Senin, 07 Agustus 2017

Perintah Melaksanakan Shalat





Shalat adalah ibadah yang wajib hukum nya dilaksanakan oleh kita sebagai umat muslim. Tetapi tak jarang kita menjadikan sholat sebagai sebuah beban. Bahkan tak jarang kita melalaikannya. Padahal shalat adalah amal yang pertamakali akan dihisab di hari kiamat kelak.
 
Dari Abu Hurairah, beliau mendengar Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

 إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ فَإِنْ صَلَحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسَرَ فَإِنِ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيْضَتِهِ شَيْءٌ قَالَ الرَّبُّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى : انَظَرُوْا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ ؟ فَيُكْمَلُ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنَ الفَرِيْضَةِ ثُمَّ يَكُوْنُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى ذَلِكَ ” . وَفِي رِوَايَةٍ : ” ثُمَّ الزَّكَاةُ مِثْلُ ذَلِكَ ثُمَّ تُؤْخَذُ الأَعْمَالُ حَسَبَ ذَلِكَ
“Sesungguhnya amal hamba yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat adalah shalatnya. Apabila shalatnya baik, dia akan mendapatkan keberuntungan dan keselamatan. Apabila shalatnya rusak, dia akan menyesal dan merugi. Jika ada yang kurang dari shalat wajibnya, Allah Tabaroka wa Ta’ala mengatakan,’Lihatlah apakah pada hamba tersebut memiliki amalan shalat sunnah?’ Maka shalat sunnah tersebut akan menyempurnakan shalat wajibnya yang kurang. Begitu juga amalan lainnya seperti itu.”

Mengapa kita sebagai makhluk ciptaan-Nya terlalu malas atau bahkan sombong sehingga melupakan bahwa hanya Allah sang pencipta yang Maha menolong hamba-Nya?? Tahukah kalian bahwa kita lah umat manusia yang membutuhkan Allah SWT bukan sebaliknya.
Allah SWT berfirman :

يُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَيُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لأجَلٍ مُسَمًّى ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَهُ الْمُلْكُ وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِنْ قِطْمِيرٍ (١٣) إِنْ تَدْعُوهُمْ لا يَسْمَعُوا دُعَاءَكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ وَلا يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِيرٍ (١٤)يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ (١٥
Artinya :
13.  Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing beredar menurut waktu yang ditentukan. Yang (berbuat) demikian itulah Allah Tuhanmu, milik-Nyalah segala kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tidak mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari.
14. Jika kamu menyeru mereka, mereka tidak mendengar seruanmu, dan sekiranya mereka mendengar, mereka juga tidak memperkenankan permintaanmu. Dan pada hari Kiamat mereka akan mengingkari kemusyirikanmu dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu seperti yang diberikan oleh (Allah) Yang Mahateliti
15. Wahai manusia! Kamulah yang memerlukan Allah; dan Allah Dialah Yang Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji  (Q.S  Al- Faathir : 13-15)

Manusia diciptakan oleh Allah SWT sebagai makhluk yang lemah, seperti dalam firman Allah SWT :
يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُخَفِّفَ عَنْكُمْ ۚ وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا
Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah (Q.S An-Nisa :28)

Sebagai makhluk yang lemah, hendaknya kita memohon pertolongan hanya kepada Allah SWT dengan  mengamalkan apa yang telah Allah perintahkan dan menjauhi setiap larangan-Nya. Allah SWT berfirman :

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ
Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu‘” (QS. Al Baqarah: 45

            Shalat dapat menghindari kita dari panas nya siksa api neraka.  Allah SWT berfirman :

مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ
Artinya: “Apakah yang menyebabkan kalian masuk ke dalam neraka saqor, mereka menjawab, kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan sholat.” (QS.al-Mudatsir : 42-43)

            Dengan melaksanakan sholat, dapat mencegah kita dari perbuatan keji.  Shalat juga merupakan ibadah yang memiliki keutamaan yang lebih besar dibandingkan dengan ibadah lainnya, seperti dalam firman Allah SWT :

اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ
Artinya: “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan (Q.S  Al-Ankabut : 45)

orang-orang yang melaksanakan shalat maka termasuk kedalam orang yang mewarisi surga firdaus. Allah SWT berfirman :
 وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ (٩) أُولَئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ (١٠) الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (١١
Artinya :
9. serta orang yang memelihara shalatnya
10. Mereka itulah orang yang akan mewarisi,
11. (yakni) yang akan mewarisi (surga) Firdaus. Mereka kekal di dalamnya (Q.S Al-Mu’minun : 9-11)
           
            Sifat asli manusia adalah suka mengeluh dan kikir. Dikatakan suka mengeluh, saat tertimpa musibah ia selalu berkeluh kesah, hatinya terasa sempit, tidak bersyukur serta mudah putus asa. Dikatakan kikir yakni saat manusia diberikan kenikmatan ia lupa dengan sesama nya serta lupa beryukur atas nikmat yang diberikan kepadanya oleh Allah SWT. Tapi sifat tersebut berbeda dengan mereka yang melaksanan shalatnya. Allah SWT berfirman :

  إِنَّ الإنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا (١٩) إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا (٢٠) وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا (٢١)إِلا الْمُصَلِّينَ (٢٢
Artinya : "Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat haluu'a (keluh kesah lagi kikir). Apabila ia ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah. Dan apabila ia mendapat kebaikan, ia amat kikir. Kecuali, orang-orang yang mengerjakan salat.” (Q.S Al-Maarij : 19-22)

            Oleh sebab itu laksanan lah shalat dengan sebaik-baiknya seolah kita melaksanakan shalat di hari terakhir kita. Sehhingga dalam melaksanakan shalat kita bersungguh-sungguh tanpa adanya rasa malas seolah-olah tidak aka nada shalat lagi setelahnya.
Dari Abu Ayub Al Anshari radhiyallahu ‘anhu, dia berkata:

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ عَلِّمْنِي وَأَوْجِزْ قَالَ إِذَا قُمْتَ فِي صَلَاتِكَ فَصَلِّ صَلَاةَ مُوَدِّعٍ وَلَا تَكَلَّمْ بِكَلَامٍ تَعْتَذِرُ مِنْهُ وَأَجْمِعْ الْيَأْسَ عَمَّا فِي أَيْدِي النَّاسِ
“Seorang laki-laki menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata: “Ya Rasulullah. Berilah aku nasehat yang ringkas.” Maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kalau Engkau mengerjakan shalat, maka shalatlah seperti shalatnya orang yang hendak meninggalkan (dunia). Jangan berbicara dengan satu kalimat yang esok hari kamu akan meminta udzur karena ucapan itu. Dan perbanyaklah rasa putus asa terhadap apa yang ditangan orang lain.”

            Kita sebagai manusia tidak dapat menentukan dan memperkirakan saat ajal menjemput kita. sudahkah cukup amalan kita kelak di akhirat nanti? Oleh sebab itu, saat tiba waktu salat janganlah menunda-nunda melaksanakan nya. Bagaimanakah bila ajal lebih dulu menjemput kita saat kita belum sempat melaksanakan shalat akibat menunda-nundanya?
Allah SWT berfirman :
وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ ۖ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ


Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya.  (Q.S Al-A’raf : 34)



Artinya : Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, Maka mereka kelak akan menemui kesesatan,  kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh, Maka mereka itu akan masuk syurga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikitpun,” (Q.S Maryam : 59-60)

            Jangan lupa bahwa kita sebagai manusia diciptakan oleh Allah SWT untuk beribadah kepadanya. Allah SWT berfirman :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Artinya :Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (Q.S Az-Zariyat : 56)
           



Minggu, 09 Juli 2017

                                                         Keistimewaan Sholat Shubuh
           

Allah SWT berfirman :
وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ
Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu', (Q.S Al-Baqarah : 45)

الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلَاقُو رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
(yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya (Q.S Al-Baqarah : 46)

Sholat shubuh memiliki rakaat yang lebih sedikit dibanding dengan rakaat sholat lainya. Tapi saat waktu sholat shubuh tiba, seringkali rasa kantuk menguasai diri kita hingga akhirnya kewajiban itu kita tinggalkan. Padahal dengan melakukan sholat shubuh sungguh banyak keutamaan yang kita dapat.
·         Menang melawan syaitan
Dari Ibnu Mas’ud, dia berkata: “ditunjukkan kepada nabi seseorang yang tidur sampai pagi maka Nabi berkata: Setan telah kencing di telinganya” (H.R Bukhari-Muslim)
Para ahli shubuh merupakan orang yang menang melawan godaan syaitan. Mereka menang dengan cara bangun melawan rasa kantuk dipagi hari untuk melaksanakan shalat shubuh.
·         Setara dengan shalat semalam penuh
“Barangsiapa yang shalat isya’ berjamaah seakan-akan ia mengerjakan shalat setengah malam dan barangsiapa yang shalat shubuh berjamaah seakan-akan ia telah shalat malam semalam suntuk.” (H.R Muslim dari Utsman bin Affan)

            Berdasarkan hadist tersebut, maka sholat shubuh dua rakaat yang dilaksanakan berjamaah setara dengan shalat malam semenjak waktu isya’ sampai terbit fajar. Lantas, masihkah kita lebih memilih tidur daripada mendapat karunia sebesar itu???

·         Disaksikan para malaikat
Allah SWT berfirman :
أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَىٰ غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآنَ الْفَجْرِ ۖ إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا
Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat). (Q.S Al-Isra : 78)

·         Selamat dari kemunafiqan
“Tidak ada shalat yang lebih berat bagi orang munafik melebihi shalat shubuh dan isya’. Seandainya mereka mengetahui keutamaan keduanya pastilah mereka akan mendatangi (ke masjid) walaupun dengan merangkak.” (H.R Bukhari-Muslim)
Apabila sholat shubuh seringkali kita tinggalkan maka kita termasuk kedalam golongan orang yang munafik.
Allah SWT berfirman :
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَىٰ يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا
Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali (Q.S An-Nisa :142)

·         Berkah di sekitar waktu subuh
Dari Anas bin Malik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
« مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِى جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ ». قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ »
Barangsiapa yang melaksanakan shalat shubuh secara berjama’ah lalu ia duduk sambil berdzikir pada Allah hingga matahari terbit, kemudian ia melaksanakan shalat dua raka’at, maka ia seperti memperoleh pahala haji dan umroh.” Beliau pun bersabda, “Pahala yang sempurna, sempurna dan sempurna.”

“Allah turun ke langit dunia setiap malam pada sepertiga malam terakhir, kemudian Allah berfirman, “Siapa yang berdoa kepada-Ku niscaya Aku kabulkan! Siapa yang meminta kepada Ku niscaya Aku beri! Siapa yang meminta ampun kepada –Ku tentu Aku ampuni”. Demikianlah keadaan nya hingga terbit fajar.” (H.R Bukhari no. 145, Muslim No.758)

Berdasarkan hadist tersebut dapat diketahui bahwa disekitar waktu shubuh merupakan waktu-waktu yang istimewa. Sungguh beruntung orang-orang yang melaksanakan sholat shubuh, terutama mereka yang sudah bangun sebelum waktu sholat shubuh tiba.

·         Berdzikir setelah subuh, dosa diampuni walau sebesar lautan
 Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ حُطَّتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ
Artinya: “Barangsiapa yang mengucapkan: Subhanallah wabihamdih (Maha suci Allah dan dengan segala pujian hanya untuk-Nya) sehari 100 (seratus) kali, maka kesalahan-kesalahannya akan diampuni (Allah) walaupun sebanyak buih di lautan.” (HR. Imam Al-Bukhari no. 5926 dan Muslim no. 2691)
Sungguh Allah maha pengampun bagi hamba-Nya.

·         Alat Ukur Kebahagiaan dan kesuksesan seseorang
Orang yang shalat shubuhnya paling baik maka dia orang yang paling bahagia karena dialah yang paling tentram hatinya. Allah SWT berfirman :
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
Artinya : (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram (Q.S Ar-Ra'du : 28)
            Kunci ketentraman hati ada pada dzikrullah. Orang yang melakukan sholat shubuh setara dengan sholat semalam suntuk. Bayangkan betapa tentram nya hati seseorang yang semalam penuh mengerjakan shalat?
·         Terlepas dari ikatan syaitan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
يَعْقِدُ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إِذَا هُوَ نَامَ ثَلاَثَ عُقَدٍ ، يَضْرِبُ كُلَّ عُقْدَةٍ عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ ، فَإِنِ اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللَّهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ ، فَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ ، فَإِنْ صَلَّى انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَأَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ ، وَإِلاَّ أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلاَنَ

“Ketika kalian tidur, syetan membuat tiga ikatan di tengkuk kalian. Di setiap ikatan setan akan mengatakan, “Malam masih panjang, tidurlah!” Jika ia bangun lalu berdzikir pada Allah, lepaslah satu ikatan. Kemudian jika ia berwudhu, lepas lagi satu ikatan berikutnya. Kemudian jika ia mengerjakan shalat, lepaslah ikatan terakhir. Di pagi hari dia akan bersemangat dan bergembira. Jika tidak melakukan seperti ini, jiwanya jadi kotor dan malas.” (HR. Al Bukhari)
Tentunya setiap orang ingin dada nya menjadi lapang dan gembira. Berdasarkan hadist tersebut, mereka yang melakukan dzikir, berwudhu kemudian melaksanakan shalat maka terlepas lah semua ikatan syaitan pada diri kita sehingga dada kita menjadi lapang dan menjadikan kita bersemangat dan bergembira di pagi harinya.





            Demikianlah keistimewaan-keistimewaan shalat subuh yang sungguh amat disayangkan seringkali kita lewatkan. Semoga dengan mengetahui keistimewaan dari sholat shubuh, kita tidak lagi melalaikan ibadah sholat subuh

Jumat, 09 Juni 2017

                                                 Membaca Al quran



Terkadang kita terlalu malas untuk membaca al-quran. Bahkan al-quran itu masih tertata rapi di rak kita, menandakan jarang sekali kita membukanya. Padahal banyak sekali kemuliaan yang didapat dengan membaca al-quran.
Al quran merupakan kitab suci umat islam yang diturunkan kepada Nabi Muhammmad SAW. Al Qur’an diturunkan secara beransur-ansur dalam masa 22 tahun 2 bulan 22 hari.

Allah SWT berfirman :
وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً ۚ كَذَٰلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ ۖ وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيلًا


Artinya : Berkatalah orang-orang yang kafir: "Mengapa Al Quran itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?"; demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil (teratur dan benar) (Q.S Al-Furqan : 32)
Berdasarkan ayat tersebut, dapat diketahui bahwa turun nya al-quran secara berangsur-angsur adalah untuk menguatkan dan menetapkan hati Rasulullah SAW dalam berdakwah menyampaikan kebenaran kemudian agar memudahkan pelafalan al quran dengan benar. Hikmah lainnya mengapa al quran diturunkan secara berangsur-angsur adalah mengikuti peristiwa-peristiwa yang terjadi pada saat itu. Allah SWT berfirman:

وَقُرْآناً فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَى مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنزِيلاً ﴿١٠٦﴾
Artinya : Dan Al Quran itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian. 
(Q.S Al Isra : 106)


Seringkali kita melupakan waktu untuk membaca al quran. Kita terlalu sibuk dengan urusan dunia sehingga lupa dengan al quran. Padahal dengan membaca al quran kita akan memperoleh banyak sekali nikmat. Sebagai umat yang beriman, hendaknya kita membaca al-quran dengan benar dan memahaminya dengan sepenuh hati kita. Allah SWT berfirman:

الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلَاوَتِهِ أُولَٰئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِ ۗ وَمَنْ يَكْفُرْ بِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ



Artinya : Orang-orang yang telah Kami berikan Al Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya. Dan barangsiapa yang ingkar kepadanya, maka mereka itulah orang-orang yang rugi. (Q.S Al-Baqarah : 121)

Al-quran merupakan pedoman hidup umat manusia. Di dalam al-quran terdapat panduan untuk menjalani  kehidupan di dunia. Rasulullah Saw, bersabda:
“Aku telah meninggalkan pada kamu sekalian dua perkara yang kamu tidak akan sesat selama kamu berpegang teguh kepada keduanya, yaitu kitab Allah (Al-Qur’an) dan sunnah (hadits) Nabi-Nya.” (HR.Malik)

Allah SWT berfirman :
ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ
Artinya : Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa (Q.S Al-baqarah : 2)

Allah SWT berfirman :
هَٰذَا بَلَاغٌ لِلنَّاسِ وَلِيُنْذَرُوا بِهِ وَلِيَعْلَمُوا أَنَّمَا هُوَ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ وَلِيَذَّكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ
Artinya : (Al Quran) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengan-Nya, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran (Q.S Ibrahim : 52)

Apabila kita berpegang teguh kepada al-quran maka kita akan keluar daripada kebodohan menuju kepada pengetahuan. Allah SWT berfiman :
الر ۚ كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَىٰ صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ
Artinya : Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. (Q.S Ibrahim : 1)

Seringkali manusia membaca al quran dengan tergesa-gesa karena ingin cepat menghafalnya. Padahal hal tersebut dilarang oleh Allah SWT. Allah SWT berfirman :

لَا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ
Artinya : Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Quran karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya (Q.S Al-Qiyamah : 16)

Saat malam hari, seringkali kita menghabiskan waktu untuk hal yang kurang bermanfaat seperti menonton acara televisi yang hanya mengandung maksiat. Padahal waktu malam hari tersebut bisa kita gunakan untuk membaca al-quran.
Abu Musa Al Asy’ary radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya aku benar-benar mengetahui suara kelompok orang-orang keturunan Asy’ary dengan bacaan Al Quran, jika mereka memasuki waktu malam dan aku mengenal rumah-rumah mereka dari suara-suara mereka membaca Al Quran pada waktu malam, meskipun sebenarnya aku belum melihat rumah-rumah mereka ketika mereka berdiam (disana) pada siang hari…” (HR. Muslim).

Allah memerintahkan hamba Nya untuk bangun di malah hari dalam keadaan yang sunyi untuk mengerjakan salat dan membaca al quran secara perlahan. Allah SWT berfirman :

يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ (١)قُمِ اللَّيْلَ إِلا قَلِيلا (٢)نِصْفَهُ أَوِ انْقُصْ مِنْهُ قَلِيلا (٣)أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلا (٤)
Artinya : (1) Wahai orang yang berselimut. (2) Bangunlah di malam hari, kecuali sedikit. (3)Seperduanya atau kurangilah daripadanya sedikit. (4) Atau tambah daripadanya, dan bacalah al Quran dengan perlahan-lahan. (Q.S Al Muzzamil : 1-4)

Membaca al-quran tidak hanya sekedar membaca saja, tetapi juga mentaddaburinya. Maksud dari taddabur yakni memahami makna, merenungi dan mengamalkan ayat-ayat al-quran.
Allah SWT berfirman :
كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ
 Artinya : Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran. (Q.S As-shad : 29)

Mereka yang hanya membaca al-quran saja tanpa mentaddaburinya dikatakan memiliki hati yang terkunci sehingga kebenaran yang tekandung dalam ayat al-quran tak bisa masuk kedalam hatinya. Allah SWT berfirman :

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا
Artinya : Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci? (Q.S Muhammad : 24)

Dengan membaca setiap huruf dalam al-quran kita telah mendapat 10 kebaikan. Sungguh nikmat yang telah kita dapatkan hanya dengan membaca al-quran.
“Barang siapa yang membaca satu huruf dari Al-Qur’an maka baginya kebaikan sepuluh kali lipat, aku tidak mengatakan Alif Lam Mim satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, Mim satu huruf.” (Shahih HR.Tirmidzi)
Seorang mukmin yang membaca al-quran dimisalkan dengan buah utrujah yang harum dan manis,
“Perumpamaan seorang mukmin yang membaca Al Qur’an seperti buah utrujah yang memiliki wangi yang sedap dan rasa yang manis. Sedangkan perumpamaan seorang mukmin yang tidak membaca Al Qur’an ibarat buah tamar (kurma) yang tidak memiliki bau namun rasanya manis. Adapun perumpamaan seorang munafiq yang membaca Al Qur’an ibarat buah roihanah yang memiliki wangi yang sedap tapi rasanya pahit. Dan perumpamaan seorang munafiq yang tidak membaca Al Qur’an ibarat buah handzholah yang tidak memiliki bau dan rasanya pahit”. (HR. Muslim, 1896)

Oleh sebab itu,  hendaklah kita meluangkan waktu kita untuk membaca al-quran. Dengan membaca al-quran kita akan memperoleh ketentraman hati, pahala yang berlimpah, mendapat petunjuk untuk setiap permasalahan dan keutamaan lainnya. Lantas masihkah kita malas untuk membaca Al-quran??

Selasa, 09 Mei 2017

LARANGAN BUNUH DIRI




Saat banyak nya masalah yang dihadapi setiap umat manusia, ada yang memilih bersabar, berusaha dan bertawakal kepada Allah, adapula yang memilih menyelesaikannya dengan cara yang instan. Dengan penuh putus asa. Yakni dengan bunuh diri.  Bagi sebagian orang, bunuh diri merupakan satu-satunya jalan untuk menyelesaikan masalah yang ia hadapi. Dengan berbagai macam permasalahan hidup seperti kemiskinan, patah hati dan lain sebagainya, mereka mengaggap bahwa bunuh diri adalah perbuatan yang benar.

Namun tahukah kalian?? perbuatan bunuh diri adalah perbuatan yang dilarang oleh islam. Allah melarang kepada umatnya untuk membunuh atau bunuh diri. Sebab Allah lah yang menentukan hidup dan matinya umat manusia.
Allah SWT berfirman
وَاللَّهُ يُحْيِي وَيُمِيتُ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ….
“…Allah menghidupkan dan mematikan. Dan Allah melihat apa yang kamu kerjakan” (Q.S Ali-Imran : 156)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ ۚ وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (Q.S An-Nisa:29)

 قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ ۖ أَلَّا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۖ وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ مِنْ إِمْلَاقٍ ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ ۖ وَلَا تَقْرَبُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ ۖ وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ


Katakanlah: "Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar". Demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahami(nya) (Q.S Al-An’am : 151)

 Kita harus yakin, bahwa dibalik setiap kesulitan yang kita hadapi, pasti ada kemudahan seperti dalam Firman Allah dalam surah Al Insyirah ayat 5-6

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”(QS. Al-Insyirah: 5)”
إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” (QS. Al-Insyirah: 6).

Saat menghadapi masalah, jangan lah kita berburuk sangka kepada Allah SWT. Sebab seringkali mereka yang ditimpa musibah, menganggap bahwa Allah tak menyayangi dirinya. Padahal musibah tersebut, adalah bukti cinta Allah kepada umat-Nya.
Dari hadits Anas bin Malik, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِىَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ
Sesungguhnya pahala besar karena balasan untuk ujian yang berat. Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka. Barangsiapa yang ridho, maka ia yang akan meraih ridho Allah. Barangsiapa siapa yang tidak suka, maka Allah pun akan murka.” (HR. Ibnu Majah no. 4031, hasan kata Syaikh Al Albani).
Oleh sebab itu, hilangkanlah prasangka buruk kita kepada Allah SWT.
“Aku sesuai dengan dugaan hambaKu teerhadapKu. Jika ia berbaik sangka kepada-Ku, maka itulah untuknya. Dan jika ia berburuk sangka kepada-Ku, maka itulah untuknya (H.R Ahcmad)


 Mereka yang melakukan bunuh diri, akan mengalami tiga penderitaan, yakni penderitaan di dunia yang menjadikannya melakukan perbuatan bunuh diri, penderitaan menjelang kematiannya, dan penderitaan yang kekal di akhirat nanti.
  (Shahih Muslim) Dari Abu Hurairah ra, katanya Rasulullah saw., bersabda : “Siapa yang bunuh diri dengan senjata tajam, maka senjata itu akan ditusuk-tusukannya sendiri dengan tangannya ke perutnya di neraka untuk selama-lamanya; dan siapa yang bunuh diri dengan racun, maka dia akan meminumnya pula sedikit demi sedikit nanti di neraka, untuk selama-lamanya; dan siapa yang bunuh diri dengan menjatuhkan diri dari gunung, maka dia akan menjatuhkan dirinya pula nanti (berulang-ulang) ke neraka, untuk selama-lamanya.”
(Shahih Muslim) Dari Tsabit bin Dhahhak ra, katanya Nabi saw., sabdanya : “Siapa yang bersumpah menurut cara suatu agama selain Islam, baik sumpahnya itu dusta maupun sengaja, maka orang itu akan mengalami sumpahnya sendiri. “Siapa yang bunuh diri dengan suatu cara, Allah akan menyiksanya di neraka jahanam dengan cara itu pula.”
Sungguh amat sangat mengerikan balasan yang diterima oleh manusia yang melakukan bunuh diri di akhirat nanti. Jadi masihkah kita berfikir untuk melakukan bunuh diri? Lantas bagaimanakah cara kita menghadapisetiap permasalahan agar terhindar dari perilaku bunuh diri?

1.      Ikhtiar
Allah SWT berfirman,
وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ
dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya

Saat menghadapi permasalahan, hendaknya kita berusaha untuk menyelesaikannya.  Jangan hanya pasrah menerima keadaan tanpa melakukan usaha apapun.

2.   Bersabar
Saat tertimpa masalah, maka sebagai seorang mukmin hendaknya kita bersabar dan jangan mengeluh.
“Menakjubkan perkara seorang mukmin, seluruh perkaranya adalah kebaikan. Dan itu tidak akan dialami, kecualioleh seorang mukmin, maka ia bersyukur dan itu lebih baik baginya. Dan jika ia ditimpa keburukan, maka ia bersabar dan itu lebih baik baginya” (H.R Muslim)

3.   Bersyukur
Saat menghadapi permasalahan sesulit apapun, hendaknya kita selalu bersyukur. Karena masih banyak orang-orang yang kurang beruntung diluar sana. Bersyukurlah atas nikmat yang Allah telah berikan kepada kita.
Allah SWT berfirman,
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (Q.S Ibrahim : 7)

4.   Tawakal
      Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “TawakalTawakal adalah menyandarkan permasalahan kepada Allah dalam mengupayakan yang dicari dan menolak apa-apa yang tidak disenangi, disertai percaya penuh kepada Allah Ta’ala dan menempuh sebab (sebab adalah upaya dan aktifitas yang dilakukan untuk meraih tujuan) yang diizinkan syari’at  Allah SWT berfirman
    وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.