuntut ilmu hingga bangku perkuliahan tersebut seringkali tidak disyukuri.
Ketika diberi tugas, ia mengeluh. Ketika tidak beri tugas, ia pun tetap mengeluh dengan berbagai alasan lain, entah itu jenuh dengan kegiatan perkuliaan, stress atau alasan lain nya. Firman Allah dalam surah Al-Ma'arij ayat 19-21 :
"Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir. (QS. Al Ma'arij: 19-21)
Untuk apa kita berkeluh kesah? Keluh kesah tidak akan menyelesaikan permasalahan yang sedang kita hadapi. Apakah dengan berkeluh kesah tugas-tugas kita akan selesai? Tentu nya tidak. Maka keluh kesah tidak mendatangkan manfaat apapun. Bukanya mendatangkan manfaat, keluh kesah justru membuat kita sering berfikiran negatif bahkan membuat kita stress.
 Mengapa tidak sikap keluh kesah kita ganti dengan syukur? Dengan bersyukur, maka segalanya akan terasa lebih mudah. Berbeda dengan keluh kesah yang dapat dengan mudah nya dilakukan bahkan tak jarang menjadi kebiasaan, bersyukur terkadang sulit untuk dilakukan. Bersyukur bukan hanya saat kita memperoleh kesenangan, namun ketika kita diberikan cobaan pun, hendaknya kita senantiasa bersyukur dan bersabar.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu dia berkata, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اُنْظُرُوْا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلاَ تَنْظُرُوْا إِلَى مَنْ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوْا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ.
“Lihatlah kepada orang-orang yang lebih rendah daripada kalian, dan janganlah kalian melihat kepada orang-orang yang berada di atas kalian, karena yang demikian itu lebih patut bagi kalian, supaya kalian tidak meremehkan nikmat Allâh yang telah dianugerahkan kepada kalian.”
Jika menuntut ilmu mulai dirasa sulit oleh kita, jangan menjadikan kita berkeluh kesah. Coba kita lihat dan renungkan kembali, seberapa beruntungnya kita. Diluar sana, masih banyak anak2 yang ingin bersekolah, namun tidak bisa. Ingat pula perjuangan kedua orang tua kita yang kerja membanting tulang agar dapat menyekolahkan anak-anaknya agar tidak bernasib seperti mereka. Manusia yang seringkali memperhatikan nikmat-nikmat Allah SWT yang berlimpah, dan menyadari bahwa itu semua hanyalah semata-mata karunia dan kebaikan Allah SWT maka tentu dia akan sangat bersyukur kepada-Nya.
Sikap lain yang harus kita hindari dalam menuntut ilmu yakni sikap malas. Ketika diberi kesempatan untuk bersekolah bahkan sampai berkuliah, rasa malas masih saja menjadi pemenang dalam diri kita. Sering membolos, tidak mengerjakan tugas, datang terlambat, bukankah contoh-contoh tersebut cukup membuktikan bahwa kita masih saja kalah dari rasa malas?  Ketahuilah bahwa ilmu lebih baik dibanding harta. Oleh sebab itu, kejar dan tuntutlah ilmu sama seperti kita semangat dalam mengejar harta.
Ali bin Abi Tholib radhiyallahu anhu berkata :
الْعِلْمُ خَيْرٌ مِنْ الْمَالِ. الْعِلْمُ يَحْرُسُك، وَأَنْتَ تَحْرُسُ الْمَالِ. الْعِلْمُ حَاكِمٌ وَالْمَالُ مَحْكُومٌ عَلَيْهِ. مَاتَ خَزَّانُ الْأَمْوَالِ وَبَقِيَ خَزَّانُ الْعِلْمِ أَعْيَانُهُمْ مَفْقُودَةٌ، وَأَشْخَاصُهُمْ فِي الْقُلُوبِ مَوْجُودَةٌ
“Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu bisa menjagamu, sedangkan harta kamu yang menjaganya. Ilmu sebagai hakim sementara harta objek yang dihukumi. Penumpuk harta mati, sedangkan penghimpun ilmu tetap abadi, karena walaupun jasad mereka telah tiada, akantetapi kepribadian mereka tetap hidup dihati” (Adabud Dunya Wad Diin, Almawardi hal.48)
Semangat menuntut ilmu dapat muncul dalam diri kita, apabila kita mengetahui manfaat dari ilmu itu sendiri. Dengan ilmu kita dapat membedakan yang mana yang benar dan yang mana yang salah. Dengan ilmu pula, akan meningkat derajat seseorang. Mereka yang berilmu senantiasa mendapatkan penghormatan yang baik. Firman Allah SWT :

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu, berilah kelapangan di dalam majelis-majelis, maka lapangkanlah. Niscaya Allah Swt. akan memberi kelapangan untukmu. Apabila dikatakan, berdirilah kamu, maka berdirilah. Niscaya Allah Swt. akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Swt. Mahateliti apa yang kamu kerjakan.” (Surah al-Mujmadalah/58: 11)
Tanpa ilmu kita tak akan mengeti tata cara beribadah kepada Allah SWT. Sehingga mereka yang malas dalam menuntut ilmu tak hanya rugi dalam urusan dunia melainkan juga akhiratnya. Sebab ilmu mengajarkan kita segala sesuatu yang tidak kita ketahui. Allah SWT berfirman  : “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Paling Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantara kalam (baca tulis). Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”. (Q.S. Al ‘Alaq [96]: 1-5).
Dengan ilmu pula, maka kita akan menjadi pribadi yang bermanfaat bagi sesama. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
خَيْرُ الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلناسِ
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni. Hadits ini dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ no:3289)
Oleh sebab itu, semangatlah kita dalam menuntut ilmu. Hilangkan sikap malas dan keluh kesah yang akan menghilangkan semangat kita dalam menuntut ilmu.

Senin, 11 Maret 2019

Mulutmu harimaumu. Tentu nya peribahasa yang satu ini sudah tak asing lagi di telinga kita. Tak berbeda dengan pisau, mulut pun merupakan sebuah senjata yang tajam. Mengapa? Sebab segala perkataan yang kita keluarkan dari mulut kita ini baik secara disengaja ataupun tidak disengaja dapat membahayakan diri kita sendiri juga orang lain.
Salah satu perilaku tercela yang tanpa kita sadari kita lakukan dan bersumber dari mulut kita yakni ghibah. Allah SWT berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain. [al Hujurat/49 : 12]. 
Dalam Al Adzkar (hal. 597), Imam Nawawi rahimahullah menyebutkan, “Ghibah adalah sesuatu yang amat jelek, namun tersebar dikhalayak ramai. Yang bisa selamat dari tergelincirnya lisan seperti ini hanyalah sedikit. Ghibah memang membicarakan sesuatu yang ada pada orang lain, namun yang diceritakan adalah sesuatu yang ia tidak suka untuk diperdengarkan pada orang lain. Sesuatu yang diceritakan bisa jadi pada badan, agama, dunia, diri, akhlak, bentuk fisik, harta, anak, orang tua, istri, pembantu, budak, pakaian, cara jalan, gerak-gerik, wajah berseri, kebodohan, wajah cemberutnya, kefasihan lidah, atau segala hal yang berkaitan dengannya. Cara ghibah bisa jadi melakui lisan, tulisan, isyarat, atau bermain isyarat dengan mata, tangan, kepala atau semisal itu.”.
Dari definisi ghibah diatas, dapat disimpulkan bahwa ghibah merupakan salah satu penyakit hati. Asal usul ghibah bisa saja bersumber dari sifat iri dan dengki yang berada pada diri kita. Ketika kita melihat seseorang yang kita anggap cukup sukses, menimbulkan iri di hati kita sehingga menyebabkan kita membicarakan keburukan orang tersebut pada orang lain. Alangkah baiknya jika kesuksesan orang tersebut kita jadikan motivasi untuk meningkatkan kualitas diri kita sendiri menjadi lebih baik. Allah SWT berfirman :
وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا (32)
Dan janganlah kalian iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kalian lebih banyak dari sebagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu. (Q.S An-Nisa : 32)
Bukankah Allah SWT lebih mengetahui apa yang baik untuk diri kita dibandingkan diri kita sendiri? Bisa jadi kita menganggap baik sesuatu hal, padahal sebetulnya tidak. Kadang kita terlalu sibuk memikirkan kekayaan orang lain, keberuntungan orang lain, atau kesuksesan orang tersebut tanpa melihat seberapa keras usaha pencapaian orang tersebut. Sehingga tak jarang kita menganggap bahwa cobaan orang lain lebih mudah dibandingkan dengan cobaan yang kita hadapi saat ini. Padahal sesungguhnya setiap manusia masing-masing memiliki jalan nya masing-masing, memiliki rezeki nya masing-masing dan semuanya sudah sesuai takaran nya menurut Allah SWT. Allah SWT berfirman :
و عسى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وهُوَ خَيْرٌ لكَمْ وَعَسى أَنْ تُحِبُّوْا شَيْئا وهو شرٌّ لكم واللهُ يعلمُ وأَنْتُمْ لا تَعْلمُوْنَ
“Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”(QS. Al Baqarah: 216)
Sama seperti setiap orang yang memiliki kelebihannya masing-masing, maka setiap orang pula memiliki kekurangan nya masing-masing. Kelemahan yang Allah SWT berikan terhadap kita makhluknya bukan berarti bahwa Allah tidak menyayangi kita. Allah yang memberikan kelemahan dan kelebihan pada diri hamba, maka Allah pula yang lebih tahu apa maksud dibalik semua rahasiaNya.
Hendaknya kekurangan yang ada pada diri kita menjadikan kita bercermin diri. Bukan menjadikan kita ghibah membicarakan kekurangan-kekurangan pada diri orang lain. Mengapa waktu yang kita habiskan untuk ghibah tidak kita gunakan untuk bercermin diri? Selagi masih diberi kesempatan oleh Allah SWT, sebaiknya kita gunakan waktu kita untuk memperbaiki diri, sehingga akan lebih terasa manfaat nya untuk diri kita sendiri. Allah SWT berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (Q.S Al-Hasyr : 18)
Allah SWT melarang seorang hamba untuk berburung sangka terhadap hamba yang lain. Allah SWT menyebutkan perumpamaan ghibah yakni seperti memakan daging bangkai saudaramu sendiri, maka seharusnya kita merasa jijik dan menjauhi ghibah tersebut. Allah SWT berfirman :
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلا تَجَسَّسُوا وَلا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ (12)}
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. (Q.S Al-Hujurat : 12)
Dengan demikian, apabila kita pernah baik disengaja ataupun tidak disengaja melakukan ghibah, hendaknya kita memohon ampunan kepada Allah SWT dan tak lupa meminta maaf kepada orang yang bersangkutan sebelum ajal datang menghampiri kita. Sebab ajal datang kapan saja, dimana saja tanpa dapat diduga.

“Barangsiapa yang pernah menganiaya saudaranya baik yang berhubungan dengan kehormatan diri maupun sesuatu yang berhubungan dengan yang lain, maka hendaklah ia minta dihalalkan (minta maaf) sekarang juga sebelum datangnya saat dimana dinar dan dirham tidak berguna, dimana bila ia mempunyai amal salih maka amal itu akan diambil sesuai dengan kadar penganiayaannya, dan bila ia tidak mempunyai kebaikan maka kejahatan orang yang dianiaya itu diambilnya dan dibebankan kepadanya”. (HR. Bukhari).

Minggu, 10 Februari 2019


Malas dalam beribadah. Tentu dirikita seringkali diliputi rasa malas. Terutama dalam hal beribadah. Contoh yang sering ditemui yakni saat rasa malas masih saja menjadi penghalang diri kita melangkahkan kaki ke masjid walau jarak rumah kita hanya 10 langkah menuju masjid. Mengapa demikian? Rasa malas sesungguhnya timbul akibat kita meremehkan suatu hal. Sama halnya dengan beribadah. Karena kita menganggap remeh perintah Allah SWT  maka munculah rasa malas kita dalam melaksanakan kewajiban kita sebagai hamba-Nya. Dalam hal ini kita menganggap remeh perintah shalat berjamaah di masjid, yang akhirnya menjadikan kita malas.

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata,     
أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ أَعْمَى فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ لَيْسَ لِي قَائِدٌ يَقُودُنِي إِلَى الْمَسْجِدِ فَسَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُرَخِّصَ لَهُ فَيُصَلِّيَ فِي بَيْتِهِ فَرَخَّصَ لَهُ فَلَمَّا وَلَّى دَعَاهُ فَقَالَ هَلْ تَسْمَعُ النِّدَاءَ بِالصَّلَاةِ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَأَجِبْ
“Seorang buta pernah menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berujar, “Wahai Rasulullah, saya tidak memiliki seseorang yang akan menuntunku ke masjid.” Lalu dia meminta keringanan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk shalat di rumah, maka beliaupun memberikan keringanan kepadanya. Ketika orang itu beranjak pulang, beliau kembali bertanya, “Apakah engkau mendengar panggilan shalat (azan)?” laki-laki itu menjawab, “Ia.” Beliau bersabda, “Penuhilah seruan tersebut (hadiri jamaah shalat” (HR. Muslim no. 653)
           
Dari hadist tersebut dapat kita lihat bahsawanya orang buta yang tidak memiliki penuntun tetap diperintahkan untuk shalat berjamaah di Masjid, lalu bagaimanakah dengan kita yang masih sanggup melihat dengan jelas dan dengan jarak rumah yang hanya 10 langkah hingga sampai ke masjid? 
Tak hanya malas melaksanakan shalat dimasjid, bahkan melaksanakan shalat di rumah pun kita masih saja malas. Mengapa demikian? Sebab walau adzan telah terdengar, kita menganggap remeh perintah shalat sehingga akhirnya kita malas dan melalaikannya. Padahal shalat adalah amal yang pertamakali dihisab kelak dihari Kiamat.
 
Dari Abu Hurairah, beliau mendengar Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

 إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ فَإِنْ صَلَحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسَرَ فَإِنِ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيْضَتِهِ شَيْءٌ قَالَ الرَّبُّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى : انَظَرُوْا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ ؟ فَيُكْمَلُ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنَ الفَرِيْضَةِ ثُمَّ يَكُوْنُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى ذَلِكَ ” . وَفِي رِوَايَةٍ : ” ثُمَّ الزَّكَاةُ مِثْلُ ذَلِكَ ثُمَّ تُؤْخَذُ الأَعْمَالُ حَسَبَ ذَلِكَ
“Sesungguhnya amal hamba yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat adalah shalatnya. Apabila shalatnya baik, dia akan mendapatkan keberuntungan dan keselamatan. Apabila shalatnya rusak, dia akan menyesal dan merugi. Jika ada yang kurang dari shalat wajibnya, Allah Tabaroka wa Ta’ala mengatakan,’Lihatlah apakah pada hamba tersebut memiliki amalan shalat sunnah?’ Maka shalat sunnah tersebut akan menyempurnakan shalat wajibnya yang kurang. Begitu juga amalan lainnya seperti itu”
           
            Rasa malas dalam beribadah timbul karena kita tidak menyadari keberadaan kita umat manusia yang hanya sementara di dunia. Lantas bekal apakah yang akan kita bawa saat tiba ajal kita nanti? Mereka yang sadar bahwasannya hidup didunia hanyalah sementara, tidak akan menyia-nyiakan waktu nya untuk menuruti rasa malas. Dalam beribadah, ia akan sungguh-sungguh. Saat melaksanakan shalat, ia akan bersungguh-sungguh seolah-olah ia melaksanakan shalat di hari terakhirnya. Sehingga rasa malas pun tidak akan sanggup mengalahkan kesungguhannya seolah-olah tidak akan ada lagi shalat setelahnya.

Dari Abu Ayub Al Anshari radhiyallahu ‘anhu, dia berkata:

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ عَلِّمْنِي وَأَوْجِزْ قَالَ إِذَا قُمْتَ فِي صَلَاتِكَ فَصَلِّ صَلَاةَ مُوَدِّعٍ وَلَا تَكَلَّمْ بِكَلَامٍ تَعْتَذِرُ مِنْهُ وَأَجْمِعْ الْيَأْسَ عَمَّا فِي أَيْدِي النَّاسِ
“Seorang laki-laki menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata: “Ya Rasulullah. Berilah aku nasehat yang ringkas.” Maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kalau Engkau mengerjakan shalat, maka shalatlah seperti shalatnya orang yang hendak meninggalkan (dunia). Jangan berbicara dengan satu kalimat yang esok hari kamu akan meminta udzur karena ucapan itu. Dan perbanyaklah rasa putus asa terhadap apa yang ditangan orang lain

            Bahwasanya rasa malas juga dapat timbul karena kesombongan yang ada pada diri kita. contohnya, seorang siswa yang sombong dengan merasa dirinya sudah pintar maka ia menjadi malas belajar. Sama halnya, dengan seorang hamba yang merasa sombong dihadapan Allah SWT merasa bahwa ia cukup hebat dan berhasil di dunia ini tanpa bantuan-Nya. Ketahuilah bahwasannya rasa sombong hanya akan membawa kerugian pada diri sendiri, terlebih lagi sikap sombong terhadap Allah.  Kita sebagai makhluk ciptaan-Nya lah yang membutuhkan Allah SWT, bukan sebaliknya.

Allah SWT berfirman :“Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. Mereka jika melihat tiap-tiap ayat(Ku), mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus memenempuhnya. Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai dari padanya.” (Q.S Al-A’raf :146)
           
            Jangan biarkan rasa malas mengalahkan kesungguhan kita dalam beribadah. Rasa malas hanya membawa kerugian pada dirikita sendiri. Kerugian yang tak nampak dari rasa malas yakni waktu yang kita sia-siakan selama di dunia ini. Jangan sampai kita menjadi orang-orang yang menyesal kelak.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Tidak akan bergeser kaki manusia di hari kiamat dari sisi Rabbnya sehingga ditanya tentang lima hal: tentang umurnya dalam apa ia gunakan, tentang masa mudanya dalam apa ia habiskan, tentang hartanya darimana ia peroleh dan dalam apa ia belanjakan, dan tentang apa yang ia amalkan dari yang ia ketahui (ilmu).” (HR. At-Tirmidzi, Lihat Ash-Shahihah no. 946)

Kamis, 10 Januari 2019

Akhlaq




Akhlaq. Apa sebenarnya akhlaq itu? Kata akhlaq berasal dari bahasa arab yakni “Khulqun” yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku, atau tabiat. Kata akhlak mempunyai persesuaian dengan kata “Khaliq” yang berarti pencipta. Definisi Akhlaq menurut Imam Al-Ghazali yaitu hal ikhwal yang melekat dalam jiwa, daripadanya timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah tanpa difikir & diteliti.
Akhlaq sebagai suatu cara berbuat dan sebagai suatu tata aturan yang universal tidak hanya mengatur tata aturan terhadap sesama manusia & lingkungan hidup, tetapi juga mengatur bagaimana manusia bersikap & berbuat terhadap penciptanya.
Tata aturan dan tata tingkah laku terhadap Allah SWT pencipta manusia dan alam semesta berlaku universal dinyatakan melalui wahyu-wahyu yang tidak dapat disangkal kebenarannya adalah Al-Quran. Suatu akhlaq dikatakan baik jika sesuai dengan kehendak Allah SWT dan sunnah Nabi, yang dikatakan buruk jika tidak sejalan dengan kehendak Allah SWT.
Lalu kenapa sebenarnya manusia sebagai makhluk Allah SWT perlu mempelajari Akhlaq?  Sebab akhlaq memilikl tujuan agar menuntun kita sebagai hamba-Nya pada kebaikan.  Sebab manusia yang berilmu saja tidak cukup jika tidak dibarengi oleh akhlaq. Mengapa demikian? Manusia yang hanya berilmu tetapi tidak berakhlaq menggunakan ilmu yang dimilikinya hanya untuk kepentingannya sendiri. Lihat saja contohnya para pegawai pemerintahan, pengusaha bahkan sampai kepada mereka sang penegak hukum, ikut terlibat dalam tindak korupsi. Padahal mereka merupakan orang-orang yang dapat dikatakan berilmu. itulah contoh pentingnya akhlaq dalam kehidupan.
Lalu bagaimanakah akhlaq kita seharusnya terhadap Allah SWT yang menciptakan kita? Imam  Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,
“Keluhuran akhlak itu terbagi dua. Yang Pertama, akhlak yang baik kepada Allah, yaitu meyakini bahwa segala amalan yang anda kerjakan mesti (mengandung kekurangan/ketidaksempurnaan) sehingga membutuhkan udzur (dari-Nya) dan segala sesuatu yang berasal dari-Nya harus disyukuri. Dengan demikian, anda senantiasa bersyukur kepada-Nya dan meminta maaf kepada-Nya serta berjalan kepada-Nya sembari memperhatikan dan mengakui kekurangan diri dan amalan anda. Kedua, akhlak yang baik terhadap sesama. kuncinya terdapat dalam dua perkara, yaitu berbuat baik dan tidak mengganggu sesama dalam bentuk perkataan dan perbuatan”
Maka dapat dikatakan salah satu akhlaq yang baik terhadap Allah SWT yakni senantiasa bersyukur terhadap segala Nikmat yang Allah SWT telah berikan kepada kita selaku hamba-Nya. Nikmat yang Allah SWT berikan kepada kita tak dapat kita hitung jumlah-Nya, tetapi tetap saja kita selalu lupa uuntuk bersyukur kepada-Nya

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ
“Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)”.(Q.S Ibrahim : 34)
Kemudian akhlaq yang baik terhadap Allah SWT lainya yakni senantiasa bertaubat. Sebab kita selaku umat manusia tak luput dari kesalahan baik yang kita sadari ataupun tanpa kita sadari. Allah SWT berfirman :

وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًا
Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An Nisa’: 110)
            Jangan lah kita menunda-nunda taubat, sebab kita tak pernah tau kapan ajal akan menghampiri kita. Jangan sampai kita menyesal. Sebab penyesalan memang berada diakhir. Allah SWT berfirman :
Demikianlah beberapa akhlaq yang baik terhadap Allah SWT sang Pencipa. Lalu bagaimana akhlaq kita sebagai anak terhadap kedua orang tua? Allah SWT berfirman :
وَلَوْ يُؤَاخِذُ ٱللَّهُ ٱلنَّاسَ بِظُلْمِهِم مَّا تَرَكَ عَلَيْهَا مِن دَآبَّةٍ وَلَٰكِن يُؤَخِّرُهُمْ إِلَىٰٓ أَجَلٍ مُّسَمًّى ۖ فَإِذَا جَآءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَـْٔخِرُونَ سَاعَةً ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ
Jikalau Allah menghukum manusia karena kezalimannya, niscaya tidak akan ditinggalkan-Nya di muka bumi sesuatupun dari makhluk yang melata, tetapi Allah menangguhkan mereka sampai kepada waktu yang ditentukan. Maka apabila telah tiba waktunya (yang ditentukan) bagi mereka, tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukannya. (An-Nahl 16:61)
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. QS Al-Isra : 23-24.”
            Maka dapat dikatakan bahwasannya akhlaq yang baik terhadap orang tua ialah tidak berkata kasar kepada mereka. Jangankan berkata kasar, mengucapkan kata “ah” saja jelas sudah dilarang dalam Al-Quran. Kedua orangtua kita mengajarkan kita cara berbicara bukan untuk mendengar kata kasar kita kepada mereka. Sungguh teririslah perasaan setiap orang tua mendengar anaknya mengucapkan kata-kata kasar, terlebih lagi jika kata kasar tersebut ditujukan untuknya.
            Selain kepada kedua orang tua, islam juga mengajarkan akhlaq kita terhadap tetangga. Rasulullah SAW bersabda :
“Tetangga sebelum rumah, kawan sebelum jalan, dan bekal sebelum perjalanan.” (HR. Khathib)
Hendaknya kita menjalin hubungan yang baik dengan tetangga kita, sebab sesudah keluarga, tetanggalah orang yang dekat dengan kita. Lalu bagaimanakah hubungan baik yang dimaksud? Rasulullah SAW menguraikan bagaimana berbuat baik dengan tetangganya. Beliau bersabda:
“Hak tetangga itu ialah, apabila ia sakit kamu menjenguknya, apabila ia meninggal kamu mengiringi jenazahnya, apabila ia membutuhkan sesuatu kamu meminjaminya, apabila ia tidak memiliki pakaian kamu memberinya pakaian, apabila ia mendapatakan kebajikan kamu kmau mengucapkan selamat kepadanya, apabila ia mendapatkan musibah kamu bertakziah kepadanya, jangan engkau meninggalkan rumahmu atas rumahnya sehingga angin terhalang masuk rumahnya, dan janganlah kamu menyakitinya dengan bau periukmu kecuali kamu memberinya sebagian dari masakan itu.” (HR. Tabranni)
            Demikianlah beberapa akhlaq yang harus kita terapkan selaku Manusia sebagai hamba Allah SWT, sebagai seorang anak dan sebagai seorang tetangga.

Senin, 10 Desember 2018

Kenapa saya beragama islam?


Saya dilahirkan dari kedua orang  tua yang beragama islam. Keturunan keluarga saya pun semua nya beragama islam. Saya memulai pendidikan di sekolah Islam, sejak menginjak taman kanak-kanak hingga SMA oleh kedua orang tua saya, saya di sekolahkan di sekolah islam. Oleh sebab itu, dalam pergaulan pun saya berteman dengan orang-orang yang beragama islam seperti saya.

Kenapa saya beragama islam? Ada tiga istilah yang dikenal berkenaan dengan agama, yaitu : agama, religi, din.
 Secara etimologi, kata “agama” bukan berasal dari bahasa Arab, melainkan diambil dari istilah bahasa Sansekerta yang menunjuk pada sistem kepercayaan dalam Hinduisme dan Budhisme di India. Agama terdiri dari kata “a” yang berarti “tidak”, dan “gama” berarti kacau. Dengan demikian, agama adalah sejenis peraturan yang menghindarkan manusia dari kekacauan, serta mengantarkan menusia menuju keteraturan dan ketertiban.
Religion : Kata religion berasal dari bahasa latin, yang berarti dari kata "relegare"' Kata "relegare" dalam hal ini mempunyai pengertian dasar ..berhati-hati" dan berpegang pada norma-norma, aturan-aturan secara ketat. Dalam arti religi tersebut merupakan suatu keyakinan, nilai-nilai dan norma hidup yang harus dipegangi dan dijaga dengan penuh pengertian, agar jangan sampai menyimpang dan lepas. Sedangkan kata dasar "relegare" berarti mengikat yang berarti adalah mengikat diri pada kekuasaan ghaib yang suci. Kekuatan tersebut diyakini sebagai kekuasaan yang menentukan jalan hidup dan yang mempengaruhinya dalam kehidupan manusia. Dengan demikian kata "religi" tersebut pada dasarnya mempunyai pengertian adanya kekuatan ghaib yang suci, yang menentukan jalan hidupnya dan mempengaruhi kehidupan manusia yang dihadapi secara hati-hati dan diikuti aturan-aturan serta norma lepas dari kehendak/jalan yang telah ditentukan oleh kekuasaan ghaib yang suci tersebut.
Secara etimologi kata din berasal dari bahasa Arab yang artinya : patuh dan taat, undang-undang,peraturan dan hari kemudian. Maksudnya, orang yang ber-din ialah orang yang patuh dan taat terhadap peraturan dan undang-undang Allah untuk mendapatkan kebahagiaan dikemudian hari.
Kenapa tiap-tiap manusia beragama? Jawabanya yakni karena kebutuhan jiwa manusia. Jiwa tanpa agama akan mengalami kegoncangan, ketidak tenangan batin, ketidak puasan, keputus asaan, dan kekecewaan dalam kehidupan. Agama merupakan dorongan psikis yang mempunyai landasan alamiah dalam watak manusia. Dalam relung jiwanya manusia merasakan adanya dorongan untuk mencari dan memikirkan sang Penciptanya dan pencipta alam semesta juga dorongan untuk menyembah Tuhan agar merasa tenang dan tenteram. 
Manusia  merasa berhak untuk mengetahui dari mana dirinya berasal, untuk apa dia berada di dunia, apa yang mesti manusia lakukan demi kebahagiannya di dunia dan alam akhirat nanti, yang merupakan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah agama. Karenanya, sangatlah logis apabila agama selalu mewarnai sejarah manusia dari dahulukala hingga kini, bahkan sampai akhir nanti.
Secara naluri, manusia mengakui kekuatan dalam kehidupan di luar dirinya. Dapat dilihat ketika manusia mengalami kesulitan hidup, musibah, dan berbagai bencana. Manusia mengeluh dan meminta pertolongan kepada sesuatu yang serba maha, yang dapat membebaskannya dari keadaan tersebut. Naluriah membuktikan  manusia perlu beragama dan membutuhkan Sang Khaliknya.
Secara etimologis (asal-usul kata, lughawi) kata “Islam” berasal dari bahasa Arab: salima yang artinya selamat. Dari kata itu terbentuk aslama yang artinya menyerahkan diri atau tunduk dan patuh. Sebagaimana firman Allah SWT,
“Bahkan, barangsiapa aslama (menyerahkan diri) kepada Allah, sedang ia berbuat kebaikan, maka baginya pahala di sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula bersedih hati” (Q.S. 2:112).
Dari kata aslama itulah terbentuk kata Islam. Pemeluknya disebut Muslim. Orang yang memeluk Islam berarti menyerahkan diri kepada Allah dan siap patuh pada ajaran-Nya .
Kenapa saya beragama islam? Jawaban saya yang pertama adalah karena faktor keturunan.
Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam:
كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ
“Setiap manusia yang lahir, mereka lahir dalam keadaan fitrah. Orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi atau Nasrani” (HR. Bukhari-Muslim)
Kedua orang tua saya menganut agama islam, oleh karena itu sejak saya dilahirkan maka saya pun beragama islam dan mengikuti segala yang diajarkan oleh kedua orang tua saya berkenaan dengan ajaran islam, melihat kondisi saya yang masih kecil dan belum mengerti apa-apa apalagi membuat keputusan untuk memilih agama saya. Seperti salah satu contohnya yakni saya diajarkan untuk melaksanakan sholat 5 waktu. Pada saat itu saya melaksanakan sholat 5 waktu karena perintah dari orang tua dan karena perkataan orang tua bahwa saya beragama islam, Oleh sebab itu saya wajib sholat  5 waktu. Ini menandakan awal mula saya melaksanakan sholat lima waktu adalah semata  mengikuti kedua orang tua saya.  Tak pernah terpikir oleh saya bahwa Islam merupakan agama yang benar. Yang saya jalani setiap harinya adalah rutinitas sebagai muslim dan tanpa ada pemaknaan yang mendasar.
Kemudian ketika masuk usia sekolah, oleh kedua orang tua saya disekolahkan ke sekolah islam. Disinilah saya kemudian mulai mempelajari tentang agama islam. Semua penganut agama beranggapan bahwa agama yang ia anut adalah benar. Saya pun beranggapan bahwa agama islam yang saya anut adalah benar. Awal mula nya, anggapan benar mengenai agama islam ini muncul lagi-lagi karena faktor keturunan. Sebab saya beranggapan, tak mungkin kedua orang tua saya mengajarkan kepada saya hal yang mereka  anggap salah, oleh sebab itu islam yang mereka ajarkan kepada saya adalah benar. Kemudian, apabila seandainya orang tua saya berpindah agama, apakah saya juga akan mengikuti jejak mereka? Jawaban saya saat itu mungkin saja. 
Di sekolah islam tersebut saya mengenal al-quran. Dan bahwasanya al-quran adalah pedoman hidup umat manusia. Di dalam alquran inilah saya menemukan ayat yang membuat saya yakin bahwasanya islam adalah agama yang benar. Allah SWT berfirman :
هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ
Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang musyrik membenci. (Q.S As-Shaff : 9)
Namun kemudian, apa yang membuat saya yakin bahwasanya Al-quran adalah wahyu Allah SWT bukan melainkan karangan manusia? Sebab Al-quran menjelaskan segala macam peristiwa-peristiwa dimuka bumi ini jauh sebelum para ilmuan mengetahui dan menemukan hal-hal tersebut.. meski Alquran diturunkan 14 abad lalu, namun ayat-ayatnya banyak yang menjelaskan tentang masa depan dan bersifat ilmiah. Hal inilah yang mebuat saya yakin, bahwasanya Al-quran merupakan wahyu Allah SWT bukan karangan manusia.
Didalam Al quran juga saya menemukan ayat bahwasanya saya tidaklah berbeda dengan orang kafir apabila saya mengatakan bahwa saya beragama islam atas dasar faktor keturunan semata. 
وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا ۗ أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ
Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab: "(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami". "(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang
mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?".
Oleh sebab itu saya berpendapat bahwasanya saya harus mengetahui dasar saya beragama islam. Keyakinan terhadap Islam tidak bisa hanya dibuktikan dengan akal tapi juga hati dengan kemantapan yang teguh. banyak terjadil hal-hal yang memang di luar nalar manusia. Namun kita wajib meyakini bahwa sesuatu yang kita anggap tidak mungkin, jika Allah mengizinkannya maka bisa mungkin saja terjadi
Tidaklah mudah meyakinkan diri bahwa Allah itu selalu memperhatikan dan Maha Melihat dan Maha Mendengar. Iman Kepada Allah berarti yakin dan percaya bahwa Allah itu memang ada serta dialah yang menciptakan semua seisi alam semesta ini. Kemudian, faktor lain yang membuat saya yakin akan adanya Allah SWT yakni munculnya pemikiran bahwasanya alam semesta dan seisinya tidak mungkin ada dengan sendirinya, melainkan ada yang menciptakan. Gedung-gedung di dunia ini saja ada yang menciptakan yakni manusia, lantas mengapa gunung tidak? . Dalam Al-quran lah dijelaskan bahwa alam semesta diciptakan oleh Allah SWT. 
اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ ۖ مَا لَكُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا شَفِيعٍ ۚ أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ
Allah lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy. Tidak ada bagi kamu selain dari pada-Nya seorang penolongpun dan tidak (pula) seorang pemberi syafa'at. Maka apakah kamu tidak memperhatikan? (Q.S As-sajdah : 4)
Gedung paling tinggi di dunia butuh tiang untuk menjulang tinggi, tetapi langit tidak butuh tiang, tidak butuh penopang, ia sudah jadi atap tertinggi di dunia ini. Lalu, lihatlah matahari dan bulan, mereka bergantian penuh keteraturan. Matahari dari jam sekian sampai jam sekian pada musim tertentu. Bulan muncul pada waktu-waktu tertentu yang berpola sempurna. Di dunia nyata, kita butuh sebuah program untuk melakukan segala sesuatu menjadi otomatis. Lalu, untuk alam semesta, program apakah itu? Lagi-lagi, Alquran menjelaskan semuanya.
اللَّهُ الَّذِي رَفَعَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا ۖ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ ۖ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ ۖ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُسَمًّى ۚ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ يُفَصِّلُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ بِلِقَاءِ رَبِّكُمْ تُوقِنُونَ
Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan(mu) dengan Tuhanmu. (Q.S Ar-Ra'd : 2)

Hal itu membawa saya pada kesimpulan, bahwa memang seharusnya memilih berkeyakinan pada sebuah agama harus punya dasar yang kuat sehingga saya yakin bahwa apa yang saya pilih adalah tepat dan menghilangkan keragu-raguan serta menimbulkan kekhuyuk an dalam beragama