Jumat, 09 Juni 2017

                                                 Membaca Al quran



Terkadang kita terlalu malas untuk membaca al-quran. Bahkan al-quran itu masih tertata rapi di rak kita, menandakan jarang sekali kita membukanya. Padahal banyak sekali kemuliaan yang didapat dengan membaca al-quran.
Al quran merupakan kitab suci umat islam yang diturunkan kepada Nabi Muhammmad SAW. Al Qur’an diturunkan secara beransur-ansur dalam masa 22 tahun 2 bulan 22 hari.

Allah SWT berfirman :
وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً ۚ كَذَٰلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ ۖ وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيلًا


Artinya : Berkatalah orang-orang yang kafir: "Mengapa Al Quran itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?"; demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil (teratur dan benar) (Q.S Al-Furqan : 32)
Berdasarkan ayat tersebut, dapat diketahui bahwa turun nya al-quran secara berangsur-angsur adalah untuk menguatkan dan menetapkan hati Rasulullah SAW dalam berdakwah menyampaikan kebenaran kemudian agar memudahkan pelafalan al quran dengan benar. Hikmah lainnya mengapa al quran diturunkan secara berangsur-angsur adalah mengikuti peristiwa-peristiwa yang terjadi pada saat itu. Allah SWT berfirman:

وَقُرْآناً فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَى مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنزِيلاً ﴿١٠٦﴾
Artinya : Dan Al Quran itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian. 
(Q.S Al Isra : 106)


Seringkali kita melupakan waktu untuk membaca al quran. Kita terlalu sibuk dengan urusan dunia sehingga lupa dengan al quran. Padahal dengan membaca al quran kita akan memperoleh banyak sekali nikmat. Sebagai umat yang beriman, hendaknya kita membaca al-quran dengan benar dan memahaminya dengan sepenuh hati kita. Allah SWT berfirman:

الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلَاوَتِهِ أُولَٰئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِ ۗ وَمَنْ يَكْفُرْ بِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ



Artinya : Orang-orang yang telah Kami berikan Al Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya. Dan barangsiapa yang ingkar kepadanya, maka mereka itulah orang-orang yang rugi. (Q.S Al-Baqarah : 121)

Al-quran merupakan pedoman hidup umat manusia. Di dalam al-quran terdapat panduan untuk menjalani  kehidupan di dunia. Rasulullah Saw, bersabda:
“Aku telah meninggalkan pada kamu sekalian dua perkara yang kamu tidak akan sesat selama kamu berpegang teguh kepada keduanya, yaitu kitab Allah (Al-Qur’an) dan sunnah (hadits) Nabi-Nya.” (HR.Malik)

Allah SWT berfirman :
ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ
Artinya : Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa (Q.S Al-baqarah : 2)

Allah SWT berfirman :
هَٰذَا بَلَاغٌ لِلنَّاسِ وَلِيُنْذَرُوا بِهِ وَلِيَعْلَمُوا أَنَّمَا هُوَ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ وَلِيَذَّكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ
Artinya : (Al Quran) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengan-Nya, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran (Q.S Ibrahim : 52)

Apabila kita berpegang teguh kepada al-quran maka kita akan keluar daripada kebodohan menuju kepada pengetahuan. Allah SWT berfiman :
الر ۚ كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَىٰ صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ
Artinya : Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. (Q.S Ibrahim : 1)

Seringkali manusia membaca al quran dengan tergesa-gesa karena ingin cepat menghafalnya. Padahal hal tersebut dilarang oleh Allah SWT. Allah SWT berfirman :

لَا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ
Artinya : Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Quran karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya (Q.S Al-Qiyamah : 16)

Saat malam hari, seringkali kita menghabiskan waktu untuk hal yang kurang bermanfaat seperti menonton acara televisi yang hanya mengandung maksiat. Padahal waktu malam hari tersebut bisa kita gunakan untuk membaca al-quran.
Abu Musa Al Asy’ary radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya aku benar-benar mengetahui suara kelompok orang-orang keturunan Asy’ary dengan bacaan Al Quran, jika mereka memasuki waktu malam dan aku mengenal rumah-rumah mereka dari suara-suara mereka membaca Al Quran pada waktu malam, meskipun sebenarnya aku belum melihat rumah-rumah mereka ketika mereka berdiam (disana) pada siang hari…” (HR. Muslim).

Allah memerintahkan hamba Nya untuk bangun di malah hari dalam keadaan yang sunyi untuk mengerjakan salat dan membaca al quran secara perlahan. Allah SWT berfirman :

يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ (١)قُمِ اللَّيْلَ إِلا قَلِيلا (٢)نِصْفَهُ أَوِ انْقُصْ مِنْهُ قَلِيلا (٣)أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلا (٤)
Artinya : (1) Wahai orang yang berselimut. (2) Bangunlah di malam hari, kecuali sedikit. (3)Seperduanya atau kurangilah daripadanya sedikit. (4) Atau tambah daripadanya, dan bacalah al Quran dengan perlahan-lahan. (Q.S Al Muzzamil : 1-4)

Membaca al-quran tidak hanya sekedar membaca saja, tetapi juga mentaddaburinya. Maksud dari taddabur yakni memahami makna, merenungi dan mengamalkan ayat-ayat al-quran.
Allah SWT berfirman :
كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ
 Artinya : Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran. (Q.S As-shad : 29)

Mereka yang hanya membaca al-quran saja tanpa mentaddaburinya dikatakan memiliki hati yang terkunci sehingga kebenaran yang tekandung dalam ayat al-quran tak bisa masuk kedalam hatinya. Allah SWT berfirman :

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا
Artinya : Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci? (Q.S Muhammad : 24)

Dengan membaca setiap huruf dalam al-quran kita telah mendapat 10 kebaikan. Sungguh nikmat yang telah kita dapatkan hanya dengan membaca al-quran.
“Barang siapa yang membaca satu huruf dari Al-Qur’an maka baginya kebaikan sepuluh kali lipat, aku tidak mengatakan Alif Lam Mim satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, Mim satu huruf.” (Shahih HR.Tirmidzi)
Seorang mukmin yang membaca al-quran dimisalkan dengan buah utrujah yang harum dan manis,
“Perumpamaan seorang mukmin yang membaca Al Qur’an seperti buah utrujah yang memiliki wangi yang sedap dan rasa yang manis. Sedangkan perumpamaan seorang mukmin yang tidak membaca Al Qur’an ibarat buah tamar (kurma) yang tidak memiliki bau namun rasanya manis. Adapun perumpamaan seorang munafiq yang membaca Al Qur’an ibarat buah roihanah yang memiliki wangi yang sedap tapi rasanya pahit. Dan perumpamaan seorang munafiq yang tidak membaca Al Qur’an ibarat buah handzholah yang tidak memiliki bau dan rasanya pahit”. (HR. Muslim, 1896)

Oleh sebab itu,  hendaklah kita meluangkan waktu kita untuk membaca al-quran. Dengan membaca al-quran kita akan memperoleh ketentraman hati, pahala yang berlimpah, mendapat petunjuk untuk setiap permasalahan dan keutamaan lainnya. Lantas masihkah kita malas untuk membaca Al-quran??

Selasa, 09 Mei 2017

LARANGAN BUNUH DIRI




Saat banyak nya masalah yang dihadapi setiap umat manusia, ada yang memilih bersabar, berusaha dan bertawakal kepada Allah, adapula yang memilih menyelesaikannya dengan cara yang instan. Dengan penuh putus asa. Yakni dengan bunuh diri.  Bagi sebagian orang, bunuh diri merupakan satu-satunya jalan untuk menyelesaikan masalah yang ia hadapi. Dengan berbagai macam permasalahan hidup seperti kemiskinan, patah hati dan lain sebagainya, mereka mengaggap bahwa bunuh diri adalah perbuatan yang benar.

Namun tahukah kalian?? perbuatan bunuh diri adalah perbuatan yang dilarang oleh islam. Allah melarang kepada umatnya untuk membunuh atau bunuh diri. Sebab Allah lah yang menentukan hidup dan matinya umat manusia.
Allah SWT berfirman
وَاللَّهُ يُحْيِي وَيُمِيتُ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ….
“…Allah menghidupkan dan mematikan. Dan Allah melihat apa yang kamu kerjakan” (Q.S Ali-Imran : 156)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ ۚ وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (Q.S An-Nisa:29)

 قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ ۖ أَلَّا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۖ وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ مِنْ إِمْلَاقٍ ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ ۖ وَلَا تَقْرَبُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ ۖ وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ


Katakanlah: "Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar". Demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahami(nya) (Q.S Al-An’am : 151)

 Kita harus yakin, bahwa dibalik setiap kesulitan yang kita hadapi, pasti ada kemudahan seperti dalam Firman Allah dalam surah Al Insyirah ayat 5-6

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”(QS. Al-Insyirah: 5)”
إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” (QS. Al-Insyirah: 6).

Saat menghadapi masalah, jangan lah kita berburuk sangka kepada Allah SWT. Sebab seringkali mereka yang ditimpa musibah, menganggap bahwa Allah tak menyayangi dirinya. Padahal musibah tersebut, adalah bukti cinta Allah kepada umat-Nya.
Dari hadits Anas bin Malik, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِىَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ
Sesungguhnya pahala besar karena balasan untuk ujian yang berat. Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka. Barangsiapa yang ridho, maka ia yang akan meraih ridho Allah. Barangsiapa siapa yang tidak suka, maka Allah pun akan murka.” (HR. Ibnu Majah no. 4031, hasan kata Syaikh Al Albani).
Oleh sebab itu, hilangkanlah prasangka buruk kita kepada Allah SWT.
“Aku sesuai dengan dugaan hambaKu teerhadapKu. Jika ia berbaik sangka kepada-Ku, maka itulah untuknya. Dan jika ia berburuk sangka kepada-Ku, maka itulah untuknya (H.R Ahcmad)


 Mereka yang melakukan bunuh diri, akan mengalami tiga penderitaan, yakni penderitaan di dunia yang menjadikannya melakukan perbuatan bunuh diri, penderitaan menjelang kematiannya, dan penderitaan yang kekal di akhirat nanti.
  (Shahih Muslim) Dari Abu Hurairah ra, katanya Rasulullah saw., bersabda : “Siapa yang bunuh diri dengan senjata tajam, maka senjata itu akan ditusuk-tusukannya sendiri dengan tangannya ke perutnya di neraka untuk selama-lamanya; dan siapa yang bunuh diri dengan racun, maka dia akan meminumnya pula sedikit demi sedikit nanti di neraka, untuk selama-lamanya; dan siapa yang bunuh diri dengan menjatuhkan diri dari gunung, maka dia akan menjatuhkan dirinya pula nanti (berulang-ulang) ke neraka, untuk selama-lamanya.”
(Shahih Muslim) Dari Tsabit bin Dhahhak ra, katanya Nabi saw., sabdanya : “Siapa yang bersumpah menurut cara suatu agama selain Islam, baik sumpahnya itu dusta maupun sengaja, maka orang itu akan mengalami sumpahnya sendiri. “Siapa yang bunuh diri dengan suatu cara, Allah akan menyiksanya di neraka jahanam dengan cara itu pula.”
Sungguh amat sangat mengerikan balasan yang diterima oleh manusia yang melakukan bunuh diri di akhirat nanti. Jadi masihkah kita berfikir untuk melakukan bunuh diri? Lantas bagaimanakah cara kita menghadapisetiap permasalahan agar terhindar dari perilaku bunuh diri?

1.      Ikhtiar
Allah SWT berfirman,
وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ
dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya

Saat menghadapi permasalahan, hendaknya kita berusaha untuk menyelesaikannya.  Jangan hanya pasrah menerima keadaan tanpa melakukan usaha apapun.

2.   Bersabar
Saat tertimpa masalah, maka sebagai seorang mukmin hendaknya kita bersabar dan jangan mengeluh.
“Menakjubkan perkara seorang mukmin, seluruh perkaranya adalah kebaikan. Dan itu tidak akan dialami, kecualioleh seorang mukmin, maka ia bersyukur dan itu lebih baik baginya. Dan jika ia ditimpa keburukan, maka ia bersabar dan itu lebih baik baginya” (H.R Muslim)

3.   Bersyukur
Saat menghadapi permasalahan sesulit apapun, hendaknya kita selalu bersyukur. Karena masih banyak orang-orang yang kurang beruntung diluar sana. Bersyukurlah atas nikmat yang Allah telah berikan kepada kita.
Allah SWT berfirman,
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (Q.S Ibrahim : 7)

4.   Tawakal
      Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “TawakalTawakal adalah menyandarkan permasalahan kepada Allah dalam mengupayakan yang dicari dan menolak apa-apa yang tidak disenangi, disertai percaya penuh kepada Allah Ta’ala dan menempuh sebab (sebab adalah upaya dan aktifitas yang dilakukan untuk meraih tujuan) yang diizinkan syari’at  Allah SWT berfirman
    وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.

                                               


                                                                                                                                   





Senin, 06 Maret 2017

                                             Cinta Pada Dunia Lupa Akan Akhirat

Kehidupan duniawi seringkali menjadikan manusia lupa akan adanya akhirat. Manusia sibuk memikirkan bagaimana memperoleh kebahagiaan di dunia, sehingga mereka lupa akan bekal mereka ke akhirat.
Orang yang sangat mencintai dunia segala hal yang ia lakukan penuh dengan perhitungan terhadap dunia. Ia tak mengingat lagi kewajiban nya sebagai umat muslim untuk menjalankan perintah Allah SWT. Sungguh sangat disayangkan. Padahal setiap yang ada didunia ini akan binasa, termasuk manusia. Setiap manusia akan dihadapkan kepada kematian. Dengan mengetahui akan adanya kematian, hendaknya menjadikan umat manusia beribadah kepada Allah SWT

Allah SWT berfirman,

وَلَا تَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ ۘ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ ۚ لَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

Artinya : Janganlah kamu sembah di samping (menyembah) Allah, tuhan apapun yang lain. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. Bagi-Nya-lah segala penentuan, dan hanya kepada-Nya-lah kamu dikembalikan. (Q.S Al Qasas : 88)

Perlu diketahui, bahwasannya dunia ini bersifat sementara. Segala sesuatu yang ada di dunia hanya bersifat sementara, kesenangan yang ada di dunia ini pun bersifat sementara pula. Oleh sebab itu, janganlah kita terbuai akan keindahan duniawi hingga melupakan perintah Allah SWT sebagai bekal kita di akhirat nanti.

Allah SWT berfirman,
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
Artinya : Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu (Q.S Al Hadid : 20)

            Allah menciptakan setiap umat manusia tak lain hanya untuk beribadah hanya kepada Nya. Oleh sebab itu, bukankah seharusnya kita tidak hanya sibuk mementingkan urusan duniawi tetapi kita juga harus melaksanakan kewajiban kita sebagai umat muslim?

Allah SWT berfirman,
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Artinya :Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (Q.S Az-Zariyat : 56)



            Ciri-ciri orang yang mencitai dunia dan lupa akan akhirat adalah mereka yang bermalas-malasan dalam beribadah. Saat azan telah telah terdengar dimana menandakan waktu salat telah tiba, seringkali kita sebagai umat manusia masih sibuk dengan urusan kita masing-masing. Tak jarang kita menunda waktu salat hingga hampir habis waktu salat tersebut, atau tak jarang kita akhirnya lupa untuk melaksanakan salat.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ
Artinya : Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi (Q.S Al-Munafiqun : 9)

Saat adzan hendak terdengar, alangkah baiknya jika kita meninggalkan terlebih dahulu kesibukan kita akan dunia, kemudian segera melaksanakan salat. Karena kita sebagai manusia tidak akan pernah tahu kapan ajal akan menghampiri kita. Saat kematian telah datang, kita sebagai manusia tidak bisa menunda nya. Saat kematian telah datang, sudah cukupkah bekal yang dapat kita bawa meenuju akhirat?

Allah SWT berfirman,

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ ۖ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ


Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya.

Perasaan takut akan kematian, wajar adanya. Oleh sebab itu, rasa takut akan menghadapi kematian hendaknya menjadikan kita sebagai umat manusia lebih meningkatkan ibadah kita kepada Allah SWT.


عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ قَالَ : كُنْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَجَاءَهُ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- ثُمَّ قَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ قَالَ : « أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا ». قَالَ فَأَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ قَالَ : « أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الأَكْيَاسُ ».
Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata, “Aku pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu seorang Anshor mendatangi beliau, ia memberi salam dan bertanya, “Wahai Rasulullah, mukmin manakah yang paling baik?” Beliau bersabda, “Yang paling baik akhlaknya.” “Lalu mukmin manakah yang paling cerdas?”, ia kembali bertanya. Beliau bersabda, “Yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik dalam mempersiapkan diri untuk alam berikutnya, itulah mereka yang paling cerdas.” (HR. Ibnu Majah no. 4259. Hasan kata Syaikh Al Albani).

            Manusia yang hanya sibuk mencari kemewahan dan harta secara berlebihan di dunia akan mendapatkan balasan berupa api neraka. Semua yang mereka kerjakan di dunia akan menjadi sia-sia, karena harta dan kemewahan yang selama ini mereka kumpulkan tidak akan mampu menolongnya untuk keluar dari api neraka. Hanya amal ibadah lah yang mampu memasukan umat manusia menuju surga

Allah SWT berfirman,

 مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ
Artinya : Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. (Q.S Al- Hud :15)
Kemudian di ayat ke 16

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُون
Artinya : Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan. (Q.S Al-Hud : 16)

            Sebenarnya, kita umat manusia diperbolehkan untuk menikmati kesenangan duniawi, asal berada pada batas-batasnya. Tidak menjadikan kesenangan duniawi sebagai penyebab kita melupakan perintah Allah SWT.

Allah SWT berfirman,

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

Artinya : Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (Q.S Al Qasas :77)

            Saat kita sebagai manusia mencari kebahagiaan dunia hingga melebihi batas-batasnya, maka kita tidak akan pernah merasa kebahagiaan dunia yang kita telah peroleh cukup, kita akan selalu merasa kurang. Padahal kebahagiaan yang kita peroleh di dunia ini, tidak dapat kita bawa ke akhirat selain amal ibadah kita sendiri.

(( مَنْ كانت الدنيا هَمَّهُ فَرَّق الله عليه أمرَهُ وجَعَلَ فَقْرَهُ بين عينيه ولم يَأْتِه من الدنيا إلا ما كُتِبَ له، ومن كانت الآخرةُ نِيَّتَهُ جَمَعَ اللهُ له أَمْرَهُ وجَعَلَ غِناه في قَلْبِه وأَتَتْهُ الدنيا وهِيَ راغِمَةٌ
“Barangsiapa yang (menjadikan) dunia tujuan utamanya maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kemiskinan/tidak pernah merasa cukup (selalu ada) di hadapannya, padahal dia tidak akan mendapatkan (harta benda) duniawi melebihi dari apa yang Allah tetapkan baginya. Dan barangsiapa yang (menjadikan) akhirat niat (tujuan utama)nya maka Allah akan menghimpunkan urusannya, menjadikan kekayaan/selalu merasa cukup (ada) dalam hatinya, dan (harta benda) duniawi datang kepadanya dalam keadaan rendah (tidak bernilai di hadapannya)


Demikianlah pembahasan saya kali ini, semoga bermanfaat. Wassalamualaikum Wr. Wb