Minggu, 10 Juni 2018


Menjauhi Sikap Sombong

Salah satu akhlak yang harus dijauhi oleh kita sebagai hamba Allah SWT ialah sikap sombong. Banyak sekali hal-hal yang menjadikan manusia bersikap sombong, bisa karena ilmu nya ataupun hartanya. Manusia yang memiliki sikap sombong memandang orang lain dengan remeh, merasa seolah-olah dirinya nya lah yang paling hebat, paling sempurna padahal kesempurnaan hanya milik Allah SWT.
Mengapa kita bersikap sombong akan harta kita? Padahal harta hanyalah titipan dari Allah SWT. Saat kita sudah mencapai puncak kejayaan, seringkali kita lupa akan berbagi kepada sesama. Harta tersebut malah menjadikan kita memandang rendah orang lain. Allah SWT berfirman :
آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَأَنْفِقُوا مِمَّا جَعَلَكُمْ مُسْتَخْلَفِينَ فِيهِ ۖ فَالَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَأَنْفَقُوا لَهُمْ أَجْرٌ كَبِير
Artinya : Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar. (Q.S Al-Hadid : 7)
Alangkah baiknya semakin banyak harta yang kita miliki, semakin kita banyak berbagi. Namun, jangan jadikan niatan berbagi untuk mendapatkan pujian dari orang lain. Melainkan niat untuk mencari ridha Allah SWT. Allah SWT berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تُبْطِلُواْ صَدَقَاتِكُم بِالْمَنِّ وَالأذَى كَالَّذِي يُنفِقُ مَالَهُ رِئَاء النَّاسِ وَلاَ يُؤْمِنُ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْداً لاَّ
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir . “ (Al Baqarah:264)
Mereka yang sombong akan sedekahnya, yaitu melakukan sedekah semata mata hanya karena inging mendapat pujian maka akan menghapus pahala sedekah tersebut.
Jangan sampai harta yang kita miliki justru membawa kita ke neraka, sebab kita tertipu olehnya. Kita sibuk dengan harta yang kita miliki untuk kesenangan semata di dunia, sehingga SWT berfirman :
وَيَوْمَ يُعْرَضُ الَّذِينَ كَفَرُوا عَلَى النَّارِ أَذْهَبْتُمْ طَيِّبَاتِكُمْ فِي حَيَاتِكُمُ الدُّنْيَا وَاسْتَمْتَعْتُمْ بِهَا فَالْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُونِ بِمَا كُنْتُمْ تَسْتَكْبِرُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَبِمَا كُنْتُمْ تَفْسُقُونَ
Artinya : Dan (ingatlah) hari (ketika) orang-orang kafir dihadapkan ke neraka (kepada mereka dikatakan): "Kamu telah menghabiskan rezekimu yang baik dalam kehidupan duniawimu (saja) dan kamu telah bersenang-senang dengannya; maka pada hari ini kamu dibalasi dengan azab yang menghinakan karena kamu telah menyombongkan diri di muka bumi tanpa hak dan karena kamu telah fasik" (Q.S Al- Ahqaf : 20)
Mengapa kita sombong akan ilmu? Padahal harus nya ilmu itu kita amalkan. Tidak akan berkah ilmu seseorang saat ia menuntut ilmu dengan maksud untuk mengalahkan orang lain. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:
مَنِ ابْتَغَى الْعِلْمَ لِيُبَاهِيَ بِهِ الْعُلَمَاءُ أَوْ يُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءُ أَوْ تَقْبَلُ أَفْئِدَةَ النَّاسِ إِلَيْهِ فَإِلَى النَّارِ. (رواه الحاكم، وصححه الألباني في صحيح الجامع الصغير)
Artinya : “Barangsiapa yang mencari ilmu untuk mendapatkan sebutan sebagai ulama atau memperdaya orang-orang yang bodoh atau untuk memalingkan manusia kepadanya, maka atasnya api neraka.”(HR. Hakim, Syaikh Al-Albani menghasankannya dalam Shahihul Jami’
Tak jarang, semakin kita berilmu semakin kita menyembunyikan nya, yakni tidak mengamalkan ilmu yang dimiliki olehnya. Padahal ilmu akan bermanfaat apabila kita amalkan. Penyebab orang  berilmu yang menyembunyikan ilmu nya ialah karena takut merasa tersaingi, ingin dihargai karena ketinggian ilmunya, merasa sulit mendapatkan ilmu tersebut, atau alasan lainnya. Dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
      مَا مِنْ رَجُلٍ يَحْفَظُ عِلْمًا فَيَكْتُمُهُ إِلَّا أُتِيَ بِهِ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ مُلْجَمًا بِلِجَامٍ مِنَ النَّارِ
     Artinya : “Tidaklah seseorang yang menghafal ilmu lalu ia menyembunyikannya melainkan akan didatangkan  pada hari kiamat dalam keadaan diberi tanda dengan tanda dari api neraka”. [HR Ibnu Majah: 261. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]
Setiap hal yang dilakukan oleh umat manusia dimuka bumi, akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah SWT. Harta dan ilmu adalah 2 dari 4 hal yang akan dimintai pertanggung jawaban nya. Oleh sebab itu, sudahkah harta dan ilmu yang kita miliki kita pergunakan dengan sebaik-baiknya?
Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam bersabda yang artinya " Tidak akan beranjak kaki seorang hamba dari tempat berdirinya dihadapan Allah pada hari kiamat sebelum dia ditanya tentang empat perkara, yaitu tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang ilmu bagaimana diamalkan, tentang harta bagaimana cara memperoleh dan kemana dibelanjakan, dan yang terakhir yaitu tentang jasmani untuk apa dipergunakan."
Mereka yang sombong akan harta ataupun ilmu yang dimilikinya maka mereka tidak ada bedanya dengan iblis. Orang yang sombong termasuk kedalam golongan orang-orang kafir. Allah SWT berfirman :
وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَىٰ وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ
Artinya : Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam," maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. (Q.S Al-Baqarah : 34)
Selain sikap sombong terhadap harta dan ilmu yang dimiliki. Terdapat pula sikap sombong terhadap Allah SWT. Mereka yang sombong terhadap Allah  SWT ialah umat manusia yang tidak beribadah kepada Allah SWT yakni tidak melaksanakan perintahnya seperti salat, berpuasa dan ibadah lainya. Sebab manusia tersebut merasa tidak membutuhkan Allah SWT  salah satu contoh sikap sombong terhadap Allah yakni enggan berdoa. Ia merasa bahwa ia bisa menjalani kehidupan dunia tanpa perlu pertolongan dari Allah SWT. Maka sesungguhnya mereka termasuk kedalam penghuni neraka. Allah SWT berfirman :
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
Artinya: Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina". (Q.S Al-Lukman : 8)
Sebagai umat manusia, tentunya kita adalah tempat salah dan dosa. Lalu apabila kita dengan sombong nya tidak berdoa kepada Allah bagaimana cara kita memohon ampunan-Nya atas segala dosa yang ada pada diri kita?. Terutama dibulan ramadhan yang memiliki keutamaan yakni pada waktu sahur Allah turun ke langit dunia untuk memberikan apa yang dimohonkan oleh para hamba-Nya yang bangun di tengah malam.
Rasulullah bersabda, “Tuhan kita yang Maha Suci lagi Maha Tinggi setiap malam turun ke langit dunia saat waktu malam tinggal sepertiga yang terakhir. Dia berfirman, “Siapa yang menyeru kepada-Ku niscaya akan Aku beri. Dan siapa yang meminta ampun kepada-Ku pasti akan Aku ampuni.” (HR. Bukhari).
Jangan sampai kita menjadi umat ang sombong terhadap Allah SWT. Terutama di bulan ramadhan ini, perbanyaklah beribadah kepada Allah SWT. Doa pada bulan ramadhan memiliki keisitimewaan. Sebab salah satu doa yang tidak di tolak ialah doa orang yang berpuasa. Rasulullah SAW bersabda :
Tiga orang yang do’anya tidak ditolak: orang yang berpuasa sampai mereka berbuka, pemimpin yang adil, dan do’a orang yang teraniaya. (HR. Tirmidzi)
            Oleh sebab itu jauhilah sikap sombong. Untuk apa kita bersikap sombong? Bersikap sombong tidak akan mendatangkan keuntungan bagi diri kita sendiri. Sebaliknya, sikap sombong justru akan menimbulkan dampak buruk bagi diri kita.

Kamis, 10 Mei 2018



Memaafkan


Setiap manusia di dunia ini, tak luput dari kesalahan. Baik itu kesalahan yang disengaja ataupun tidak disengaja. Tanpa atau dengan disadari, terkadang kita membuat orang lain sakit hati, terkadang pula orang lain lah yang membuat kita sakit hati. Tak jarang sakit hati itu pun menimbulkan dendam yang tidak pernah padam.

Sulit rasanya untuk meminta maaf atas kesalahan yang kita perbuat kepada orang lain. Terkadang kita dikalahkan oleh rasa ego kita dengan berkata “kalau minta maaf berarti kita kalah”. Sesulit kita meminta maaf kepada orang lain, sesulit itu pun kita untuk memaafkan kesalahan orang lain terhadap kita. Padahal kita pun juga tak luput dari berbuat salah kepada orang lain. Lalu mengapa kita masih sulit memaafkan?
قَوْلٌ مَعْرُوفٌ وَمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِنْ صَدَقَةٍ يَتْبَعُهَا أَذًى ۗ وَاللَّهُ غَنِيٌّ حَلِيم
Artinya : Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun (Q.S Al-Baqarah : 263)
Berdasarkan ayat diatas, orang yang memberikan maaf nya atas kesalahan orang lain lebih baik dibanding sedekahnya orang yang diiringi dengan ucapan yang menyakitkan penerima sedekah. Kita sebagai orang beriman diminta oleh Allah SWT untuk memberi kan maaf dan memberi kan nasihat agar mereka kembali kejalan yang lurus.
Saat orang lain menyakiti hati kita, sangat sulit rasanya untuk tidak membalas perbuatanya. Tentu pernah terbesit keinginan untuk balas dendam. Namun islam mengajarkan agar setiap orang beriman senantiasa sabar, oleh sebab itu jangan lah kita membalas kejahatan yang kita terima dari orang lain dengan kejahatan pula.
وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۚ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ
Artinya : Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. (QS. Fushilat: 34)
Seringkali kita menganggap bahwa memaafkan orang lain adalah sikap yang lemah. Padahal justru sebaliknya. Orang yang menahan amarahnya sesungguhnya ia adalah orang yang kuat. Ia mampu menahan amarah atas kejahatan orang lain terhadapnya dengan tidak membalas nya, padahal ia mampu untuk membalasnya.
Rasulullah bersabda:
لَيْسَ الشَّدِيْدُ باِلصُّرْعَةِ إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
“Orang yang kuat bukan yang banyak mengalahkan orang dengan kekuatannya. Orang yang kuat hanyalah yang mampu menahan dirinya di saat marah.” (HR. Al-Bukhari no. 6114)
Setiap amal perbuatan itu mendapat balasan sesuai dengan jenis amal perbuatannya, sebagaimana kita mengampuni dosa orang yang berdosa kepada kita, maka Allah mengampuni pula dosa-dosa kita. Dan sebagaimana kita memaafkan, maka Allah pun memaafkan kita pula. Allah SWT berfirman :
وَلَا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۖ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Artinya : Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (Q.S An-Nur : 22)
Dengan tidak memaafkan, apakah hati kita akan menjafi tenang? Tidak. Tentu saja hati kita akan dipenuhi oleh rasa kebencian, menimbulkan penyakit hatj yakni dendam. Allah SWT berfirman :
وَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَتْهُمْ رِجْسًا إِلَىٰ رِجْسِهِمْ وَمَاتُوا وَهُمْ كَافِرُونَ
Artinya : Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, disamping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir (Q.S At-Taubah : 125)
Penyakit hati yang ada pada diri kita tersebut dapat membawa kita pada kekafiran dan mati dalam keadaan kafir. Orang yang di dalam hati nya masih tersimpan dendam tidak akan dibukakan untuknya pintu surga. Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda, 

“Pintu-pintu surga itu dibuka pada hari Senin dan Kamis, lalu diampunkanlah bagi setiap hamba yang tidak menyekutukan sesuatu dengan Allah, kecuali seseorang yang antara dirinya dan saudaranya itu ada rasa dendam, lalu dikatakanlah, ‘Nantikanlah dulu kedua orang ini sehingga keduanya berdamai kembali. Nantikanlah kedua orang ini sehingga keduanya berdamai kembali’,” (HR. Muslim).
Untuk apa kita membalas kejahatan dengan kejahatan? Sedangkan dengan tidak membalasnya dapat mendatangkan pahala? Rasulullah bersabda
 “Apabila ada seseorang yang mencacimu atau menjelek-jelekanmu dengan aib yang ia ketahui ada padamu, maka janganlah kamu balas memburukkannya dengan aib yang kamu ketahui ada padanya. Maka pahalanya untuk dirimu dan dosanya untuk dia,” (HR. Al Muhamili dalam Amalinya no 354, Hasan)
Selain memaafkan kesalahan orang lain terdap kita, maka kita pun juga harus meminta maaf atas kesalahan kita terhadap orang lain. Sebab setiap manusia tak luput dari kesalahan. Janganlah kita menunda-nunda meminta maaf sebab kita tidak tahu kapan ajal akan menjemput.
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallambersabda,
 “Orang yang pernah menzhalimi saudaranya dalam hal apapun, maka hari ini ia wajib meminta perbuatannya tersebut dihalalkan oleh saudaranya, sebelum datang hari dimana tidak ada ada dinar dan dirham. Karena jika orang tersebut memiliki amal shalih, amalnya tersebut akan dikurangi untuk melunasi kezhalimannya. Namun jika ia tidak memiliki amal shalih, maka ditambahkan kepadanya dosa-dosa dari orang yang ia zhalimi” (HR. Bukhari no.2449)
Hal yang menyebabkan kita sulit untuk meminta maaf ataupun memaafkan tak lain adalah kita merasa bahwa diri kita lah yang paling benar. Sikap itu menjadikan kita merendahkan orang lain dan menganggap bahwasanya diri sendiri lah yang benar serta yang lain adalah salah. Janganlah demikian. Kita juga harus senantiasa mengintrospeksi diri, sebab manusia tak pernah luput daru dosa. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman,
فَلا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى
..Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (Qs. An-Najm:32)
Islam mengajarkan kepada kita bukan dengan memiliki sifat “merasa”, melainkan berlomba-lomba dalam kebaikan. Oleh sebab itu mulailah introspeksi diri kita serta saling maaf memaafkan antar sesama.
Diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash, beliau berkata, 
“Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya, ‘Siapakah orang yang paling utama?’ Beliau menjawab, ‘Setiap orang yang bersih hatinya dan benar ucapannya.’ Para sahabat berkata, ‘Orang yang benar ucapannya telah kami pahami maksudnya. Lantas apakah yang dimaksud dengan orang yang bersih hatinya?’ Rasulullah menjawab, ‘Dia adalah orang yang bertakwa (takut) kepada Allah, yang suci hatinya, tidak ada dosa dan kedurhakaan di dalamnya serta tidak ada pula dendam dan hasad.'” (Dikeluarkan oleh Ibnu Majah 4216 dan Thabarani, dan dishahihkan oleh Imam Albani di dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah)

Selasa, 03 April 2018


             Sudahkah kita berilmu?




Dengan ilmu, kita dapat mengetahui mana yang benar dan salah, dengan ilmu kita dapat pengetahuan akan suatu hal yang bermanfaat entah untuk diri kita sendiri ataupun orang lain. Oleh sebab itu, menuntut ilmu wajib hukumnya. Sebab segala hal yang kita lakukan apabila tidak dilandasi dengan ilmu, maka kita akan tersesat.

مَنْ اَرَدَ الّدُ نْيَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ وَمَنْ اَرَدَ اْلاَخِرَةِ فَعَلَيْهِ بِالْعِلمِ وَمَنْ اَرَدَ هُمَا مَعًا فَعَلَيهِ بِالْعِلْمِ
“Siapa yang ingin dunia (hidup di dunia dengan baik), hendaklah ia berilmu, siapa yang ingin akhirat (hidup di akhirat nanti dengan senang) hendaklah ia berilmu, siapa yang ingin keduanya, hendaklah berilmu”

Sudahkah kita menuntut ilmu? Sebagian dari kita menganggap remeh ilmu. Mereka yang diberi kesempatan untuk menuntut ilmu seperti di sekolah misalnya, menganggap enteng ilmu sehingga mereka malas dalam belajar.
Dalam beribadah, tentunya kita juga harus memiliki ilmu. Karena apabila kita tidak berilmu, maka kita tidak akan tahu mana yang diperintahkan oleh Allah SWT dan mana yang Allah SWT larang. Oleh sebab itu, ilmu memiliki kedudukan yang penting.
Bahkan dalam islam, Ilmu memiliki kedudukan yang tinggi seperti yang tertera dalam hadist berikut :
Rasulullah SAW bersabda, "Keutamaan ahli ilmu atas ahli ibadah adalah seperti keutamaanku atas orang yang paling rendah di antara kalian." Setelah itu beliau melanjutkan, "Sesungguhnya Allah, para malaikat, para penduduk langit dan bumi, bahkan semut di lubangnya, dan para ikan mendoakan pengajar kebaikan pada manusia." (HR. Tirmidzi, Darimi, dan disahihkan oleh Albani dalam Al-Misykah)

Tapi mengapa kita masih malas dalam berilmu? Padahal ilmu yang kita pelajari bermanfaat tidak hanya untuk diri kita sendiri, tapi juga untuk orang lain. Ilmu yang bermanfaat adalah amalan pahala yang tidak akan terputus  meski kita sudah meninggal. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)

            Tak hanya itu, bahkan selain beriman, orang yang berilmu akan Allah SWT tinggikan derajatnya. Allah SWT berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ ۖوَإِذَاقِيلَ انْشُزُوافَانْشُزُوا يَرْفَعِ
  الله الذِيْنَ امَنُوا مِنـْكُمْ وَالّذِيْنَ اُوتُو الْعِلْمَ دَرَجَـتٍ وَاللهُ بِمَا تَعْـمَلُـوْنَ خَـبِيْـر 
Artinya :
"Wahai orang-orang yang beriman!Apabila dikatakan kepadamu,"Berilah kelapangan didalam majelis, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan  memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan berdirilah  kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat" ( Q.S Al-Mujadalah ayat 11 )

            Mereka yang berilmu tent hidupnya tidak akan tersesat, sebab ia mememiliki pengetahuan. Lain halnya dengan mereka yang tidak berilmu, hidup mereka tentu akan tersesat sebab ia tidak memiliki pengetahuan tentang suatu apapun, bahkan mereka bias saja menyesatkan yang lain.
"Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu dari dada-dada manusia, melainkan Ia mencabutnya dengan cara mematikan para ulama. Dan dikala tidak ada lagi seorang alim pun yang hidup, manusia akan menjadikan orang-orang bodoh (dari sisi agama) sebagai pemimpin. kemudian mereka ditanya (dimintai fatwa). Mereka (orang yang jahil tsb) berfatwa tanpa ilmu, sehingga mereka menjadi sesat dan menyesatkan." (HR. Bukhari)

            Apabila kita ingin sukses di dunia, tentunya kita juga harus memiliki ilmu. Orang yang memiliki harta tetapi tidak memiliki ilmu, maka lama-kelamaan harta yang ia punya akan habis percuma. Sedangkan mereka yang memiliki harta tetapi juga ilmu, dapat menjaga harta nya tersebut agar tidak terbuang percuma bahkan harta nya bisa jadi bertambah.
Ali bin Abi Tholib radhiyallahu anhu berkata :
الْعِلْمُ خَيْرٌ مِنْ الْمَالِ. الْعِلْمُ يَحْرُسُك، وَأَنْتَ تَحْرُسُ الْمَالِ. الْعِلْمُ حَاكِمٌ وَالْمَالُ مَحْكُومٌ عَلَيْهِ. مَاتَ خَزَّانُ الْأَمْوَالِ وَبَقِيَ خَزَّانُ الْعِلْمِ أَعْيَانُهُمْ مَفْقُودَةٌ، وَأَشْخَاصُهُمْ فِي الْقُلُوبِ مَوْجُودَةٌ
“Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu bisa menjagamu, sedangkan harta kamu yang menjaganya. Ilmu sebagai hakim sementara harta objek yang dihukumi. Penumpuk harta mati, sedangkan penghimpun ilmu tetap abadi, karena walaupun jasad mereka telah tiada, akantetapi kepribadian mereka tetap hidup dihati” (Adabud Dunya Wad Diin, Almawardi hal.48)


Apabila kita ingin hidup di akhirat nanti dengan senang yakni menempati surga, juga dengan ilmu. Sebab dengan ilmu, ibadah yang kita lakukan akan dapat diterima oleh Allah SWT. Oleh sebab itu, orang yang terus menerus menuntut ilmu maka ia akan berakhir di surga.
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda :
لَنْ يَشْبَعَ الْمُؤْمِنُ مِنْ خَيْرٍ يَسْمَعُهُ حَتَّى يَكُونَ مُنْتَهَاهُ الْجَنَّةَ
“Seorang mu’min tidak akan pernah merasa puasa terhadap kebaikan (ilmu) yang ia dengar sehingga perjalanannya berakhir di surga” (HR Tirmidzi : 2686, Jami’u bayanil ‘ilmi : 612)

Oleh sebab itu, janganlah menganggap enteng sehingga malas dalam berilmu. Sebab ilmu adalah anugerah dari Allah SWT kepada hamba-Nya yang berakal sehat. Adapun bagi mereka yang lalai maka anugerah tersebut tidak akan memberikannya manfaat dan pelajaran. Allah ta’ala berfirman:
يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَن يَشَآءُ وَمَن يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا وَمَايَذَّكَّرُ إِلاَّ أُوْلُوا اْلأَلْبَابِ
 “Allah menganugerahkan al-Hikmah (kefahaman yang dalam tentang al-Qur’an dan as-Sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugerahi al-Hikmah, dia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” (Al-Baqarah: 269).




Sabtu, 10 Maret 2018



 Bersedekah
            Assalamualaikum Wr.Wb. Para pembaca setia blog islam for the world, pada kesempatan kali ini, saya akan membahas mengenai sedekah.


Setiap rezki yang Allah berikan kepada hamba-Nya tentu harus di syukuri. Seberapa pun nilai nya, besar ataupun kecil. Bersyukur merupakan bukti kita sebagai hamba cinta dan ridha terhadap Allah SWT, Sang Pemberi nikmat.
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ
Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku. (Q.S Al-Baqarah: 152)

Salah satu bentuk syukur atas nikmat yang Allah SWT berikan kepada kita yakni dengan mensedekah kan sebagian harta kita kepada yang berhak menerimanya.

"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema`afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.. "Qs.Ali- Imran 133-136

Ayat diatas menerangkan bahwa salah satu ciri orang bertaqwa yang mendapat jaminan Surga ialah mereka yang mensedekahkan hartanya. Sebagian orang berfikir, bahwa dengan bersedekah maka lama-kelamaan harta yang ia peroleh akan habis. Sehinggabia mengurungkan niat untuk bersedekah. Sebagian lagi berfikir, bahwa harta yang ia peroleh saja tidak cukup untuk dirinya sendiri jadi bagaimana ia bisa bersedekah? Ia takut dengan bersedekah ia akan semakin hidup kekurangan. Namun pemikiran seperti itu sangatlah salah.
Meski cuma sedikit, yang terpenting adalah pemberian itu diberikan dengan keikhlasan dan hanya mengharap ridho ilahi.
لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ ۖ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ ۚ لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَا آتَاهَا ۚ سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا

"Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan"(Q.S At-Thalaq : 7)
Tentunya kita sering mendengar kalimat “tangan diatas lebih baik daripada tangan di bawah”  yang tak lain merupakan sebuah hadist. Maksud dari kalimat tersebut adalah orang yang memberi lebih baik dibandingkan orang yang meminta-minta.

Dari Abdullah bin Umar ra bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , bersabda : sedangkan beliau berkhutbah di atas mimbar. Beliau menganjurkan sedekah dan melarang meminta-minta. "Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang dibawah. Tangan di atas adalah tangan pemberi sementara tangan yang di bawah adalah tangan peminta-minta." (HR. Muslim, hadits no. 1715).

Ayat tersebut memerintahkan kita walau dengan keadaan yang sedikit untuk bersedekah, apalagi jika harta kita berlebih.
Kita tak perlu takut dengan mensedekahkan harta yang kita miliki, maka kita akan menjadi miskin. Sebab setiap harta yang kita berikan akan diganti oleh Allah SWT.
مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui”. (Q.S Al-Baqarah 261)

Ayat tersebut menjelaskan bahwa mereka yang menafkahkan harta nya di jalan Allah tidaklah berkurang harta mereka, melainkan Allah SWT melipatgandakan nya. Oleh sebab itu, masihkah kita berfirik bahwa dengan mensedekahkan harta kita maka kita akan menjadi miskin?
Lakukan lah sedekah dengan ikhlas, mengharap ridho Allah SWT. Jangan mengharapkan balasan, sebab tanpa mengharapkan balasan pun maka Allah SWT sudah mengganti harta yang kita sedekahkan beserta pahala untuk kita. Terlebih lagi, jangan lah melakukan sedekah dengan maksud pamer, ingin dipuji oleh orang lain. Sebab sedekah dengan maksud seperti itu justru akan menghapus pahala sedekah kita.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَىٰ كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا ۖ لَا يَقْدِرُونَ عَلَىٰ شَيْءٍ مِمَّا كَسَبُوا ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir” (Q.S Al-Baqarah : 264)

Selain menghapus pahala sedekah, orang yang mensedekahkan hartanya dengan maksud pamer, dengan menyebutkan apa apa saja yang ia sedekahkan, maka untuknya akan diberikan azab yang pedih.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda :
 “ Ada tiga golongan, yang tidak akan Allah ajak bicara pada hari kiamat, tidak akan Allah lihat, dan tidak akan Allah sucikan, serta baginya adzab yang pedih. Rasulullah mengulang sebanyak tiga kali. Abu Dzar bertanya : Siapa mereka wahai Rasulullah ? Sabda beliau : Al musbil (lelaki yang menjulurkan pakaiannya melebihi mata kaki, al mannaan (orang yang suka menyebut-nyebut sedekah pemberian), dan pedagang yang bersumpah dengan sumpah palsu” (H.R. Muslim:106)

Kemudian kepada siapakah kita harus mensedekahkan harta kita? Seringkali kita bersedekah kepada orang lain, tetapi kita lupa bersedekah dengan keluarga dan kerabat kita yang membutuhkan. Hendaknya sedekah diberikan kepada keluarga dan kerabat terlebih dahulu baru kepada mereka yang membutuhkan.
Jabir r.a meriwayatkan, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallambersabda, “Jika salah seorang di antaramu miskin, hendaknya dimulai dengan dirinya. Dan jika dalam itu ada kelebihan, barulah diberikan untuk keluarganya. Lalu apabila ada kelebihan lagi, maka untuk kerabatnya,” atau sabdanya, “Untuk yang ada hubungan kekeluargaan dengannya. Kemudian apabila masih ada kelebihan, barulah untuk ini dan itu.” (HR. Ahmad dan Muslim)


Dengan bersedekah, Allah menghapus dosa dosa yang telah kita lakukan. Oleh sebab itu ingat lah untuk bersedekah dengan ikhlas semata-mata mengharap ridha Allah SWT. Terutama apabila kita dalam kondisi mampu (berkecukupan) Jangan lah takut bahwa sedekah akan mengurangi rezki kita.

“Sedekah dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api.” (HR. Tirmidzi, di shahihkan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi, 614)


Kamis, 01 Februari 2018

                                    BERBURUK SANGKA TERHADAP ALLAH SWT



Setiap manusia tentu akan menghadapi permasalahan dalam hidupnya. Setiap manusia berbeda pula sikap dalam menghadapi setiap permasalahan hidupnya. Sebagian dari umat manusia terkadang mengeluh akan cobaan yang ia hadapi. Sebagian nya lagi tak pernah mengeluh dan selalu bersyukur atas nikmat yang telah Allah berikan kepadanya.
لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي كَبَدٍ
 “Sesungguhnya Kami telah jadikan manusia sentiasa dalam keadaan menghadapi kesulitan dan kesukaran (jasmani dan rohaninya) (Q.S Al-BAlad : 4)

Saat tertimpa musibah, apabila kita terus mengeluh maka segala cobaan yang kita hadapi akan terasa semakin berat, sebab kita hanya sibuk mengeluh, dan mengeluh, sehingga pikiran semakin menumpuk tanpa memikirkan solusi dari permasalahan tersebut.
Ketahuilah bahwa setiap cobaan yang kita hadapi adalah bentuk ujian dari Allah SWT untuk mengetahui seberapa besar keimanan kita. Orang yang beriman tentu tidak akan  mengeluh saat tertima musibah, ia akan senantiasa sabar, bersyukur dan bertawakal kepada Allah SWT.
أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ (1)
وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ(2)

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (Q.S Al-Ankabut : 2-3)
           
Setiap cobaan yang Allah SWT berikan untuk hamba-Nya, tentu tidak  akan melebihi batas kemampuan kita. Sebab Allah SWT maha mengetahui apa yang terbaik untuk hamba-Nya.
وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“…..Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Q.S Al-Baqarah : 216)

Oleh sebab itu jangan lah kita berburuk sangka terhadap Allah SWT dengan mengatakan bahwa Allah SWT tak sayang terhadap kita, hamba-Nya, karena memberi cobaan yang menurut kita diluar batas kemampuan kita.
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ ۖ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا ۚ أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ


Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir". (Q.S Al-Baqarah : 286)
           
            Saat kita dihadapkan oleh musibah, seringkali kita berfikir Allah SWT tidak adil dan tidak sayang terhadap kita. Apabila kita berfikir demikian, maka sama saja kita telah menggaggap remeh Allah SWT sebab merasa bahwa Allah SWT tidak mengetahui batas kemampuan diri hamba-Nya. Cobaan yang Allah SWT berikan kepada kita, jangan lah kita anggap karena Allah SWT tidak menyayangi kita. Sebab cobaan yang Allah SWT berikan kepada kita adalah bukti cinta kasih-Nya terhadap hamba-Nya.
“Besarnya pahala sesuai dengan besarnya ujian dan cobaan. Sesungguhnya Allah ’Azza wa jalla bila menyenangi suatu kaum Allah menguji mereka. Barangsiapa bersabar maka baginya manfaat kesabarannya dan barangsiapa murka maka baginya murka Allah”.(HR. Tirmidzi).
           
            Seringkali kita salah berpikir bahwa mengimani takdir itu berarti pasrah tanpa melakukan segala bentuk usaha. Ingatlah bahwa Allah SWT memerintahkan kita untuk mengimani takdir-Nya, selain itu, Allah SWT juga memerintahkan kita untuk berusaha untuk merubah keadaan kita sendiri.
لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ ۗ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُ ۚ وَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ
Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. (Q.S Ar-rad : 11)

Berusahalah sebaik mungkin untuk mencari solusi dari setiap permasalahan yang kita hadapi. Jangan hanya pasrah menerima tanpa melakukan sebuah usaha. Sebab Allah tidak menyukai hamba-Nya yang bermalas-malasan.  Apabila setelah berusaha belum juga berhasil, maka jangan lah bersedih, sebab hal tersebut sudah menjadi takdir dan ketentuan Allah SWT.
“Bersemangatlah dalam hal yang bermanfaat bagimu. Dan minta tolonglah pada Allah dan janganlah malas. Apabila kamu tertimpa sesuatu, Janganlah kamu berkata : ‘Seandainya aku berbuat demikian, tentu tidak akan begini begitu’, tetapi katakanlah : ‘Qodarollahu wa maa sya’a fa’al’ (ini telah ditakdirkan oleh Allah dan Allah berbuat apa yang telah dikehendakinya) karena ucapan “seandainya” akan membuka pintu setan” (H.R. Muslim)
           
            Yakin lah bahwa dibalik cobaan yang Allah SWT berikan terhadap hamba-Nya ada kemudahan. Sehingga dengan pertolongan dari Allah SWT, kita dapat menghadapi setiap permasalahan.
“Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu? Dan Kami telah menghilangkan darimu bebanmu? Yang memberatkan punggungmu. Dan Kami tinggikan bagimu sebutanmu. Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan yang lain). Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap”. (QS. Al- Insyirah :1-8)