Senin, 10 September 2018

Ikhlas


Hasil gambar untuk ikhlas

Ikhlas merupakan perbuatan yang mudah diucapkan tetapi sangat sulit dilakukan. Ikhlas sendiri memiliki makna melakukan segala sesuatu nya tanpa mengharapkan imbalan apa-apa. Salah satu contohnya yakni keikhlasan dalam memberi. Tidak ikhlas namanya jika kita “mengumbar” apa yang telah kita berikan kepada orang lain. Karena sebenarnya, memberi yang demikian itu bermaksud memperoleh pujian atas apa yang diberikanSungguh amat sangat rugi apabila kita termasuk orang yang demikianKarena hanya akan menghapus pahala sedekah yang ia lakukan. Allah SWT berfirman :  
 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تُبْطِلُواْ صَدَقَاتِكُم بِالْمَنِّ وَالأذَى كَالَّذِي يُنفِقُ مَالَهُ رِئَاء النَّاسِ وَلاَ يُؤْمِنُ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْداً لاَّ يَقْدِرُونَ عَلَى شَيْءٍ مِّمَّا كَسَبُواْ وَاللّهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ 
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir . “ (Al Baqarah:264) 
Contoh perilaku ikhlas lainya yakni ikhlas dalam beribadah, maksudnya yakni melakukan ibadah semata-mata mengharap ridho Allah SWT bukan bermaksud riya, dan mendapatkan pujian. Sebab yang demikian itu termasuk kedalam orang-orang yang munafik. Orang munafik melakukan shalat dengan maksud dipuji manusia, dihormati dan dimuliakan dan tidak melakukannya dengan ikhlas karena Allah SWT. firman AllohSWT 
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلا قَلِيلاً 
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut nama Allah kecuali sedikit sekali.” (QS. An-Nisaa’ : 142) 
Setiap perbuatan yang kita lakukan berawal  dari niatOleh sebab itu hendaknya ibadah yang kita lakukan didasari niat semata-mata mencari ridho Allah SWT. Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khottob radiallahuanhu, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda : Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan  sesungguhnya  setiap  orang  (akan dibalas)berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan. 
Tidak ikhlas namanya, jika kita masih merasakan sakit. Rasa sakit yang muncul di hati kita tak lain disebab kan kita tak mampu menerima keadaan yang semestinya. Segala sesuatu yang terjadi adalah atas kehendak Allah SWT. “Manusia boleh berencana, tetapi Allah yang menentukan”. firman Allah: 
وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ 
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216) 
Salah satu contoh sikap ikhlas lainya yakni ikhlas dalam memaafkan. Tidak ikhlas namanya, jika dalam memaafkan kita masih menyimpan dendam. Tidak ikhlas namanya, jika dalam memaafkan kita masih sering mengungkit kesalahan orang tersebut. Firman Allah SWT :  
الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ 
(Orang-orang yang bertakwa adalah) mereka yang menafkahkan (hartanya) baik di waktu lapang maupun sempit dan orang-orang yang menahan amarahnya serta (mudah) memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. [Ali-Imran/3:134] 
Terkadang mulut kita berucap “ikhlas” padahal hati belum tentu demikian. apabila kita merasa ikhlas akan sesuatu, tak perlu kita ucapkan, sebab dikhawatirkan ikhlas tersebut akan menyebabkan riya. Ibnul Qayyimrahimahulloh berkata dalam kitabnya Al-Fawaid, “Ikhlas adalah sesuatu yang mana Malaikat tidak mengetahui sehingga mencatatnya, dan setan sehingga merusaknya dan tidaklah sahabat yang takjub padanya sehingga membatalkan ibadahnya.” 
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam perkara ini mengatakan: “Suatu jenis amalan yang dikerjakan oleh manusia dengan menyempurnakan keikhlasannya dan ketundukkannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, terkadang Allah Subahnahu wa Ta’ala akan mengampuni dosa-dosa besar dengan sebab amalan itu, sebagaimana hadits al-bithaqah (seorang yang memiliki satu kartu Laa ilaaha illa Allah, lalu diampuni dosa-dosanya sebanyak 99 lembaran catatan amal keburukan-red)…ini karena dia mengucapkan Laa ilaaha illa Allah dengan ikhlas dan jujur/benar, karena kalau tidak, maka para pelaku dosa besar yang masuk ke dalam neraka semuanya juga mengucapkan tauhid, tetapi perkataan mereka tidaklah lebih berat terhadap dosa-dosa mereka sebagaimana pemilik kartu (Laa ilaaha illa Allah) itu.” 
Hadits pemilik kartu Laa ilaaha illa Allah itu, adalah sebagai berikut: 
Dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash Radhiyallahu ‘anhu , dia berkata: “Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah akan mengadili salah seorang laki-laki dari ummatku di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat. Lalu ditunjukan kepada laki-laki tersebut 99 catatan (amal keburukan), setiap satu catatan panjangnya sejauh mata memandang. Kemudian dikatakan kepada laki-laki tersebut: ”Apakah kau ingkari dari semua ini (kedzaliman yang telah kau perbuat)? Apakah para malaikat-Ku pencatat dan penjaga amalan menzhalimimu? Laki-laki tersebut menjawab: “Tidak Ya Tuhanku!”. Lalu Allah berkata kepada laki-laki tersebut: “Apakah engkau punya alasan (berbuat kezhaliman itu)? Laki-laki tersebut menjawab: “Tidak Ya Tuhanku!”. Kemudian Allah berkata kepada laki-laki tersebut: “Ya benar, tetapi sesungguhnya engkau memiliki satu kebaikan di sisi Kami, dan sesungguhnya tidak ada kedzaliman atasmu pada hari ini. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mengeluarkan sebuah kartu kecil yang di dalamnya terdapat : Asyhadu an laa ilaaha illa Allah wa asyhadu anna Muhamadan ‘abduhu warasuluhu (Aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya). Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala berkata kepada orang tersebut: “Datangkan timbanganmu”, maka orang tersebut berkata: “Ya Tuhan untuk apa kartu kecil ini dibandingkan dengan catatan (amal keburukan) ini ?”, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala berkata kepada orang tersebut: “Sesungguhnya pada hari ini tiada kedzaliman”. Maka diletakkanlah catatan itu pada salah satu daun timbangan, dan kartu kecil itu diletakan pada satu daun timbangan yang lain. Maka jadi ringanlah catatan-catatan `amal keburukan itu dan beratlah kartu kecil tersebut, maka tiadalah sesuatupun yang menjadi berat dibandingkan dengan nama Allah Subhanahu wa Ta’ala. [HR. At-Tirmidzi dan An-Nasa’i]. 
Iblis berjanji bahwasanya ia akan menyesetkan anak cucu adam di dunia.  Namun, Ikhlas akan membebaskan kita dari kesesatan yang dilakukan oleh iblis, Allah SWT berfirman :  
قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لأزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الأرْضِ وَلأغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ (٣٩) إِلا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ (٤٠) 
Artinya: 
Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya. (15: 39) Kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka." (15: 40) 
]

Rabu, 08 Agustus 2018

Hakikat Sabar



Sabar merupakan kata yang mudah untuk diucap tetapi sulit untuk dilakukan. Namun hanya karena sulit, bukan berarti tak bisa kita lakukan. Apa sih sabar itu? Sabar sendiri memiliki arti menerima dan menahan segala emosi atau lebih mudah nya adalah sikap tidak mengeluh. Mengapa kita harus sabar? Sebab sabar dan sholat merupakan penolong bagi umat muslim untuk mengatasi semua masalah. Allah SWT berfirman :  
وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ 
Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu' (Q.S Al-baqarah : 45) 
Lalu kenapa sih sebenar nya kita sulit untuk sabar? Pertama, salah satu perkara yang menyebabkan sulit nya seseorang untuk bersabar yakni karena sikap suudzon kita terhadap Alllah SWT. Saat kita ditimpa musibah kita mengeluh dan beranggapan bahwa Allah memberikan cobaan kepada kita karena ia tak sayang dengan kita.
 Dari Suhaib r.a., bahwa Rasulullah Sollalohu Allaihi Wassalam bersabda, “Sungguh menakjubkan perkaranya orang yang beriman, karena segala urusannya adalah baik baginya. Dan hal yang demikian itu tidak akan terdapat kecuali hanya pada orang mukmin; yaitu jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan yang terbaik untuknya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan hal terbaik bagi dirinya.” (HR. Muslim) 
Kedua, sikap sabar sulit dilakukan karena kita tidak menyadari bahwa setiap kejahatan yang kita terima akan mendapatkan balasan nyaBegitupun dengan kejahatan yang kita lakukan. Sehingga seringkali ketika kita dihadapkan dengan situasi dimana diri kita disakiti oleh orang lain, bukanya bersabar, kita cenderung ingin membalas dendam. Allah SWT berfirman :  
يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ 
(Luqman berkata): "Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui. (Q.S Luqman : 16) 

Ketiga, sabar sulit dilakukan karena kita tidak menyadari bahwasannya manusia memang diciptakan oleh Allah SWT dalam keadaan susah payah. Sehingga kita seringkali menganggap bahwa diri kita sudah ‘cukup' sabar tapi mengapa masih dihadapkan dengan keadaan yang sulit? Allah SWT berfirman  
لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي كَبَدٍ 
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah. (Q.S Al-balad : 4) 
Sikap sabar sendiri bermacam-macam. Salah satunya adalah sabar ketika disakiti oleh orang lain. Terkadamg ketika kita dizolimi oleh orang lain, muncul sikap ingin membalas perbuatan orang tersebut. Sebenarnya apa yang kita dapat saat membalas perbuatan orang tersebut? Yang kita dapat 2 hal, yakni rasa puas namun tak hanya itu, kita juga akan mendapat kan dosa atas kejahatan yang kita lakukan. Sehingga apabila kita sadar, maka rasa puas itu akan berubahvmenjadi rasa penyesalan. Jadi dapat disimpulkan bahwasanya membalas kejahatan orang lain kepada dirikita dengan kejahatan lagi, hanya akan mendatangkan kerugian bagi diri kita. Lalu bagaimana kah seharusnya kita bersikap saat dihadapkan sengan situasi seperti ini? Jawaban nya yakni bersabar. Allah SWT berfirman : 
"Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan.  Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar." (QS. Fushshilat: 34-35) 
Tak jarang kita berfikir bahawa sikap sabar akan menjadikan derajat kita rendah. Ini adalah pemikiran yang salah. Sebab Allah meninggikan derajat hamba-hambaNya yang bersabar. Allah SWT berfirman : 
أُولَٰئِكَ يُجْزَوْنَ الْغُرْفَةَ بِمَا صَبَرُوا وَيُلَقَّوْنَ فِيهَا تَحِيَّةً وَسَلَامًا 
Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya (Q.S. Furqon : 75) 
Sabar juga bukan berarti kita lemah. Justru mereka yang sabar adalah mereka yang kuat. Mereka kuat menahan amarahnya. Sabar bukan berarti kita kalah, justru sabar itu menjadikan kita menang melawan godaan syaitan untuk membalas dendam. 
‘sabar itu ada batasnya' apakah benar demikian? Mengapa kita memberika batasan kepada sikap sabar, sedangkan pahala yang kita terina dari sabar terebut tidak berbatas? Allah SWT berfirman : 
قُلْ يَا عِبَادِ الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا رَبَّكُمْ ۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗ وَأَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةٌ ۗ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ 
Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu". Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. (Q.S Az-zumar : 10) 
Kemudian apabila sabar menurut kita sudah sampai pada batasnya, lantas apa yang akan kita lakukan? Apakah kita akan kembali menjadi suudzon kepada Allah, kemudian membalaskan dendam kita kepada mereka yang menzalimi kita? Bukan kah itu berarti selama ini kita bukanlah bersikap sabar melainkan “menunggu” waktu yang tepat untuk melakukan pembalasan? Yakni waktu dimana kita anggap kita sudah “cukup” bersabar.  Sehingga apabila kita sudah bersabar namun tetap dihadapkan  dengan ujian, jangan malah menjadikan kita menghilangkan sikap sabar kita. Sebab Allah SWT sedang menguji kita apakah kita termasuk kedalam orang-orang yang senantiasa bersabar. Allah SWT berfiman : 
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّىٰ نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِينَ مِنْكُمْ وَالصَّابِرِينَ وَنَبْلُوَ أَخْبَارَكُمْ 
Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu, dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu. (Q.S Muhammad :31) 




Selasa, 10 Juli 2018


Bercermin Diri

Bercermin diri yang dimaksud kali ini ialah bercermin atas diri kita, untuk mengetahui kekurangan yang ada pada diri kita sehingga kita dapat memperbaikinya. Seringkali manusia lupa akan hal bercermin diri. Mereka sibuk mencari- cari kesalahan orang lain sehingga lupa untuk memperbaiki diri sendiri. Padahal, selagi masih diberi kesempatan oleh Allah SWT, sebaiknya kita gunakan waktu kita di dunia ini untuk memperbaiki diri. Sebab kita tidak akan tahu kapan kematian akan menjemput kita. Allah SWT berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (Q.S Al-Hasyr : 18)
Ingatlah bahwa setiap hal yang kita lakukan di dunia, di akhirat nanti kita akan menerima balasan nya. Jika selama di dunia kita sibuk mencari aib orang lain sedangkan kita lupa untuk memperbaiki diri kita sendiri, maka sungguh celakalah kita di akhirat nanti.  Sebab Allah SWT berfirman :
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ ﴿٧﴾ وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.(Q.S Az-Zalzalah : 7-8)
Dengan introspeksi diri maka kita senantiasa akan berhati-hati dalam bertindak, sebab kita merasa bahwa diri kita tidak cukup baik dalam melaksanakan perintah Allah sehingga memunculkan niat untuk lebih memperbaiki diri lagi dalam nenjalankan perintah-Nya.
“Hitung-hitunglah (amal) diri kalian sebelum kalian dihitung ! Timbanglah (amal) diri kalian sebelum kalian ditimbang ! Perhitungan kalian kelak (di akherat) akan lebih ringan dikarenakan telah kalian perhitungkan diri kalian pada hari ini (di dunia). Berhiaslah (persiapkanlah) diri kalian demi menghadapi hari ditampakkannya amal. Pada hari itu kalian dihadapkan (kepada Rabb kalian), tiada sesuatupun dari keadaan kalian yang tersembunyi (bagi Allah). [HR. At-Tirmidzi].
Setiap manusia dimuka bumi ini tidak ada yang sempurna. Sebab manusia adalah tempatnya dosa. Oleh sebab itu perbanyaklah bertaubat. Mengapa kita sibuk mencari-cari kesalahan orang lain sedangkan kesalahan pada diri kita tidak kita lihat? Ketahuilah bahwasanya Allah sangat menyukai hamba-Nya yang senantiasa bertaubat kepada-Nya
Dari Abu Hamzah Anas bin Malik Al Anshori, pembatu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau berkata bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اللَّهُ أَفْرَحُ بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ مِنْ أَحَدِكُمْ سَقَطَ عَلَى بَعِيرِهِ ، وَقَدْ أَضَلَّهُ فِى أَرْضِ فَلاَةٍ
“Sesungguhnya Allah itu begitu bergembira dengan taubat hamba-Nya melebihi kegembiraan seseorang di antara kalian yang menemukan kembali untanya yang telah hilang di suatu tanah yang luas.” (HR. Bukhari no. 6309 dan Muslim no. 2747).
 Dan jika Allah SWT menghendaki, maka akan diperlihatkan oleh-Nya aib yang ada pada diri seorang hamba agar ia senantiasa bertaubat.

 اِذَا أَرَدَ اللهُ بِعَبْدِهِ خَيْراً فَقَّهَهُ فىِ الدِّيْنِ وَ زَهَّدَهُ فِى الدُّنْيَا وَ بَصَّرَهُ بِعُيُوبِ

Jika Allah SWT menghendaki kebaikan bagi seorang hamba-Nya, maka Dia akan memberi kepandaian dalam agama, menjandikan zuhud di dunia dan memperlihatkan aib-aib (cacat) dirinya. (HR.Abu Na’im)
Untuk apa kita sibuk mencari-cari kesalahan orang lain? Padahal dengan melakukanya, kita tidak akan memperoleh kebaikan melainkan dosa yang akan kita terima. Oleh karena itu hindarilah sikap mencari-cari kesalahan pada orang lain, karena sikap tersebut sama hal nya dengan memakan daging saudara sendiri. Allah SWT berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيم
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (Q.S Al-Hujarat : 12)
Apabila kita ingin agar aib kita terjaga, maka dari itu kita juga harus menjaga aib orang lain. Apabila kita tidak ingin aib kita diperbincangkan, maka dari itu janganlah kita juga memperbincangkan aib orang lain. Sebab apabila kita sibuk mencari-cari aib yang ada pada orang lain, maka Allah SWT tak segan untuk menampilkan aib kita. Apabila Allah SWT telah membuka aib kita, maka tidak akan ada sesuatu apapun yang dapat menutupinya.
Dari sahabat Ibnu Umar radhiyallahu’anhu, bahwa beliau Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
“Wahai sekalian orang yang beriman dengan lisannya yang belum sampai ke dalam hatinya, janganlah kalian mengganggu kaum muslimin, janganlah kalian menjelek-jelekkannya, janganlah kalian mencari-cari aibnya. Barang siapa yang mencari-cari aib saudaranya sesama muslim niscaya Allah akan mencari aibnya. Barang siapa yang Allah mencari aibnya niscaya Allah akan menyingkapnya walaupun di dalam rumahnya,” (H.R. At Tirmidzi dan lainnya).
Bahkan umat muslim pun dilarang untuk membuka aibnya sendiri oleh Allah SWT, terlebih lagi jika ia membongkar aib orang lain. Sungguh perbuatan yang hanya akan mendatangkan dosa. Rasulullah Saw. Beliau bersabda, “Setiap umatku dimaafkan kecuali orang yang terang-terangan (melakukan maksiat). Dan termasuk terang-terangan adalah seseorang yang melakukan perbuatan maksiat di malam hari , kemudian di pagi harinya ia berkata: “Wahai fulan, kemarin aku telah melakukan ini dan itu- padahal Allah telah menutupnya- dan di pagi harinya ia membuka tutupan Allah atas dirinya.” (HR. Bukhari Muslim, — Shahih).
Kita harus menyadari Setiap ucapan, perilaku ataupun perbuatan yang akan kita lakukan diawasi oleh malaikat Raqib dan Atid. Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah mengatakan, “Allâh Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan bahwa Dialah yang menciptakan manusia, baik laki maupun perempuan, Dia Mengetahui keadaan mereka, mengetahui apa yang membuat hati mereka senang dan apa yang dibisikkan oleh hati mereka. Kedekatan-Nya dengan manusia lebih dekat daripada urat lehernya, padahal urat leher ini termasuk anggota tubuh yang paling dekat dari manusia. Yaitu urat yang berada di sekitar lubang tenggorokan. Pemberitahuan Allâh Subhanahu wa Ta’ala ini dapat memotivasi seseorang untuk murâqabah (merasa diawasi) oleh Sang Pencipta, yaitu Dzat yang mengawasi batinnya, yang dekat darinya dalam segala situasi dan kondisi. Hendaklah seseorang malu dilihat oleh Allâh Subhanahu wa Ta’ala jika ia mau melakukan apa yang dilarang dan meninggalkan apa yang diperintahkan. Dan sebelum seseorang mengucapkan atau melakukan kemungkaran atau meninggalkan kewajibannya, hendaklah merasa diawasi oleh malaikat yang berada di sebelah kanan dan kirinya yang siap melaksanakan tugasnya. Di sebelah kanannya adalah malaikat pencatat perkataan dan perbuatan baik, sedangkan di sebelah kirinya adalah malaikat pencatat perkataan dan perbuatan buruk. Tidak ada satu pun perkataan yang terucap, baik perkataan itu baik atau buruk melainkan ada malaikat yang senantiasa mengawasi dan hadir bersamanya untuk mencatat ucapannya tersebut.
 
Allah SWT berfirman :
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.(Q.S Qaf : 18)