Selasa, 03 April 2018


             Sudahkah kita berilmu?




Dengan ilmu, kita dapat mengetahui mana yang benar dan salah, dengan ilmu kita dapat pengetahuan akan suatu hal yang bermanfaat entah untuk diri kita sendiri ataupun orang lain. Oleh sebab itu, menuntut ilmu wajib hukumnya. Sebab segala hal yang kita lakukan apabila tidak dilandasi dengan ilmu, maka kita akan tersesat.

مَنْ اَرَدَ الّدُ نْيَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ وَمَنْ اَرَدَ اْلاَخِرَةِ فَعَلَيْهِ بِالْعِلمِ وَمَنْ اَرَدَ هُمَا مَعًا فَعَلَيهِ بِالْعِلْمِ
“Siapa yang ingin dunia (hidup di dunia dengan baik), hendaklah ia berilmu, siapa yang ingin akhirat (hidup di akhirat nanti dengan senang) hendaklah ia berilmu, siapa yang ingin keduanya, hendaklah berilmu”

Sudahkah kita menuntut ilmu? Sebagian dari kita menganggap remeh ilmu. Mereka yang diberi kesempatan untuk menuntut ilmu seperti di sekolah misalnya, menganggap enteng ilmu sehingga mereka malas dalam belajar.
Dalam beribadah, tentunya kita juga harus memiliki ilmu. Karena apabila kita tidak berilmu, maka kita tidak akan tahu mana yang diperintahkan oleh Allah SWT dan mana yang Allah SWT larang. Oleh sebab itu, ilmu memiliki kedudukan yang penting.
Bahkan dalam islam, Ilmu memiliki kedudukan yang tinggi seperti yang tertera dalam hadist berikut :
Rasulullah SAW bersabda, "Keutamaan ahli ilmu atas ahli ibadah adalah seperti keutamaanku atas orang yang paling rendah di antara kalian." Setelah itu beliau melanjutkan, "Sesungguhnya Allah, para malaikat, para penduduk langit dan bumi, bahkan semut di lubangnya, dan para ikan mendoakan pengajar kebaikan pada manusia." (HR. Tirmidzi, Darimi, dan disahihkan oleh Albani dalam Al-Misykah)

Tapi mengapa kita masih malas dalam berilmu? Padahal ilmu yang kita pelajari bermanfaat tidak hanya untuk diri kita sendiri, tapi juga untuk orang lain. Ilmu yang bermanfaat adalah amalan pahala yang tidak akan terputus  meski kita sudah meninggal. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)

            Tak hanya itu, bahkan selain beriman, orang yang berilmu akan Allah SWT tinggikan derajatnya. Allah SWT berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ ۖوَإِذَاقِيلَ انْشُزُوافَانْشُزُوا يَرْفَعِ
  الله الذِيْنَ امَنُوا مِنـْكُمْ وَالّذِيْنَ اُوتُو الْعِلْمَ دَرَجَـتٍ وَاللهُ بِمَا تَعْـمَلُـوْنَ خَـبِيْـر 
Artinya :
"Wahai orang-orang yang beriman!Apabila dikatakan kepadamu,"Berilah kelapangan didalam majelis, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan  memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan berdirilah  kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat" ( Q.S Al-Mujadalah ayat 11 )

            Mereka yang berilmu tent hidupnya tidak akan tersesat, sebab ia mememiliki pengetahuan. Lain halnya dengan mereka yang tidak berilmu, hidup mereka tentu akan tersesat sebab ia tidak memiliki pengetahuan tentang suatu apapun, bahkan mereka bias saja menyesatkan yang lain.
"Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu dari dada-dada manusia, melainkan Ia mencabutnya dengan cara mematikan para ulama. Dan dikala tidak ada lagi seorang alim pun yang hidup, manusia akan menjadikan orang-orang bodoh (dari sisi agama) sebagai pemimpin. kemudian mereka ditanya (dimintai fatwa). Mereka (orang yang jahil tsb) berfatwa tanpa ilmu, sehingga mereka menjadi sesat dan menyesatkan." (HR. Bukhari)

            Apabila kita ingin sukses di dunia, tentunya kita juga harus memiliki ilmu. Orang yang memiliki harta tetapi tidak memiliki ilmu, maka lama-kelamaan harta yang ia punya akan habis percuma. Sedangkan mereka yang memiliki harta tetapi juga ilmu, dapat menjaga harta nya tersebut agar tidak terbuang percuma bahkan harta nya bisa jadi bertambah.
Ali bin Abi Tholib radhiyallahu anhu berkata :
الْعِلْمُ خَيْرٌ مِنْ الْمَالِ. الْعِلْمُ يَحْرُسُك، وَأَنْتَ تَحْرُسُ الْمَالِ. الْعِلْمُ حَاكِمٌ وَالْمَالُ مَحْكُومٌ عَلَيْهِ. مَاتَ خَزَّانُ الْأَمْوَالِ وَبَقِيَ خَزَّانُ الْعِلْمِ أَعْيَانُهُمْ مَفْقُودَةٌ، وَأَشْخَاصُهُمْ فِي الْقُلُوبِ مَوْجُودَةٌ
“Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu bisa menjagamu, sedangkan harta kamu yang menjaganya. Ilmu sebagai hakim sementara harta objek yang dihukumi. Penumpuk harta mati, sedangkan penghimpun ilmu tetap abadi, karena walaupun jasad mereka telah tiada, akantetapi kepribadian mereka tetap hidup dihati” (Adabud Dunya Wad Diin, Almawardi hal.48)


Apabila kita ingin hidup di akhirat nanti dengan senang yakni menempati surga, juga dengan ilmu. Sebab dengan ilmu, ibadah yang kita lakukan akan dapat diterima oleh Allah SWT. Oleh sebab itu, orang yang terus menerus menuntut ilmu maka ia akan berakhir di surga.
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda :
لَنْ يَشْبَعَ الْمُؤْمِنُ مِنْ خَيْرٍ يَسْمَعُهُ حَتَّى يَكُونَ مُنْتَهَاهُ الْجَنَّةَ
“Seorang mu’min tidak akan pernah merasa puasa terhadap kebaikan (ilmu) yang ia dengar sehingga perjalanannya berakhir di surga” (HR Tirmidzi : 2686, Jami’u bayanil ‘ilmi : 612)

Oleh sebab itu, janganlah menganggap enteng sehingga malas dalam berilmu. Sebab ilmu adalah anugerah dari Allah SWT kepada hamba-Nya yang berakal sehat. Adapun bagi mereka yang lalai maka anugerah tersebut tidak akan memberikannya manfaat dan pelajaran. Allah ta’ala berfirman:
يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَن يَشَآءُ وَمَن يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا وَمَايَذَّكَّرُ إِلاَّ أُوْلُوا اْلأَلْبَابِ
 “Allah menganugerahkan al-Hikmah (kefahaman yang dalam tentang al-Qur’an dan as-Sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugerahi al-Hikmah, dia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” (Al-Baqarah: 269).




Sabtu, 10 Maret 2018



 Bersedekah
            Assalamualaikum Wr.Wb. Para pembaca setia blog islam for the world, pada kesempatan kali ini, saya akan membahas mengenai sedekah.


Setiap rezki yang Allah berikan kepada hamba-Nya tentu harus di syukuri. Seberapa pun nilai nya, besar ataupun kecil. Bersyukur merupakan bukti kita sebagai hamba cinta dan ridha terhadap Allah SWT, Sang Pemberi nikmat.
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ
Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku. (Q.S Al-Baqarah: 152)

Salah satu bentuk syukur atas nikmat yang Allah SWT berikan kepada kita yakni dengan mensedekah kan sebagian harta kita kepada yang berhak menerimanya.

"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema`afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.. "Qs.Ali- Imran 133-136

Ayat diatas menerangkan bahwa salah satu ciri orang bertaqwa yang mendapat jaminan Surga ialah mereka yang mensedekahkan hartanya. Sebagian orang berfikir, bahwa dengan bersedekah maka lama-kelamaan harta yang ia peroleh akan habis. Sehinggabia mengurungkan niat untuk bersedekah. Sebagian lagi berfikir, bahwa harta yang ia peroleh saja tidak cukup untuk dirinya sendiri jadi bagaimana ia bisa bersedekah? Ia takut dengan bersedekah ia akan semakin hidup kekurangan. Namun pemikiran seperti itu sangatlah salah.
Meski cuma sedikit, yang terpenting adalah pemberian itu diberikan dengan keikhlasan dan hanya mengharap ridho ilahi.
لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ ۖ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ ۚ لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَا آتَاهَا ۚ سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا

"Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan"(Q.S At-Thalaq : 7)
Tentunya kita sering mendengar kalimat “tangan diatas lebih baik daripada tangan di bawah”  yang tak lain merupakan sebuah hadist. Maksud dari kalimat tersebut adalah orang yang memberi lebih baik dibandingkan orang yang meminta-minta.

Dari Abdullah bin Umar ra bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , bersabda : sedangkan beliau berkhutbah di atas mimbar. Beliau menganjurkan sedekah dan melarang meminta-minta. "Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang dibawah. Tangan di atas adalah tangan pemberi sementara tangan yang di bawah adalah tangan peminta-minta." (HR. Muslim, hadits no. 1715).

Ayat tersebut memerintahkan kita walau dengan keadaan yang sedikit untuk bersedekah, apalagi jika harta kita berlebih.
Kita tak perlu takut dengan mensedekahkan harta yang kita miliki, maka kita akan menjadi miskin. Sebab setiap harta yang kita berikan akan diganti oleh Allah SWT.
مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui”. (Q.S Al-Baqarah 261)

Ayat tersebut menjelaskan bahwa mereka yang menafkahkan harta nya di jalan Allah tidaklah berkurang harta mereka, melainkan Allah SWT melipatgandakan nya. Oleh sebab itu, masihkah kita berfirik bahwa dengan mensedekahkan harta kita maka kita akan menjadi miskin?
Lakukan lah sedekah dengan ikhlas, mengharap ridho Allah SWT. Jangan mengharapkan balasan, sebab tanpa mengharapkan balasan pun maka Allah SWT sudah mengganti harta yang kita sedekahkan beserta pahala untuk kita. Terlebih lagi, jangan lah melakukan sedekah dengan maksud pamer, ingin dipuji oleh orang lain. Sebab sedekah dengan maksud seperti itu justru akan menghapus pahala sedekah kita.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَىٰ كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا ۖ لَا يَقْدِرُونَ عَلَىٰ شَيْءٍ مِمَّا كَسَبُوا ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir” (Q.S Al-Baqarah : 264)

Selain menghapus pahala sedekah, orang yang mensedekahkan hartanya dengan maksud pamer, dengan menyebutkan apa apa saja yang ia sedekahkan, maka untuknya akan diberikan azab yang pedih.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda :
 “ Ada tiga golongan, yang tidak akan Allah ajak bicara pada hari kiamat, tidak akan Allah lihat, dan tidak akan Allah sucikan, serta baginya adzab yang pedih. Rasulullah mengulang sebanyak tiga kali. Abu Dzar bertanya : Siapa mereka wahai Rasulullah ? Sabda beliau : Al musbil (lelaki yang menjulurkan pakaiannya melebihi mata kaki, al mannaan (orang yang suka menyebut-nyebut sedekah pemberian), dan pedagang yang bersumpah dengan sumpah palsu” (H.R. Muslim:106)

Kemudian kepada siapakah kita harus mensedekahkan harta kita? Seringkali kita bersedekah kepada orang lain, tetapi kita lupa bersedekah dengan keluarga dan kerabat kita yang membutuhkan. Hendaknya sedekah diberikan kepada keluarga dan kerabat terlebih dahulu baru kepada mereka yang membutuhkan.
Jabir r.a meriwayatkan, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallambersabda, “Jika salah seorang di antaramu miskin, hendaknya dimulai dengan dirinya. Dan jika dalam itu ada kelebihan, barulah diberikan untuk keluarganya. Lalu apabila ada kelebihan lagi, maka untuk kerabatnya,” atau sabdanya, “Untuk yang ada hubungan kekeluargaan dengannya. Kemudian apabila masih ada kelebihan, barulah untuk ini dan itu.” (HR. Ahmad dan Muslim)


Dengan bersedekah, Allah menghapus dosa dosa yang telah kita lakukan. Oleh sebab itu ingat lah untuk bersedekah dengan ikhlas semata-mata mengharap ridha Allah SWT. Terutama apabila kita dalam kondisi mampu (berkecukupan) Jangan lah takut bahwa sedekah akan mengurangi rezki kita.

“Sedekah dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api.” (HR. Tirmidzi, di shahihkan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi, 614)


Kamis, 01 Februari 2018

                                    BERBURUK SANGKA TERHADAP ALLAH SWT



Setiap manusia tentu akan menghadapi permasalahan dalam hidupnya. Setiap manusia berbeda pula sikap dalam menghadapi setiap permasalahan hidupnya. Sebagian dari umat manusia terkadang mengeluh akan cobaan yang ia hadapi. Sebagian nya lagi tak pernah mengeluh dan selalu bersyukur atas nikmat yang telah Allah berikan kepadanya.
لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي كَبَدٍ
 “Sesungguhnya Kami telah jadikan manusia sentiasa dalam keadaan menghadapi kesulitan dan kesukaran (jasmani dan rohaninya) (Q.S Al-BAlad : 4)

Saat tertimpa musibah, apabila kita terus mengeluh maka segala cobaan yang kita hadapi akan terasa semakin berat, sebab kita hanya sibuk mengeluh, dan mengeluh, sehingga pikiran semakin menumpuk tanpa memikirkan solusi dari permasalahan tersebut.
Ketahuilah bahwa setiap cobaan yang kita hadapi adalah bentuk ujian dari Allah SWT untuk mengetahui seberapa besar keimanan kita. Orang yang beriman tentu tidak akan  mengeluh saat tertima musibah, ia akan senantiasa sabar, bersyukur dan bertawakal kepada Allah SWT.
أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ (1)
وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ(2)

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (Q.S Al-Ankabut : 2-3)
           
Setiap cobaan yang Allah SWT berikan untuk hamba-Nya, tentu tidak  akan melebihi batas kemampuan kita. Sebab Allah SWT maha mengetahui apa yang terbaik untuk hamba-Nya.
وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“…..Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Q.S Al-Baqarah : 216)

Oleh sebab itu jangan lah kita berburuk sangka terhadap Allah SWT dengan mengatakan bahwa Allah SWT tak sayang terhadap kita, hamba-Nya, karena memberi cobaan yang menurut kita diluar batas kemampuan kita.
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ ۖ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا ۚ أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ


Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir". (Q.S Al-Baqarah : 286)
           
            Saat kita dihadapkan oleh musibah, seringkali kita berfikir Allah SWT tidak adil dan tidak sayang terhadap kita. Apabila kita berfikir demikian, maka sama saja kita telah menggaggap remeh Allah SWT sebab merasa bahwa Allah SWT tidak mengetahui batas kemampuan diri hamba-Nya. Cobaan yang Allah SWT berikan kepada kita, jangan lah kita anggap karena Allah SWT tidak menyayangi kita. Sebab cobaan yang Allah SWT berikan kepada kita adalah bukti cinta kasih-Nya terhadap hamba-Nya.
“Besarnya pahala sesuai dengan besarnya ujian dan cobaan. Sesungguhnya Allah ’Azza wa jalla bila menyenangi suatu kaum Allah menguji mereka. Barangsiapa bersabar maka baginya manfaat kesabarannya dan barangsiapa murka maka baginya murka Allah”.(HR. Tirmidzi).
           
            Seringkali kita salah berpikir bahwa mengimani takdir itu berarti pasrah tanpa melakukan segala bentuk usaha. Ingatlah bahwa Allah SWT memerintahkan kita untuk mengimani takdir-Nya, selain itu, Allah SWT juga memerintahkan kita untuk berusaha untuk merubah keadaan kita sendiri.
لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ ۗ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُ ۚ وَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ
Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. (Q.S Ar-rad : 11)

Berusahalah sebaik mungkin untuk mencari solusi dari setiap permasalahan yang kita hadapi. Jangan hanya pasrah menerima tanpa melakukan sebuah usaha. Sebab Allah tidak menyukai hamba-Nya yang bermalas-malasan.  Apabila setelah berusaha belum juga berhasil, maka jangan lah bersedih, sebab hal tersebut sudah menjadi takdir dan ketentuan Allah SWT.
“Bersemangatlah dalam hal yang bermanfaat bagimu. Dan minta tolonglah pada Allah dan janganlah malas. Apabila kamu tertimpa sesuatu, Janganlah kamu berkata : ‘Seandainya aku berbuat demikian, tentu tidak akan begini begitu’, tetapi katakanlah : ‘Qodarollahu wa maa sya’a fa’al’ (ini telah ditakdirkan oleh Allah dan Allah berbuat apa yang telah dikehendakinya) karena ucapan “seandainya” akan membuka pintu setan” (H.R. Muslim)
           
            Yakin lah bahwa dibalik cobaan yang Allah SWT berikan terhadap hamba-Nya ada kemudahan. Sehingga dengan pertolongan dari Allah SWT, kita dapat menghadapi setiap permasalahan.
“Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu? Dan Kami telah menghilangkan darimu bebanmu? Yang memberatkan punggungmu. Dan Kami tinggikan bagimu sebutanmu. Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan yang lain). Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap”. (QS. Al- Insyirah :1-8)


Rabu, 10 Januari 2018

TERKIKISNYA MORALITAS MANUSIA


Sudah bukan hal yang baru lagi praktik penganiyaan,perampokan,pencabulan.tindakan kriminal ini semakin hari semakin bertumnuh dan tumbuh,jelas sekali perilaku ini tak manusiawi,tidak cukup dengan pencabulan dsb,bahkan perlaku tak senonoh ini berimabs pada alam penebangan pohon yang tak sesuai.ini menandakan hakikat manusiawi yang sosialis sudah berada diluar kendali.
Islam merupakan agama yang komplek.hadir ditengah umat manusia bukan hanya sebagai pengantar umat dengan sang khalik.juga hukum interaksi sesama umat dan alam sekitar.seperti etika bertutur kata ketika berjumpa, islam mensunnakan (apabila dilakukan  memperoleh pahala dan jika ditingalkan tidk memperoleh dosa. mengucapkan salam ketika bertemu saudara seiman “Assalamualaikum.warahmatullahi wabarakatuh”begitu indahnya agama islam
Menukil dari perkataan seorang ulama:
العذاب فوق العلم
artinya: etika berada diatas tingkat ilmu,

Jadi kedudukan etika lebih tingga diatas ilmu. Kurang afdhal ilmu tanpa dibarengi dengan etika, namun bukan berarti mengesampingkan ilmu karna etika. Keduanya mempunyai peran penting bagi kehidupan umat islam.
Perlu digaris bawahi etika bukan saja hubungan manusia dengan manusia lainnya,etika dengan makhluk hidup bagaimana menjaga dan memelihara makhluk ciptaan allah.interaksi manusia dengan Alam,juga etika hubungan vertikal dengan sang khalik.bukan itu saja bahkan aktivitas sehari-haripun selalu berkaitan dengan etika seperti etika makan,etika berbicara  dengan orang tua,etika berpakaian,etika bertamu dan etika lainnyasebab islam selalu membimbing pemeluknya agar tidak tersesat di jalan yang tidak benar.
Ulama salaf berkata:
لأَخْلاَقُ هُوَ تَقْيِيْمُ اْلأَعْمَالِ اْلإِنْسَانْيَّةِ عَلَى ضَوْءِ تَحْدِيْدِهِ لِقِيْمَةِ كُلٍّ مِنَ الْخَيْرِ وَالشَّر
Artinya: “Akhlak ialah Munculnya perbuatan manusia atas dasar cahaya batasan manusia untuk munculnya suatu perkara yang baik dan buruk”.

Menurut ki hajar Dewantara:ilmu yang mempelajari soal kebaikan dan keburukan didalam kehidupan manusia semuanya ,teristimewa yang mengenai gerak gerik pikiran dan rasa yang dapat merupakan pertimabangan dan perasaan sampai mengenai tujuannya yag dapat merupakan perbuatan
            Jadi,etika merupkanan segala tindakan baik berupa perbuatan,perbicaraan dan sebagainya yang mengantarkan pada dua kategori nilai yaitu baik atau buruk.
Baik dan buruknya suatu tidak dapat ditentukan secara subjektif,melainkan secara objektif

            Allah memiliki 25 rasul yang merangkap sebagai nabi,meraka diutus untuk mengajarkan agama allah di muka bumi sekaligus mempraktikan etika hakikat manusiawi yang sesungguhnya.berbagai macam rintanagan yang mereka hadapi seperti nabi Nuh AS,anaknya enggan untuk mengikuti agama allah yang dibawa ayahandanya.

            Berikut merupakan doa nabi sebelum nabi Ikhatimul anbiya.
ربناوابعث فيهم رسولامنهم يثلوعليهم اياتك وليعلمهم الكتاب والحكمة ويزكييهم انك انت العزيزالحكيم(البقراة:129)
Artinya: Ya tuhan kami,utuslah untk mereka seorang rasul dari kalngan mereka ,yang akan            membacakan kepada mereka ayat-ayat engkau,dan mengajarkan kepada mereka al kitab (AL-QURAN) dan al hikmah (AS-SUNNAH) serta menyucikan mereka. Sesungguhnya engkaulah yang maha perkasa lagi maha bijaksana.

Dari ayat ini, bahwa akan diutus seorang nabi yang bukan hanya membawa agama allah, ia juga seorang pelopor moralitas manusiawi yang akan menentramkan perdamaian umat manusia di muka bumi ini.utusan tersebut adalah  Muhammad bin abdullah

Rasulullah bersabda:
إنمابعثت لأتمم كريم الاخلاق
Artinya: Sesungguhnya diriku diutus ke muka bumi ini untuk menyempurnakan akhlak umat         manusia.

Sebagaimana yang telah kita ketahui kehidupan masyarakat arab khususnya mekkah sebelum diutusnya nabi muhammad SAW kehidupan disana sangatlah miris dimana pertumpahan darah merupakan suatu tradisi masyarakat arab,pembunuhan terhadap bayi perempuan dikarnakan bayi perempuan akan membawa mala petaka bagi orangtuanya dan ia juga tidak bisa berperang oleh sebab itu orang arab mengubur bayinya hidup-hidup belum lagi wanita yang  yang dijadikan budak,bebas  diperjualbelikan bahkan seorang budak bisa ditiduri oleh majikannya tanpa akad pernikahan. betapa hinanya kaum wanita pada masa itu.
Rasulullah mengahdirkan islam ditengah-tengah masyarakat jahiliyah secara lemah lembut berkemanusiawian.
Dalam ajarannya,Nabi muhammad SAW mengedepankan akhlak (etika) yang islami sehingga sebagian kecil masyarakat arab perlahan mulai menerima ajarannya.
Setelah masyarakat memeluk ajaran islam muhammad SAW membimbingnya kejalan yang berlawanan dari masyarakat arab semula yaitu jalan yg berakhlakul qarimah.
Tradisi tercela semacam minum khamr dan pembunuhan bayi perempuan tak berdosa dan perbuatan tercela lainnya telah dihapuskan.
Revolusi budaya ini tidak terlepas dari Muhammad SAW dengan syiar dakwah yang komunikatif tidak otoriter dalam mensyiarkan ajaran agama islam dimasyarakat arab.
           
            Nabi muhammad memperoleh gelar Al-Amien(jujur)  dari orang quraysh mekah karna ia selalu jujur dalam bertutur padahal mereka berbeda aliran dengan  muhammad .
Ini menandakan bahwa etika seorang hamba muslim tidak terbatas pada sesama muslim bahkan  pada seluruh umat manusia juga makhluk hidup dan lingkungan sekitar.
Jadi,etika relasi seorang diri dengan segala unsur yang berkaitan dengan keberlangsungan hidup.

            Dalam hal ini ,Nabi muhammad sebagai praksis moralitas manusia yang berlandaskan islam baik hubungan Vertikal dengan sang Pencipta maupun  hubungan Horisontal dengan dirinya sendiri,makhluk hidup,saudara muslim,non muslim dan lingkungan sekitar.
Pada hakikatnya tujuan seorang hamba adalah akhirat( kehidupan yang kekal tiada kehidupan lagi).esensinya kehidupan didunia hanya persinggahan sementara untuk menuju ruang dan waktu yang tiada akhir,namun kehidupan sementara ini penentu didunia berikutnya.jika kehidupannya diisi ibadah kepada allah,insyaallah di akhirat selamat dan tenang begitu juga sebaliknya,bilamana didunia hanya dipenuhi keburukan insyaallah diakhirat akan celaka.
ان من احبكم الي واقربكم مني مجلسا يوم اقيامة احاسنكم اخلاقاوان ابغضكم الي وابعدكم مني مجلسايوم القيامة الثرثارون والمثشدقون والمتفيهقون(سنن صحيح الترمذي)

Artinya: Sesungguhnya yang paling aku cintai dari kalian dan yang paling dekat                tempatnnya dariku di hari kiamat adalah yang paling mulia akhlaknya,dan yang paling kubenci dari kalian dan paling jauh tempatnya di hari kiamat adalah yang banyak bicara,angkuh dalam bicara dan  sombong(turmidzi).

Kesitimewaan orang yang berakhlakul karimah sangat diapresiasi oleh rasululloh berkempul bersamannya.

            Aktivitas yang selalu dibarengi akhlakul karimah bukanlah hal yang sepele bagaimana setiap tindakan  tidak merugikan diri sendiri dan unsur yang terlibat.
“tidak ada sesuatupun yang lebiih berat dalam timbangan seorang mukmin pada hari kiamat nanti selain akhlak mulia .sesungguhnya allah membenci orang yang berbuat keji dan berkata-kata keji” (H.R.Turmidzi)
Balasan  dari allah lebih setimpal daripada apa yang telah diperbuat begitu istemawanya memeluk islam dan patut berbanggalah menjadi umat nabi muhammad meski tempo kehidupannya jauh lebih pendek dari kehidupan umat nabi sebelumnya.
Beragam jenis jenis keistimewaan umat nabi muhammad sedikit amalannya besar pahalanya

            Berakhlakul karimah bukanlah hidup dibawah tekanan ataupun aturan yang mengekang,melainkan hidup berkualitas dengan norma-norma islam sebagai keidentikan  menjadi muslim yang berkualitas,berpegang teguh al-quran dan hadis dan berguna bagi berguna bagi agama tidak untuk kepentingan personalitas.

            Perubahan era akan selalu berdampak pada segala aspek kehidupan baik positif maupun negatif.namun moralitas manusia harus tetap dipegang erat.untuk kelangsungan hidup yang sejahtera.



















Kamis, 07 Desember 2017

                                                Ilmu yang Seringkali Diabaikan


عْنْ اَنَسٍ اِبْنُ مَالِكٍ قَلَ قَالَ رَسُوْل الله صلى الله عليه وسلـم  طَلَبُ الْعِلْم فَرْيْضَةً عَلى كُلّ مُسْلِمٍ ووضِعً العِلْمِ عِنْدَ غَيْرُأهْلِهِ كَمُقِلِّدِ الْخَنَا زِيْرِ لْجَوْهَرَولَلؤْلُؤَ وَالذَّهَبَ
Artinya  :
"Dari Anas bin Malik ia berkata, Rasulullah saw, bersabda: Mencari ilmu itu wajib bagi setiap muslim, memberikan ilmu kepada orang yang bukan ahlinya seperti orang yang mengalungi babi dengan permata, mutiara, atau emas" (HR.Ibnu Majah)

Setiap perbuatan yang kita lakukan didunia ini, tidak akan lepas dari ilmu. Segala aktifitas yang kita lakukan setiap harinya didasarkan pada ilmu. Ilmu lebih berharga dibandingkan harta. Tanpa ilmu, Harta yang kita cari sewaktu-waktu dapat hilang. Tetapi dengan ilmu, kita dapat mendatangkan dan mempertahankan harta. lmu merupakan bekal setiap manusia dari mulai dia lahir sampai dia tiada. semua orang membutuhkan ilmu. Kita dapat membaca, menulis semua karena ilmu. penting untuk kita menuntut ilmu. Dengan menuntut ilmu, kita dapat membedakani apa yang benar dan apa yang salah. Dengan menuntut ilmu segala hal yang kita lakukan dapat bermanfaat tak hanya untuk diri kita sendiri melainkan juga untuk orang lain. Ilmu tak hanya penting untuk kegiatan duniawi, ilmu juga penting dalam kegiatan kita untuk beribadah kepada Allah SWT. Oleh sebab itu, menuntut dan memperdalam ilmu agama itu  juga penting selain ilmu pengetahuan, namun seringkali ilmu agama kita abaikan. Mengapa penting? Dengan memperdalam ilmu agama, kita dapat mengetahui hal - hal yang dilarang oleh Allah SWT. dengan ilmu agama kita dapat menghindari kesalahan-kesalahan dalam beribadah yang akan berdampak tidak diterimanya ibadah kita oleh Allah SWT.


            Allah menganugerahkan ilmu kepada orang-orang yang berakal. Tanpa ilmu atau pemahan, segala perkara tidak akan berjalan dengan baik. Oleh sebab itu ilmu merupakan anugerah bagi orang-orang yang berakal. Allah SWT berfirman :

يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ
Artinya : Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah). (Q.S Al-Baqarah)

 Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,
“Orang yang beramal tanpa ilmu bagai orang yang berjalan tanpa ada penuntun. Sudah dimaklumi bahwa orang yang berjalan tanpa penuntun tadi akan mendapatkan kesulitan dan sulit bisa selamat. Taruhlah ia bisa selamat, namun itu jarang. Menurut orang yang berakal, ia tetap saja tidak dipuji bahkan dapat celaan.”
            Amalan tanpa ilmu jelas kurang afdhal.karna amalan yang disertai ilmu pahalanya berlipat ganda seperti yang telah ditutrkan nabi Muhammad SAW. Begitupun sebaliknya ilmu tapan sebuah pengamalan tidak berkah baginya.Sebab ilmu harus diimplimentasikan dalam kehidupan.Sebagai maqolah berikut:
“Al ilmu bila ‘amalin kassyajari bila tsamarin”
ilmu tanpa amalan layaknya pohon yang tak berbuah.

”Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia maka wajib baginya memiliki ilmu, dan barang siapa yang menghendaki kehidupan Akherat, maka wajib baginya memiliki ilmu, dan barang siapa menghendaki keduanya maka wajib baginya memiliki ilmu”. (HR. Turmudzi).
            Kehidupan duniawi tidak akan mampu kita raih tanpa sebuah ilmu, Sebab dengan ilmu  kita bisa meraih kesuksesan. Dengan ilmu kita bisa menjalajahi cakrawala kehidupan dunia. Begitu pula dengan kehidupan akhirat yang dapat kita raih dengan adanya ilmu. Sebab, dengan ilmu kita dapat memilah mana yang haq mana yang bathil. ilmu yang akan mendominasi kehidupan kita baik haliyah maupun qauliyah.
Lantas bagaimana dengan kehidupan akhirat? Iya,kehidupan akhirat juga tidak terlepas dari ilmu.dimana ilmu akhirat berperan sebagai hukum vertical anatara hamba  dengan sang khaliq.Bahkan bisa saja hukum duniawi berasaskan hukum ilmu akhirat seperti yang terjadi ditimur tengah sana .Jadi,dapat disimpulkan bahwa ilmu dunia ialah ilmu yang mengatur interaksi hamba dengan kehidupan sosialnya sedangkan ilmu akhirat ialah hukum-hukum yang berhubungan dengan pencipta baik kaifiyah(tata cara) etika dan sebagainya.

            Orang yang berilmu akan bahagia baik di dunia maupun di akhiratnya kelak. Tapi kebanyakan dari kita pandai dalam pengetahuan dunia, sedangkan untuk kehidupan di akhirat kita lalai. Alangkah baiknya jika dalam mempelajari ilmu pengetahuan dunia, kita juga mempelajari ilmu agama. Sebab dengan memperdalam ilmu agama, maka segala hal yang kita lakukan akan sesuai dengan perintah Allah SWT. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,
إِنَّ اللهَ تَعَالىَ يُبْغِضُ كُلَّ عَالِمٍ بِالدُّنْيَا جَاهِلٍ بِالْآخِرَة
“Sesungguhnya Allah ta’ala membenci orang yang pandai dalam urusan dunia namun bodoh dalam perkara akherat”.(HR. Al-Hakim ,dishahihkan oleh al-Albani).

 Kemudian Allah SWT juga berfirman dalam surah ar-Ruum ayat 7 :

يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ
Mereka hanya mengetahui yang lahir (nampak) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (QS. ar-Ruum: 7).

            Ilmu sangat bermanfaat tak hanya didunia, tetapi juga sebagai bekal diakhirat kelak. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)

Maksud kandungan dalam hadist diatas ialah hanya ada tiga perkara yang bisa menyelamatkan kita kelak di Alam Barzah, yaitu : Sedekah jariyah (sedekah yang mengalir), dan anak sholeh yang mendoakan nya serta ilmu yang bermanfaat. Ilmu yang bermanfaat ialah ilmu yang diamalkan dalam kebaikan serta di ajarkan pada orang lain, sehingga orang tersebut mendapatkan pahala dari pengamalan ilmu nya.
            Berikut adalah   hadist yang menjelaskan keutamaan orang yang berilmu (agama) dan mendakwahkan ilmunya.
Dari Abu Musa, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Permisalan petunjuk dan ilmu yang Allah mengutusku dengannya adalah bagai ghaits (hujan yang bermanfaat) yang mengenai tanah. Maka ada tanah yang baik, yang bisa menyerap air sehingga menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan rerumputan yang banyak. Di antaranya juga ada tanah yang ajadib (tanah yang bisa menampung air, namun tidak bisa menyerap ke dalamnya), maka dengan genangan air tersebut Allah memberi manfaat untuk banyak orang, sehingga manusia dapat mengambil air minum dari tanah ini. Lalu manusia dapat memberi minum untuk hewan ternaknya, dan manusia dapat mengairi tanah pertaniannya. Jenis tanah ketiga adalah  tanah qi’an (tanah yang tidak bisa menampung dan tidak bisa menyerap air). Inilah permisalan orang yang memahami agama Allah, bermanfaat baginya ajaran yang Allah mengutusku untuk membawanya. Dia mengetahui ajaran Allah dan dia mengajarkan kepada orang lain. Dan demikianlah orang yang
tidak mengangkat kepalanya terhadap wahyu, dia tidak mau menerima petunjuk yang Allah mengutusku untuk membawanya.” (HR. Bukhari dan Muslim).