Selasa, 10 September 2019



Ikhlas merupakan perbuatan yang mudah diucapkan tetapi sangat sulit dilakukan. Ikhlas sendiri memiliki makna melakukan segala sesuatu nya tanpa mengharapkan imbalan apa-apa. Salah satu contohnya yakni keikhlasan dalam memberi. Tidak ikhlas namanya jika kita “mengumbar” apa yang telah kita berikan kepada orang lain. Karena sebenarnya, memberi yang demikian itu bermaksud memperoleh pujian atas apa yang diberikanSungguh amat sangat rugi apabila kita termasuk orang yang demikianKarena hanya akan menghapus pahala sedekah yang ia lakukan. Allah SWT berfirman :  
 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تُبْطِلُواْ صَدَقَاتِكُم بِالْمَنِّ وَالأذَى كَالَّذِي يُنفِقُ مَالَهُ رِئَاء النَّاسِ وَلاَ يُؤْمِنُ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْداً لاَّ يَقْدِرُونَ عَلَى شَيْءٍ مِّمَّا كَسَبُواْ وَاللّهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ 
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir . “ (Al Baqarah:264) 
Contoh perilaku ikhlas lainya yakni ikhlas dalam beribadah, maksudnya yakni melakukan ibadah semata-mata mengharap ridho Allah SWT bukan bermaksud riya, dan mendapatkan pujian. Sebab yang demikian itu termasuk kedalam orang-orang yang munafik. Orang munafik melakukan shalat dengan maksud dipuji manusia, dihormati dan dimuliakan dan tidak melakukannya dengan ikhlas karena Allah SWT. firman AllohSWT 
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلا قَلِيلاً 
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut nama Allah kecuali sedikit sekali.” (QS. An-Nisaa’ : 142) 
Setiap perbuatan yang kita lakukan berawal  dari niatOleh sebab itu hendaknya ibadah yang kita lakukan didasari niat semata-mata mencari ridho Allah SWT. Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khottob radiallahuanhu, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda : Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan  sesungguhnya  setiap  orang  (akan dibalas)berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan. 
Tidak ikhlas namanya, jika kita masih merasakan sakit. Rasa sakit yang muncul di hati kita tak lain disebab kan kita tak mampu menerima keadaan yang semestinya. Segala sesuatu yang terjadi adalah atas kehendak Allah SWT. “Manusia boleh berencana, tetapi Allah yang menentukan”. firman Allah: 
وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ 
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216) 
Salah satu contoh sikap ikhlas lainya yakni ikhlas dalam memaafkan. Tidak ikhlas namanya, jika dalam memaafkan kita masih menyimpan dendam. Tidak ikhlas namanya, jika dalam memaafkan kita masih sering mengungkit kesalahan orang tersebut. Firman Allah SWT :  
الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ 
(Orang-orang yang bertakwa adalah) mereka yang menafkahkan (hartanya) baik di waktu lapang maupun sempit dan orang-orang yang menahan amarahnya serta (mudah) memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. [Ali-Imran/3:134] 
Terkadang mulut kita berucap “ikhlas” padahal hati belum tentu demikian. apabila kita merasa ikhlas akan sesuatu, tak perlu kita ucapkan, sebab dikhawatirkan ikhlas tersebut akan menyebabkan riya. Ibnul Qayyimrahimahulloh berkata dalam kitabnya Al-Fawaid, “Ikhlas adalah sesuatu yang mana Malaikat tidak mengetahui sehingga mencatatnya, dan setan sehingga merusaknya dan tidaklah sahabat yang takjub padanya sehingga membatalkan ibadahnya.” 
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam perkara ini mengatakan: “Suatu jenis amalan yang dikerjakan oleh manusia dengan menyempurnakan keikhlasannya dan ketundukkannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, terkadang Allah Subahnahu wa Ta’ala akan mengampuni dosa-dosa besar dengan sebab amalan itu, sebagaimana hadits al-bithaqah (seorang yang memiliki satu kartu Laa ilaaha illa Allah, lalu diampuni dosa-dosanya sebanyak 99 lembaran catatan amal keburukan-red)…ini karena dia mengucapkan Laa ilaaha illa Allah dengan ikhlas dan jujur/benar, karena kalau tidak, maka para pelaku dosa besar yang masuk ke dalam neraka semuanya juga mengucapkan tauhid, tetapi perkataan mereka tidaklah lebih berat terhadap dosa-dosa mereka sebagaimana pemilik kartu (Laa ilaaha illa Allah) itu.” 
Hadits pemilik kartu Laa ilaaha illa Allah itu, adalah sebagai berikut: 
Dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash Radhiyallahu ‘anhu , dia berkata: “Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah akan mengadili salah seorang laki-laki dari ummatku di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat. Lalu ditunjukan kepada laki-laki tersebut 99 catatan (amal keburukan), setiap satu catatan panjangnya sejauh mata memandang. Kemudian dikatakan kepada laki-laki tersebut: ”Apakah kau ingkari dari semua ini (kedzaliman yang telah kau perbuat)? Apakah para malaikat-Ku pencatat dan penjaga amalan menzhalimimu? Laki-laki tersebut menjawab: “Tidak Ya Tuhanku!”. Lalu Allah berkata kepada laki-laki tersebut: “Apakah engkau punya alasan (berbuat kezhaliman itu)? Laki-laki tersebut menjawab: “Tidak Ya Tuhanku!”. Kemudian Allah berkata kepada laki-laki tersebut: “Ya benar, tetapi sesungguhnya engkau memiliki satu kebaikan di sisi Kami, dan sesungguhnya tidak ada kedzaliman atasmu pada hari ini. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mengeluarkan sebuah kartu kecil yang di dalamnya terdapat : Asyhadu an laa ilaaha illa Allah wa asyhadu anna Muhamadan ‘abduhu warasuluhu (Aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya). Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala berkata kepada orang tersebut: “Datangkan timbanganmu”, maka orang tersebut berkata: “Ya Tuhan untuk apa kartu kecil ini dibandingkan dengan catatan (amal keburukan) ini ?”, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala berkata kepada orang tersebut: “Sesungguhnya pada hari ini tiada kedzaliman”. Maka diletakkanlah catatan itu pada salah satu daun timbangan, dan kartu kecil itu diletakan pada satu daun timbangan yang lain. Maka jadi ringanlah catatan-catatan `amal keburukan itu dan beratlah kartu kecil tersebut, maka tiadalah sesuatupun yang menjadi berat dibandingkan dengan nama Allah Subhanahu wa Ta’ala. [HR. At-Tirmidzi dan An-Nasa’i]. 
Iblis berjanji bahwasanya ia akan menyesetkan anak cucu adam di dunia.  Namun, Ikhlas akan membebaskan kita dari kesesatan yang dilakukan oleh iblis, Allah SWT berfirman :  
قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لأزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الأرْضِ وَلأغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ (٣٩) إِلا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ (٤٠) 
Artinya: 
Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya. (15: 39) Kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka." (15: 40) 
]

Minggu, 11 Agustus 2019

Bekal Manusia




Manusia adalah makhluk yang Allah SWT hidupkan dan kelak Allah yang akan mematikan nya. Allah SWT berfirman :

كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَكُنْتُمْ أَمْوَاتًا فَأَحْيَاكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ 
Artinya : Mengapa kalian kafir kepada Allah, padahal kalian tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kalian, kemudian kalian dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kalian dikembalikan. (Q.S Al-Baqarah : 28)

            Lalu untuk apa manusia diciptakan oleh Allah?? Allah menciptakan manusia semata-mata agar manusia beribadah kepada-Nya.
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Artinya : Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (Q.S Ad-Dzariyat :56)

Kita tidak akan tau kapan kematian akan menghampiri kita. Mereka yang tadinya tampak sehat-sehat saja bisa saja menghadap kepada Allah SWT sang pencipta saat itu juga. Sebab kematian adalah rahasia Allah SWT dan apabila kematian telah datang menghampiri, manusia tidak akan bisa untuk menolaknya. Allah SWT berfirman :
وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ ۖ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ
Artinya : Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya. (Q.S Al-A’raf :34)

Lalu apakah yang akan kita bawa saat mati nanti?? Apakah harta yang selama ini kita cari? Sesungguhnya harta yang kita cari selama hidup di dunia ini tidak akan menemani kita saat mati nanti. Rasulullah SAW bersabda : 
“Ada tiga perkara yang mengiringi mayat. Yang dua kembali, sedangkan yang satu tetap tinggal bersamanya. Mayat diiringi keluarganya,hartanya, dan amalnya. Keluarganya, hartanya dan amalnya. Keuarga dan hartanya kembali . sedangkan amalnya tetap mengiringinya.” (HR.al-Bukhori dan Muslim) 
Kita bekerja hampir setiap hari, bercucur keringat, pulang malam hari hingga terkadang melupakan kewajiban kita untuk beribadah kepada Allah SWT . padahal harta yang kita cari bukan lah milik kita, melainkan milik ahli waris kita. Sebab saat mati nanti, harta tidak akan dapat kita bawa ke akhirat nanti, dan akhirnya kita tinggalkan harta yang kita cari selama di dunia ini kepada ahli waris kita. Rasulullah Saw. Bersabda : 
“Adakah diantara kalian yang lebih mencintai harta milik ahli warisnya dari pada hartanya sendiri? Para sahabat menjawab , “Tidak ada seorangpun kecuali lebih mencintai hartanya sendiri dari pada harta milik ahli warisnya!’ Beliau bersabda, “Sesungguhnya, hartanya adalah yang telah digunakannya, sedangkan harta milik ahli warisnya adalah yang belum digunkannya.” (HR. al-Bukhori) 

            Namun bukan berarti, kita malah menjadi malas dalam bekerja. sebab bekerja adalah perbuatan yang mulia. Dan Allah memerintahkan hamba-Nya untuk bekerja, bukan untuk meminta-minta
Dari Qabishah bin Mukhariq Al-Hilali radhiallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

 “Wahai Qabishah! Sesungguhnya meminta-minta itu tidak halal, kecuali bagi salah satu dari tiga orang: (1) seseorang yang menanggung hutang orang lain, ia boleh meminta-minta sampai ia melunasinya, kemudian berhenti, (2) seseorang yang ditimpa musibah yang menghabiskan hartanya, ia boleh meminta-minta sampai ia mendapatkan sandaran hidup, dan (3) seseorang yang ditimpa kesengsaraan hidup sehingga ada tiga orang yang berakal dari kaumnya mengatakan, ‘Si fulan telah ditimpa kesengsaraan hidup,’ ia boleh meminta-minta sampai mendapatkan sandaran hidup. Meminta-minta selain untuk ketiga hal itu, wahai Qabishah! Adalah haram, dan orang yang memakannya adalah memakan yang haram.” (Shahih: HR. Muslim, Abu Dawud, Ahmad, an-Nasa-i, dan selainnya).

Karena allah telah menjadikan bumi dan isinya sebagai lading untuk penghidupan. Sehingga hendaknya manusia bekerja untuk menghidupi dirinya. Allah SWT berfirman :
وَلَقَدْ مَكَّنَّاكُمْ فِي الْأَرْضِ وَجَعَلْنَا لَكُمْ فِيهَا مَعَايِشَ ۗ قَلِيلًا مَا تَشْكُرُونَ
Artinya : Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi (sumber) penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersyukur. (Q.S Al-A’raf :10)
           
Jadi, sebagai hamba Allah SWT, jangan lah menjadikan bekerja sebagai alasan untuk kita lupa kepada-Nya.

Saat mati lalu apakah bekal yang akan kita bawa nanti jika bukan harta yang selama ini kita cari? Yakni taqwa. Allah menyatakan di dalam firman-Nya:
وَتَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوْنِ يٰأُولِى الْأَلْبَابِ 
Artinya: “…..Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa, dan bertaqwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal”. (Q.S. Al-Baqarah [2]: 197).

            Bekal taqwa berupa menjalankan perintah Allah SWT dan menjauhi larangan Nya. Orang yang bertaqwa akan mendapat surga sebagai jaminan nya.

لَٰكِنِ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا نُزُلًا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ ۗ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ لِلْأَبْرَارِ
Artinya : Akan tetapi orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya, bagi mereka surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, sedang mereka kekal di dalamnya sebagai tempat tinggal (anugerah) dari sisi Allah. Dan apa yang di sisi Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang berbakti. (Q.S Ali’-Imran : 198)
                 
                  Saat manusia telah menghadapi kematian, maka amalan nya akan terputus kecuali tiga perkara. Oleh sebab itu hendak nya manusia selama hidupnya didunia perbanyak amalan ibadah untuk bekalnya di akhirat nanti.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Artinya :Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)
           
            Perbanyaklah amalan ibadah selama hidup di dunia. Semua hal yang dilakukan manusia semasa hidupnya akan dihitung dan dimintai pertanggungjawaban nya di akhirat nanti. Dunia adalah tempat untuk beramal dan tidak diperhitungkan, sedamgkan akhirat nanti adalah tempat dimana kita tidak lagi bisa beramal, melainkan tempat dimana amalan kita didunia diperhitungkan. Sahabat yang mulia Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata: “Sesungguhnya dunia telah pergi meninggalkan (kita) sedangkan akhirat telah datang di hadapan (kita), dan masing-masing dari keduanya (dunia dan akhirat) memiliki pengagum, maka jadilah kamu orang yang mengagumi/mencintai akhirat dan janganlah kamu menjadi orang yang mengagumi dunia, karena sesungguhnya saat ini (waktunya) beramal dan tidak ada perhitungan, adapun besok (di akhirat) adalah (saat) perhitungan dan tidak ada (waktu lagi untuk) beramal.” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Az Zuhd (hal. 130) dan dinukil oleh Imam Ibnu Rajab Al Hambali dalam kitab beliau Jaami’ul ‘uluumi wal hikam (hal. 461)).
Jadikan lah akhirat sebagai tujuan kita, Sebab dunia ini hanyalah kehidupan yang bersifat sementara. hadits dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu bahwasanya beliau berkata: Kami mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda :

 “Barangsiapa yang (menjadikan) dunia tujuan utamanya maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kemiskinan/tidak pernah merasa cukup (selalu ada) di hadapannya, padahal dia tidak akan mendapatkan (harta benda) duniawi melebihi dari apa yang Allah tetapkan baginya. Dan barangsiapa yang (menjadikan) akhirat niat (tujuan utama)nya maka Allah akan menghimpunkan urusannya, menjadikan kekayaan/selalu merasa cukup (ada) dalam hatinya, dan (harta benda) duniawi datang kepadanya dalam keadaan rendah (tidak bernilai di hadapannya

Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam “Igaatsatul Lahfaan” berkata, “Orang yang mencintai dunia (secara berlebihan) tidak akan lepas dari tiga (macam penderitaan): Kekalutan (fikiran) yang selalu menyertainya, kepayahan yang tiada henti, dan penyesalan yang tiada berakhir . Hal ini disebabkan saat manusia mendapatkan harta ia tidak akan pernah merasa puas dengan apa yang suda didapatnya. Rasulullah SAW bersabda :

Seandainya seorang manusia memiliki dua lembah (yang berisi) harta (emas) maka dia pasti (bercita-cita) mencari lembah harta yang ketiga.” (HR. Bukhari & Muslim.



Rabu, 10 Juli 2019

                        Sudahkah Kita Bersyukur??

Sadarkah kita, bahwaAllah memberikan nikmat kepada kita, umat manusia dengan jumlah yang tidak dapat kita ukur. Mulai dari bumi tempat dimana kita tinggal, kemudian air, hewan ternak, tumbuh-tumbuhan dan yang lain nya sebagai  isi bumi yang tentu saja tidak dapat dihitung nilainya. Diantara nikmat Allah tersebut terkandung dalam surah Az-Zakhruf ayat 9-13. Allah SWT berfirman :


Artinya: 
9) Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka: “siapakah yang menciptakan langit dan bumi?’’ niscaya mereka kan menjawab : “semuanya di ciptakan oleh yang maha perkasa lagi maha mengetahui’’.
10) yang menjadikan bumi untuk kami sebagai tempat menetap dan dia membuat jalan-jalan diatas bumi untuk kamu supaya kamu mendapat petunjuk
11) Dan yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang di perlukan)lalu kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati,seperti itulah kamu akan di keluarkan (dari dalam kubur).
12) Dan yang menciptakan semua yang berpasang-pasangan dan menjadikan untukmu kapal dan binatang ternak yang kamu tunggangi. Supaya kamu duduk di atas punggungnya kamudian kamu ingat ni’mat Tuhanmu apabila kamu telah duduk di atasnya; dan supaya kamu mengucapkan: “Maha Suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya.( Q.S. Az-Zukhruf: 9-13)
13) Sungguh banyak sekali nikmat yang Allah berikan kepada kita. Dan oleh sebab itu rasa syukur kita tidak akan pernah cukup untuk membalas -Nya

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ
Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An Nahl: 18)

Nikmat yang diberikan Allah kepada hamba-Nya tak dapat kita hitung jumlahnya. Namun, meskipun banyak sekali nikmat yang Allah berikan kepada kita, tetap saja seringkali kita lupa untuk bersyukur kepada-Nya.

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ
“Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)”.(Q.S Ibrahim : 34)

                Bahkan tak jarang pula kita mencela dan merasa kurang atas nikmat yang sudah Allah berikan kepada kita. Seperti contohnya kita selalu merasa kurang dengan rezeki yang Allah berikan kepada kita, padahal Allah memberikan kita sehat yang sangat mahal garga nya. Dari An Nu’man bin Basyir, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ لَمْ يَشْكُرِ الْقَلِيلَ لَمْ يَشْكُرِ الْكَثِيرَ
“Barang siapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia tidak akan mampu mensyukuri sesuatu yang banyak.” (HR. Ahmad, 4/278. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan sebagaimana dalam As Silsilah Ash Shohihah no. 667).

Sebagian dari kita menganggap nikmat Allah hanya sebatas harta. Sungguh sifat manusia yang tidak pernah merasa puas dengan harta.Padahal kesehatan, umur panjang, itu semua adalah nikmat dari Allah yang luar biasaa.
Ibnu Az Zubair pernah berkhutbah di Makkah, lalu ia mengatakan “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya manusia diberi lembah penuh dengan emas, maka ia masih menginginkan lembah yang kedua semisal itu. Jika diberi lembah kedua, ia pun masih menginginkan lembah ketiga. Perut manusia tidaklah akan penuh melainkan dengan tanah. Allah tentu menerima taubat bagi siapa saja yang bertaubat.” (HR. Bukhari no. 6438)
             Apabila kita selalu bersyukur kepada Allah, tentunya kita tidak akan pernah mengeluh, merasa kurang atas nikmat yang Allah SWT berikan. Sebab Allah SWT senantiasa menambah nikmat-Nya kepada hamba nya yang bersyukur. Allah SWT berfirman :

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

"Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (Q.S Ibrahim : 7)

Mereka yang senantiasa bersyukur atas nikmat Allah akan mendapatkan balasan dari-Nya. Tentu saja, mereka yang tidak bersyukur juga akan mendapat akibatnya. Allah SWT berfirman:

وَسَنَجْزِي الشَّاكِرِينَ...
"Dan kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur” (Qs. Ali Imran:145)

لِيَكْفُرُوا بِمَا آتَيْنَاهُمْ ۚ فَتَمَتَّعُوا ۖ فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ
“Biarlah mereka mengingkari nikmat yang telah Kami berikan kepada mereka; maka bersenang-senanglah kamu. Kelak kamu akan mengetahui (akibatnya)”. (Q.S An-Nahl :55).

            Kadang, manusia lupa untuk bersyukur kepada Allah karena merasa apa yang ia pinta kepada-Nya belum terkabul. Padahal bisa jadi apa yang kita pinta, bukan menjadi yang terbaik untuk diri kita menurut-Nya. Yang kita ingin kan belum tentu apa yang kita butuhkan. Saaat apa yang telah kita pinta kepada Allah belum terkabul, terkadang kita menjadi kecewa, bahkan tak jarang marah dan menganggap bahwa Allah SWT tak adil. Allah SWT berfirman : 

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تَكْرَهُواْ شَيْئاً وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تُحِبُّواْ شَيْئاً وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ (البقرة: 216)
"Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu me-nyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (Al-Baqarah: 216)

            Oleh sebab itu jangan lah kita suudzon kepada Allah dengan menganggap bahwa Allah tak adil. Mereka yang berburuk sangka kepada Allah SWT, neraka Jahanam lah tempat mereka kembali. Allah SWT berfirman:


  1. “dan supaya Dia mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang mereka itu berprasangka buruk terhadap Allah. Mereka akan mendapat giliran (kebinasaan) yang amat buruk dan Allah memurkai dan mengutuk mereka serta menyediakan bagi mereka neraka Jahannam. Dan (neraka Jahannam) itulah sejahat-jahat tempat kembali”. (Q.S Al-Fath : 6)

Senin, 10 Juni 2019



Memaafkan


Setiap manusia di dunia ini, tak luput dari kesalahan. Baik itu kesalahan yang disengaja ataupun tidak disengaja. Tanpa atau dengan disadari, terkadang kita membuat orang lain sakit hati, terkadang pula orang lain lah yang membuat kita sakit hati. Tak jarang sakit hati itu pun menimbulkan dendam yang tidak pernah padam.

Sulit rasanya untuk meminta maaf atas kesalahan yang kita perbuat kepada orang lain. Terkadang kita dikalahkan oleh rasa ego kita dengan berkata “kalau minta maaf berarti kita kalah”. Sesulit kita meminta maaf kepada orang lain, sesulit itu pun kita untuk memaafkan kesalahan orang lain terhadap kita. Padahal kita pun juga tak luput dari berbuat salah kepada orang lain. Lalu mengapa kita masih sulit memaafkan? 
قَوْلٌ مَعْرُوفٌ وَمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِنْ صَدَقَةٍ يَتْبَعُهَا أَذًى ۗ وَاللَّهُ غَنِيٌّ حَلِيم
Artinya : Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun (Q.S Al-Baqarah : 263)
Berdasarkan ayat diatas, orang yang memberikan maaf nya atas kesalahan orang lain lebih baik dibanding sedekahnya orang yang diiringi dengan ucapan yang menyakitkan penerima sedekah. Kita sebagai orang beriman diminta oleh Allah SWT untuk memberi kan maaf dan memberi kan nasihat agar mereka kembali kejalan yang lurus.
Saat orang lain menyakiti hati kita, sangat sulit rasanya untuk tidak membalas perbuatanya. Tentu pernah terbesit keinginan untuk balas dendam. Namun islam mengajarkan agar setiap orang beriman senantiasa sabar, oleh sebab itu jangan lah kita membalas kejahatan yang kita terima dari orang lain dengan kejahatan pula.
وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۚ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ
Artinya : Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. (QS. Fushilat: 34)
Seringkali kita menganggap bahwa memaafkan orang lain adalah sikap yang lemah. Padahal justru sebaliknya. Orang yang menahan amarahnya sesungguhnya ia adalah orang yang kuat. Ia mampu menahan amarah atas kejahatan orang lain terhadapnya dengan tidak membalas nya, padahal ia mampu untuk membalasnya.
Rasulullah bersabda:
لَيْسَ الشَّدِيْدُ باِلصُّرْعَةِ إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
“Orang yang kuat bukan yang banyak mengalahkan orang dengan kekuatannya. Orang yang kuat hanyalah yang mampu menahan dirinya di saat marah.” (HR. Al-Bukhari no. 6114)
Setiap amal perbuatan itu mendapat balasan sesuai dengan jenis amal perbuatannya, sebagaimana kita mengampuni dosa orang yang berdosa kepada kita, maka Allah mengampuni pula dosa-dosa kita. Dan sebagaimana kita memaafkan, maka Allah pun memaafkan kita pula. Allah SWT berfirman :
وَلَا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۖ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Artinya : Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (Q.S An-Nur : 22)
Dengan tidak memaafkan, apakah hati kita akan menjafi tenang? Tidak. Tentu saja hati kita akan dipenuhi oleh rasa kebencian, menimbulkan penyakit hatj yakni dendam. Allah SWT berfirman :
وَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَتْهُمْ رِجْسًا إِلَىٰ رِجْسِهِمْ وَمَاتُوا وَهُمْ كَافِرُونَ
Artinya : Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, disamping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir (Q.S At-Taubah : 125)
Penyakit hati yang ada pada diri kita tersebut dapat membawa kita pada kekafiran dan mati dalam keadaan kafir. Orang yang di dalam hati nya masih tersimpan dendam tidak akan dibukakan untuknya pintu surga. Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda, 

“Pintu-pintu surga itu dibuka pada hari Senin dan Kamis, lalu diampunkanlah bagi setiap hamba yang tidak menyekutukan sesuatu dengan Allah, kecuali seseorang yang antara dirinya dan saudaranya itu ada rasa dendam, lalu dikatakanlah, ‘Nantikanlah dulu kedua orang ini sehingga keduanya berdamai kembali. Nantikanlah kedua orang ini sehingga keduanya berdamai kembali’,” (HR. Muslim).
Untuk apa kita membalas kejahatan dengan kejahatan? Sedangkan dengan tidak membalasnya dapat mendatangkan pahala? Rasulullah bersabda
 “Apabila ada seseorang yang mencacimu atau menjelek-jelekanmu dengan aib yang ia ketahui ada padamu, maka janganlah kamu balas memburukkannya dengan aib yang kamu ketahui ada padanya. Maka pahalanya untuk dirimu dan dosanya untuk dia,” (HR. Al Muhamili dalam Amalinya no 354, Hasan)
Selain memaafkan kesalahan orang lain terdap kita, maka kita pun juga harus meminta maaf atas kesalahan kita terhadap orang lain. Sebab setiap manusia tak luput dari kesalahan. Janganlah kita menunda-nunda meminta maaf sebab kita tidak tahu kapan ajal akan menjemput.
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallambersabda,
 “Orang yang pernah menzhalimi saudaranya dalam hal apapun, maka hari ini ia wajib meminta perbuatannya tersebut dihalalkan oleh saudaranya, sebelum datang hari dimana tidak ada ada dinar dan dirham. Karena jika orang tersebut memiliki amal shalih, amalnya tersebut akan dikurangi untuk melunasi kezhalimannya. Namun jika ia tidak memiliki amal shalih, maka ditambahkan kepadanya dosa-dosa dari orang yang ia zhalimi” (HR. Bukhari no.2449)
Hal yang menyebabkan kita sulit untuk meminta maaf ataupun memaafkan tak lain adalah kita merasa bahwa diri kita lah yang paling benar. Sikap itu menjadikan kita merendahkan orang lain dan menganggap bahwasanya diri sendiri lah yang benar serta yang lain adalah salah. Janganlah demikian. Kita juga harus senantiasa mengintrospeksi diri, sebab manusia tak pernah luput daru dosa. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman,
فَلا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى
..Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (Qs. An-Najm:32)
Islam mengajarkan kepada kita bukan dengan memiliki sifat “merasa”, melainkan berlomba-lomba dalam kebaikan. Oleh sebab itu mulailah introspeksi diri kita serta saling maaf memaafkan antar sesama.
Diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash, beliau berkata, 
“Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya, ‘Siapakah orang yang paling utama?’ Beliau menjawab, ‘Setiap orang yang bersih hatinya dan benar ucapannya.’ Para sahabat berkata, ‘Orang yang benar ucapannya telah kami pahami maksudnya. Lantas apakah yang dimaksud dengan orang yang bersih hatinya?’ Rasulullah menjawab, ‘Dia adalah orang yang bertakwa (takut) kepada Allah, yang suci hatinya, tidak ada dosa dan kedurhakaan di dalamnya serta tidak ada pula dendam dan hasad.'” (Dikeluarkan oleh Ibnu Majah 4216 dan Thabarani, dan dishahihkan oleh Imam Albani di dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah)


Kamis, 09 Mei 2019

                                                 Membaca Al quran



Terkadang kita terlalu malas untuk membaca al-quran. Bahkan al-quran itu masih tertata rapi di rak kita, menandakan jarang sekali kita membukanya. Padahal banyak sekali kemuliaan yang didapat dengan membaca al-quran.
Al quran merupakan kitab suci umat islam yang diturunkan kepada Nabi Muhammmad SAW. Al Qur’an diturunkan secara beransur-ansur dalam masa 22 tahun 2 bulan 22 hari.

Allah SWT berfirman :
وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً ۚ كَذَٰلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ ۖ وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيلًا


Artinya : Berkatalah orang-orang yang kafir: "Mengapa Al Quran itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?"; demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil (teratur dan benar) (Q.S Al-Furqan : 32)
Berdasarkan ayat tersebut, dapat diketahui bahwa turun nya al-quran secara berangsur-angsur adalah untuk menguatkan dan menetapkan hati Rasulullah SAW dalam berdakwah menyampaikan kebenaran kemudian agar memudahkan pelafalan al quran dengan benar. Hikmah lainnya mengapa al quran diturunkan secara berangsur-angsur adalah mengikuti peristiwa-peristiwa yang terjadi pada saat itu. Allah SWT berfirman:

وَقُرْآناً فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَى مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنزِيلاً ﴿١٠٦﴾
Artinya : Dan Al Quran itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian. 
(Q.S Al Isra : 106)


Seringkali kita melupakan waktu untuk membaca al quran. Kita terlalu sibuk dengan urusan dunia sehingga lupa dengan al quran. Padahal dengan membaca al quran kita akan memperoleh banyak sekali nikmat. Sebagai umat yang beriman, hendaknya kita membaca al-quran dengan benar dan memahaminya dengan sepenuh hati kita. Allah SWT berfirman:

الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلَاوَتِهِ أُولَٰئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِ ۗ وَمَنْ يَكْفُرْ بِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ



Artinya : Orang-orang yang telah Kami berikan Al Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya. Dan barangsiapa yang ingkar kepadanya, maka mereka itulah orang-orang yang rugi. (Q.S Al-Baqarah : 121)

Al-quran merupakan pedoman hidup umat manusia. Di dalam al-quran terdapat panduan untuk menjalani  kehidupan di dunia. Rasulullah Saw, bersabda:
“Aku telah meninggalkan pada kamu sekalian dua perkara yang kamu tidak akan sesat selama kamu berpegang teguh kepada keduanya, yaitu kitab Allah (Al-Qur’an) dan sunnah (hadits) Nabi-Nya.” (HR.Malik)

Allah SWT berfirman :
ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ
Artinya : Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa (Q.S Al-baqarah : 2)

Allah SWT berfirman :
هَٰذَا بَلَاغٌ لِلنَّاسِ وَلِيُنْذَرُوا بِهِ وَلِيَعْلَمُوا أَنَّمَا هُوَ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ وَلِيَذَّكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ
Artinya : (Al Quran) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengan-Nya, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran (Q.S Ibrahim : 52)

Apabila kita berpegang teguh kepada al-quran maka kita akan keluar daripada kebodohan menuju kepada pengetahuan. Allah SWT berfiman :
الر ۚ كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَىٰ صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ
Artinya : Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. (Q.S Ibrahim : 1)

Seringkali manusia membaca al quran dengan tergesa-gesa karena ingin cepat menghafalnya. Padahal hal tersebut dilarang oleh Allah SWT. Allah SWT berfirman :

لَا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ
Artinya : Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Quran karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya (Q.S Al-Qiyamah : 16)

Saat malam hari, seringkali kita menghabiskan waktu untuk hal yang kurang bermanfaat seperti menonton acara televisi yang hanya mengandung maksiat. Padahal waktu malam hari tersebut bisa kita gunakan untuk membaca al-quran.
Abu Musa Al Asy’ary radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya aku benar-benar mengetahui suara kelompok orang-orang keturunan Asy’ary dengan bacaan Al Quran, jika mereka memasuki waktu malam dan aku mengenal rumah-rumah mereka dari suara-suara mereka membaca Al Quran pada waktu malam, meskipun sebenarnya aku belum melihat rumah-rumah mereka ketika mereka berdiam (disana) pada siang hari…” (HR. Muslim).

Allah memerintahkan hamba Nya untuk bangun di malah hari dalam keadaan yang sunyi untuk mengerjakan salat dan membaca al quran secara perlahan. Allah SWT berfirman :

يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ (١)قُمِ اللَّيْلَ إِلا قَلِيلا (٢)نِصْفَهُ أَوِ انْقُصْ مِنْهُ قَلِيلا (٣)أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلا (٤)
Artinya : (1) Wahai orang yang berselimut. (2) Bangunlah di malam hari, kecuali sedikit. (3)Seperduanya atau kurangilah daripadanya sedikit. (4) Atau tambah daripadanya, dan bacalah al Quran dengan perlahan-lahan. (Q.S Al Muzzamil : 1-4)

Membaca al-quran tidak hanya sekedar membaca saja, tetapi juga mentaddaburinya. Maksud dari taddabur yakni memahami makna, merenungi dan mengamalkan ayat-ayat al-quran.
Allah SWT berfirman :
كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ
 Artinya : Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran. (Q.S As-shad : 29)

Mereka yang hanya membaca al-quran saja tanpa mentaddaburinya dikatakan memiliki hati yang terkunci sehingga kebenaran yang tekandung dalam ayat al-quran tak bisa masuk kedalam hatinya. Allah SWT berfirman :

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا
Artinya : Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci? (Q.S Muhammad : 24)

Dengan membaca setiap huruf dalam al-quran kita telah mendapat 10 kebaikan. Sungguh nikmat yang telah kita dapatkan hanya dengan membaca al-quran.
“Barang siapa yang membaca satu huruf dari Al-Qur’an maka baginya kebaikan sepuluh kali lipat, aku tidak mengatakan Alif Lam Mim satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, Mim satu huruf.” (Shahih HR.Tirmidzi)
Seorang mukmin yang membaca al-quran dimisalkan dengan buah utrujah yang harum dan manis,
“Perumpamaan seorang mukmin yang membaca Al Qur’an seperti buah utrujah yang memiliki wangi yang sedap dan rasa yang manis. Sedangkan perumpamaan seorang mukmin yang tidak membaca Al Qur’an ibarat buah tamar (kurma) yang tidak memiliki bau namun rasanya manis. Adapun perumpamaan seorang munafiq yang membaca Al Qur’an ibarat buah roihanah yang memiliki wangi yang sedap tapi rasanya pahit. Dan perumpamaan seorang munafiq yang tidak membaca Al Qur’an ibarat buah handzholah yang tidak memiliki bau dan rasanya pahit”. (HR. Muslim, 1896)

Oleh sebab itu,  hendaklah kita meluangkan waktu kita untuk membaca al-quran. Dengan membaca al-quran kita akan memperoleh ketentraman hati, pahala yang berlimpah, mendapat petunjuk untuk setiap permasalahan dan keutamaan lainnya. Lantas masihkah kita malas untuk membaca Al-quran??